One Fine Day in Batam

Sepuas-puasnya menikmati view indah dari beragam spot di Jembatan Barelang, akhirnya saya hanya mampu bertahan nggak lebih dari satu jam. Teriknya matahari Batam yang seolah sekilan di atas kepala, lama-lama membuat kepala saya puyeng sendiri akibat kepanasan. Sampai-sampai menelan ludah saja seretnya nggak keruan, karena tenggorokan ikutan kering kerontang. Setelah rembukan bareng-bareng, akhirnya kami memutuskan untuk menuju destinasi lain di Batam. Sempat terjadi ‘adu kepala’, karena masing-masing punya ide memilih destinasi di Batam selanjutnya.

Saya sih cuma menyimak sambil bergumam dalam hati, “Semoga mimpi kedua saya ikut terwujudkan!”. Saat ada yang mengusulkan ke Nagoya Hill, lagi-lagi saya berdialog dalam hati, “Yah, masa dua kali ke Batam, dua kali juga melihat deretan ruko di Nagoya Hill”. Namun, ketika teman saya bilang ke Batam Center, karena pertimbangan ada lebih banyak spot yang bisa dikunjungi, saya pun langsung jingkrak-jingkrak kegirangan dalam angan! Masih mengundang keraguan, tapi kala mulut saya – yang kadang saya benci karena suka nyeletuk nggak sekehendak hati, bilang, “Aku traktir nonton deh, kalau di Batam Center ada bioskop!”, serentak kecuali saya bilang, “YEIY!”, mengiyakan setuju semua ke Batam Center. Sialan!

Berbeda dengan Balerang yang memang sama-sama nggak tahu, kali ini beberapa di antara rombongan yang ikut mbolang ke Batam, ada yang pernah berkunjung dan pastinya tahu arah jalan menuju Batam Center. Otomatis saya pun harus bilang ke Google Maps!, “Kali ini sampai di sini saja, ya, terimakasih!”. Dari Jembatan Barelang tinggal balik menyusuri Jalan Trans Balerang, melalui Jalan LetJend Suprapto dan Jalan Jend. A. Yani. Karena saya agak ragu dengan daya ingat mereka, akhirnya saya mendadak labil dan memohon bantuan lagi pada Mbah Google Maps!

Mulai saya tarik koordinat dengan lokasi tujuan adalah Masjid Raya Batam. Dari review yang saya baca, masjid termegah se-kota Batam ini berada di satu kompleks Batam Center. Setelah menemukan titik koordinatnya, rupanya dari perempatan Jalan Jenderal Sudirman, tinggal menyusuri Jalan Jend. A. Yani sampai ujung. Sejak di perempatan Jalan Jenderal Sudirman bakal melewati 3 perempatan, namun abaikan saja dan tetap lurus. Hingga perempatan ke-4 di Jalan Engku Putri, tengoklah ke kanan jalan ada Masjid Raya Batam dengan menaranya yang menjulang. Tapi, nggak bisa langsung belok ke masjid, karena perlu putar balik di bundaran Jalan Engku Putri. Baru deh bisa masuk Masjid Raya Batam.

Welcome to Batam’s Sign!

Karena waktu zuhur masih kurang sekitar 30 menit, kami nggak langsung ke masjid. Teman saya malah merekomendasikan ke landmark paling terkenal di pusat Kota Batam. Apalagi kalau bukan tulisan ‘WELCOME TO BATAM’ yang terinsipirasi dari landmark pusat kota Los Angeles, California, ‘HOLLYWOOD’. Baru saja mengeluarkan kamera, belum sempat jepret, sudah dibikin melongo dengan tingkah emak-emak sosialita yang selfie berlama-lama plus menguasai area berfoto. Kelar satu rombongan, giliran bapak-ibu pejabat berpakaian batik ikutan resek selfie berlama-lama mengabaikan saya yang berdiri kepanasan dengan menenteng kamera! Mbokyah kasih kesempatan yang jauh-jauh dari Malang ini!

Mungkin karena lapangan beton yang menjadi spot favorit untuk foto berlatar tulisan ‘WELCOME TO BATAM’ ini memantulkan terik matahari yang panas, lama-lama bapak-ibu yang ke-alay-annya 11:12 dengan ABG tersebut enyah dengan sendirinya. Sontak, saya yang sudah mirip jemuran basah karena berpeluh keringat, langsung menjepret sepuas-puasnya dan secepat-cepatnya mengantisipasi alayers jilid dua, tiga dan seterusnya. Demi dapatkan hasil terbaik, beragam angle pun saya bidik, sampai dibelain ndlosor-ndlosor segala.

No Sarung Inside Mosque!

Kebetulan pas jeprat-jepret saya kelar, suara azan zuhur dari menara Masjid Raya Batam berkumandang. Kebetulan lagi, nggak jauh dari lokasi saya membidik landmark kota Batam, ada orang jualan Es Cincau. Serunya, yang jualan orang Jawa, jadi kami sempat bersenda gurau menggunakan Bahasa Jawa! Baru setelahnya kami bergegas ke masjid. Nggak seperti kebanyakan masjid yang berkubah, bagian atap Masjid Raya Batam justru berbentuk limas segi-empat serupa piramida. Tepat di sampingnya berdiri terpisah menara masjid yang nggak kalah unik bentuknya setinggi 66 meter.

DSC03320.JPG

Meski kece abis, tempat ibadat segede Masjid Raya Batam nggak menyediakan sarung untuk salat! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Saya akui arsitektur outdoor maupun indoor masjid ini sangat indah. Pemilihan bahan marmer sebagai lantainya, membuat suasana dingin begitu terasa, kontras dengan hawa panas di Batam yang menyengat ubun-ubun. Tapi, kekaguman saya sedikit tergores kelimpungan tatkala masjid segede ini nggak menyediakan sarung. Bukan salah takmirnya pula sih nggak menyediakan sarung. Saya-nya saja yang nggak cepat memahami kondisi. Muslim Melayu sangat tabu mengenakan sarung untuk salat apalagi jalan-jalan keluar.

Mereka menganggap sarung sebagai sandangan untuk melakukan hubungan suami-istri, sehingga saat saya menanyakan sarung ke takmir, si takmirnya langsung melotot. Begonya, saya melotot balik karena nggak bisa mencerna ketabuan si takmir. Sebagai ganti ketiadaan sarung, masjid justru menyediakan jubah untuk salat. Jadilah dandanan saya mendadak ala bangsawan Timur Tengah yang mengenakan dishdasha atau jubah putih panjang menjuntai, tanpa Shemagh dan Igal (kain penutup kepala khas Arab berbentuk persegi motif kotak-kotak putih-merah dan tali kepala warna hitam).

DSC03331

Interior Masjid Raya Batam. Sekalinya masuk sini, saya (kudu) salat pakai jubah! Truly, it was an unforgettable day! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Meski jamaah seisi masjid nggak menatap saya aneh, tapi pas salat seolah dari segala penjuru menatap saya sambil tertawa cekikikan. Haish! Salat pun jadi nggak tenang. Duh Gusti, mugi Panjenengan maklumi lan nerami ibadat kulo! (Ya Tuhan, semoga Engkau memaklumi dan menerima ibadat saya!) Pelajaran yang bisa dipetik: bila seorang Muslim, bawalah sarung sendiri untuk keperluan salat saat plesir ke Batam atau lebih amannya pakai celana panjang. Catet!

Ujung-ujungnya Nge-mall!

Usai salat zuhur, mata saya tertuju dengan beragam bangunan yang ada di kompleks Batam Center. Nggak jauh dari Masjid Raya Batam, terdapat kompleks gedung-gedung perkantoran pemerintah Kota Batam. Dari semua gedung, yang paling ikonik adalah gedung Wali Kota Batam yang tampak modern. Di dekatnya terdapat Astaka MTQ Nasional ke-XXV di Dataran Engku Putri, Batam Center. Sekadar informasi, kompleks bangunan yang mengadopsi rancang bangun, khususnya bagian kubah yang mirip Raudah (kubah hijau) Masjid Nabawi Madinah ini merupakan venue perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) – semacam seni baca alQuran atau qiraah dengan lantunan nada yang telah disesuaikan, tahun 2014 silam. Kompleks ini memiliki 3 pintu gerbang dan menara kembar gerbang selatannya terlihat jelas dari Masjid Raya Batam.

DSC03342

Kantor Wali Kota Batam dan menara kembar Astaka MTQ Dataran Engku Putri menjadi landmark Batam Center selain Masjid Raya Batam [Fotografer: Iwan Tantomi]

Kawasan di jalan Engku Putri boleh dibilang Central Business District-nya Batam. Ada banyak gedung perkantoran yang nggak kalah jangkungnya dengan Jakarta, termasuk mall. Teringat tawaran traktiran nonton, teman-teman akhirnya menggiring saya ke Mega Mall Batam Center. Selain ukurannya yang lumayan gede, kenyataan pahit melihat bioskop di sini ternyata XXI membuat saya bergidik. Dalam hati saya berdialog, “Buset, kalo jadi beneran traktir selusin orang nonton di XXI, apa kabarnya kehidupan gue yang masih 5 hari lagi di Bintan?”.

Herannya, hal yang sempat mengernyitkan kening tersebut nggak benar-benar kejadian. Entah sebuah keberuntungan atau bukan, yang jelas kali pertama masuk mall, kami langsung hilang, mencar muterin mall 4 lantai ini sendiri-sendiri. Bahkan, saat saya sudah beneran di depan XXI, cuma satu orang yang bareng sama saya. Sampai akhirnya saya menawarkan diganti makan saja, mereka nurut sih, tapi, ya, begitu selama hampir sejaman nggak kumpul-kumpul. Ada yang shopping bajulah, sepatulah dan lain-lain. Lama-lama saya bosan sendiri dan capek mencari mereka, hingga akhirnya berhenti di toko merchandise, beli deh sedikit oleh-oleh khas Batam.

DSCN1662.JPG

Karena lagi Natal-an, pernik di Mega Mall Batam Center bertaburan bintang dan berhamburan diskon, hingga bikin rekan mbolang saya yang tadinya ngirit jadi bablas gesek kartu debit. Halah! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Setelah kaki saya gempor naik-turun eskalator dan balik lagi ke basement dengan niatan menanti mereka di pintu keluar-masuk mall, eh, lha kok langsung balik ketemu, lengkap lagi personelnya! Beginilah jadinya kalau masuk mall bareng manusia yang doyan shopping, habis ngilang nongol-nongol bawa belanjaan. Selain sebagai ikon belanja, mall di Batam juga menjadi ikon kemajemukan penduduknya. Saya pikir dengan banyaknya bangunan bernuansakan Islam, dandanan pengunjung mall-nya syariat banget. Nggak tahunya, baik yang Islam maupun bukan, Melayu, Tionghoa, Jawa hingga India, tumplek blek membaur dalam mall. Bahkan, pengunjung berpakaian ngirit seperti yang gampang ditemui di mall-mall Jakarta, juga bisa dijumpai dengan mudah di Mega Mall Batam Center.

Kelamaan ngemall tahu-tahu sudah mau asar, kami pun akhirnya bergegas balik ke Pelabuhan Telaga Punggur, agar nggak ketinggalan kapal terakhir menuju Bintan. Gelak tawa selama perjalanan pun nggak bisa terlepaskan hingga kami berada di kapal RoRo. Kendati plesir saya ke Batam kali ini lebih singkat, nggak lebih dari 9 jam, saya cukup senang karena mimpi untuk melihat langsung Jembatan Balerang dan foto berlatar tulisan ‘WELCOME TO BATAM’ akhirnya terkabulkan. Yang nggak kalah penting, mbolang singkat saya ke Batam kali ini benar-benar menambah banyak cerita, banyak pengalaman dan pastinya banyak kenalan!

IMG_8550.JPG

Pertemuan 9 jam bareng mereka di Batam bikin perjalanan saya penuh cerita, kenangan dan pastinya menambah daftar kenalan. Ugh, jadi rindu deh! [Hak Milik Foto: Widyuta]

Sekembalinya di Tanjung Uban, saya menunaikan janji mentraktir mereka. Bukan di XXI sih, bukan restoran mahal pula. Tapi di warung sederhana pilihan mereka. Duh, pokoknya mereka pengertian banget deh dengan traveling budget saya! Meski hanya jamuan sederhana, paling nggak pertemuan singkat ini bisa memberikan kenangan sekaligus selipan kegembiraan buat mereka yang sedang menjalankan sebuah pengabdian. Oh, Guys, all you had made my journey more meaningful than I guessed. Proud of you and I thankful I could have met some heroes of SM-3T. It was a one fine day, indeed. Contrary to popular believe, traveling alone to Batam isn’t that bad, after all.


Terimakasih sudah mengikuti sekuel perjalanan saya di Batam 🙂

sekuel 1: Hello (Again) Batam! | sekuel 2: Find Balerang, Help Me Google Maps! | sekuel 3: One Fine Day in Batam

Find Barelang, Help Me Google Maps!

DSCN1678-001.JPG

Loket karcis pelabuhan Telaga Punggur Batam [Fotografer: Iwan Tantomi]

Hampir sejaman berlayar dari Bintan, akhirnya Kapal RoRo yang saya tumpangi berlabuh juga di Pelabuhan Telaga Punggur Batam. Ini adalah pengalaman pertama saya masuk Batam lewat pelabuhan, karena yang sebelumnya dari Bandara Juanda Surabaya langsung cus ke Bandara Hang Nadim Batam. Jika sebelumnya saya ke Batam agak ekslusif karena memang undangan event, kali ini saya benar-benar mbolang dengan uang seadanya dan rute perjalanan nunut sesampainya.

Serunya, saya nggak bareng satu, dua atau tiga orang teman, tapi ramai-ramai. Mereka adalah teman-teman SM3T yang kebetulan sedang liburan sekolah, terus ikut gabung keluyuran ke Batam. Sedangkan lucunya, kami baru saling kenal di dermaga pelabuhan, waktu itu juga!

Melipir ke Warung Padang

Karena berangkatnya kepagian (untuk ukuran orang Bintan, jam 5.30 masih dianggap pagi buta, karena matahari memang baru melipir ke atas sekitar 7.30-an), kami sama-sama nggak sempat sarapan. Biar mbolangnya lancar, akhirnya dari pelabuhan diputuskan mencari warung makan (termurah)! Di sinilah saya mulai tersenyum lega, karena dipertemukan dengan selusin orang yang ternyata nggak rewel soal makan, dan yang paling penting kami punya kemiripan: sama-sama ngirit pas lagi keluyuran! Buktinya? Rumah Makan Padang dekat jalan akhirnya jadi jujukan untuk sarapan!

DSC03233.JPG

Warung Padang nggak jauh dari Pelabuhan Telaga Punggur, recommended banget bagi yang doyan makan, tapi irit pengeluaran! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Kata teman saya, sih, murah, tapi saya agak sangsi mengingat di Jawa, semurah-murahnya masakan Padang, masih jauh lebih murah Warteg atau Pecel Pincuk Blitar! Tapi saya tahu batasanlah, masa saking ngiritnya, makan di Warung Padang aja perhitungan? Tak berselang lama, sepiring nasi, ikan laut bumbu kuning khas Padang dan sayur nangka muda bumbu rendang plus sambal hijau mampir di hadapan saya. Rupanya, Nasi Padang ala Batam menanggalkan daun singkong. Soal rasa, sebandinglah dengan harga murah yang ditawarkan, tapi soal porsi recommended deh untuk ngobatin perut keroncongan.

Karena saya selalu meyakini ‘beda daerah beda budaya beda pula makanannya’, di Warung Padang ini pula saya mulai melihat perbedaan. Pertama adalah teko plastik yang mirip teko jin warna keemasan berisikan air putih, hampir menghiasi setiap meja. Saya pikir itu teko air minum, tapi kok nggak ada gelasnya. Malah di bawah tekonya ada semacam wadah serupa panci rice-cooker berwarna senada. Nggak tahunya, itu teko untuk cuci tangan!

DSC03239

Teko Jin [Fotografer: Iwan Tantomi]

Bisa dibilang meletakkan ‘teko kobokan’ di meja ini bagian dari tradisi Melayu, agar selalu mencuci tangan dan membasahi piring setelah makan. Tujuannya agar rezekinya nggak kering atau seret. Untung niatan saya untuk meneguk air di teko tersebut karena haus akibat panasnya udara Batam, berhasil saya urungkan. Jika tidak, apa kata orang sekitar yang melihat saya minum air kobokan?

Hal berbeda lainnya yang bahkan langsung saya terima keanehannya adalah saat memesan air minum. Dengan pedenya saya melontarkan jawaban saat ditanya pelayan minumnya apa, “Es Jeruk satu!”. Bukannya langsung balik ke dapur dan membuatkan minuman yang saya pesan, eh, si pelayan malah bengong!

Saya baru paham, setelah teman saya menimpali, bila ada perbedaan penyebutan dalam bahasa Melayu. Aturannya begini:

Es Jeruk (asli) disebut Air Jeruk Dingin | Es Jeruk (sirup) disebut Air Asam Dingin | Es Teh disebut Teh Obeng | Teh Hangat disebut Teh O | Es Batu disebut Batu Es | Air Putih dan Es Batu doang disebut Air Kosong | Jeruk Hangat disebut Air Asam atau Jeruk Hangat.

Karena waktu itu masih loading, ujung-ujungnya bilang, “Sembarangan wes, ya, itu aja”, pada teman saya yang balik bertanya mau pesan minum apa. Jadilah es nutrisari hadir di depan saya. Owh, begini toh rupa Air Asam?!

Google Maps! We Need You!

Setelah perut terasa kenyang dan ngobrol ke sana-kemari sudah dirasa cukup untuk modal saling kenal, barulah saling bertanya, “Ini mau ke mana?!”. Sebelum saya menyebut ke Balerang, teman saya sudah lebih dulu menyebutnya. Nah, yang jadi masalah sekarang, dari selusin orang yang ada, belum pernah ada yang ke sana dan dipastikan nggak tahu arah jalan menuju Jembatan Balerang – yang ikonik jadi gantungan kunci oleh-oleh khas Batam itu. Di kala saling diam berpikir, tiba-tiba otak saya agak cemerlang dikit dan mencetuskan ide memanfaatkan GPS via Google Maps!

Saya pikir, dengan selusin orang, bakal panjang mikirnya karena kebanyakan ‘otak’, terlebih saya punya pengalaman menyebalkan kala mbolang 3 orang yang keukeuh dengan idenya masing-masing, gimana dengan 12 orang coba? Nggak tahunya, semua pada manut dan nurut untuk ikutan percaya dengan saya mengikuti arahan Mbah Google! Setelah smartphone saya utek-utek, ketemulah titik koordinat di mana Jembatan Barelang berada. Kemudian, saya tarik rute dari posisi saya berada, ketemulah waktu tempuh sekitar 39 menit menuju sana.

DSC03266

Jembatan Barelang yang saya impi-impikan akhirnya kenyataan! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Dengan setengah nggak yakin, saya coba meyakinkan mereka, kami pun berjalan dengan tengok kanan-kiri, cepat saat jalan lurus, dan lambat saat ada pertigaan maupun perempatan. Maklum, si Mbah Google kan sering kasih informasi mendadak saat belok. Apalagi tahu jalan yang kami lewati adalah jalan protokol Batam, kami lebih berhati-hati, agar nggak salah berhenti maupun ngacir jalan berlawanan arah di jalan searah!

Rupanya dari arah Pelabuhan Telaga Punggur tinggal menyusuri Jalan Pattimura lurus searah ke Jalan Hasanuddin, berlanjut lurus lagi searah ke Jalan Jenderal Sudirman hingga di perempatan lampu merah dekat Carrefour Batam Muka Kuning, belok kiri menuju Jalan Jenderal A. Yani lurus searah melewati Jalan LetJend Suprapto hingga pertigaan belok kiri ke arah Jalan Trans Barelang. Tinggal lurus sekitar 15-20 menit, tampaklah kepala tiang Jembatan Barelang! Dengan kondisi jalan yang nggak begitu padat dan lancar estimasi waktu yang diberikan Google Maps cukup akurat.

Rute tersebut sebagian besar wilayah kota dan hanya butuh dua kali belokan, jadi nggak perlu khawatir tersesat. Jembatan Barelang menghubungkan 6 pulau sekaligus, yaitu Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru. Nama BARELANG sendiri akronim dari BAtam, REmpang dan gaLANG. Dari ke-6 jembatan, jembatan pertama yang punya nama lengkap Jembatan Tengku Fisabilillah adalah yang paling besar dan ikonik. Sementara, view terbaik untuk melihat jembatan pertama adalah jembatan ke-2 di Pulau Tonton.

DSC03265.JPG

Jembatan Balerang ke-1 dilihat dari Jembatan ke-2 di Pulau Tonton. Suer! View-nya caem euy! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Setelah mengendap cukup lama, akhirnya mimpi melihat langsung jembatan yang diprakarsai Pak Habibie dan dirancang murni oleh insinyur hebat Indonesia ini, terwujudkan dengan bantuan Google Maps! Saya pun nggak berhenti untuk kagum dan menikmati panoramanya, meski terik matahari membakar ubun-ubun dan orang lokal di dekat saya sempat nyinyir, “Jembatan gini aja kok dikunjungi, Mas!”, kala memastikan apakah jembatan yang sedang saya lihat, Barelang atau bukan. Dalam hati, saya menimpali, “Yeee, biasa aja kali, Pak! Namanya juga wisatawan!”.

IMG_8488.JPG

Wajah-wajah irit duit lagi buktiin jika jembatan di belakangnya adalah Jembatan Balerang asli bukan tiruan [Hak Milik Foto: Widyuta]

Namun, keaslian jembatan ini benar-benar terbukti, saat di ujung jembatan dari arah Batam, terdapat semacam monumen bertuliskan BARELANG BRIDGE! Di sanalah spot terbaik untuk foto-foto. Leganya!


Bersambung ke One Fine Day in Batam

Hello (Again) Batam!

DSC03218-002.JPG

Hello (Again) Batam! – Dermaga Telaga Punggur Batam [Fotografer: Iwan Tantomi]

Perhaps you will think why I (have to) put ‘again’ between two words or why I (must) write like that? If you guess it’s just an art of writing, I give you my honest smile, but if you can think more till have a question like what I wrote, I will be keen to give you two thumbs up!

Anyway, penambahan kata ‘again’ yang kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia bermakna ‘lagi’, memang bukan tanpa alasan. Batam sebagai salah satu magnet belanja barang murah memang telah saya sapa untuk ke dua kalinya. Masih dengan perjalanan saya di Bintan. Setelah muter-muter ke beberapa daerah yang teramat amazing, teman saya memutuskan untuk mengajak menyeberang ke Batam. Jika dilihat di peta jarak Bintan dan Batam memang cukup berdekatan, sehingga disayangkan juga jika sudah sampai di Bintan tapi nggak mampir ke Batam.

Saya memang sempat bikin list beberapa lokasi di Batam dalam itinerary. Tapi, itu saya anggap opsional atau sunnah, karena wajibnya adalah Bintan! Lagipula, seperti yang saya bilang sebelumnya, saya sudah pernah ke Batam, walau nggak bisa saya bilang sepenuhnya ‘saya sudah menjelajahi Batam’ karena kenyataannya waktu itu hanya muter-muter doang di Nagoya Hill dan Ocarina! Itupun hanya bonus dari sebuah event yang kebetulan dilaksanakan di Batam.

Alasan ke dua, kenapa saya nggak memprioritaskan Batam, karena faktor duit! Biaya hidup yang cenderung mahal dan ingar-bingar perkotaan yang buat saya pribadi sudah terlalu membosankan, sementara ongkos traveling (baca: jalan-jalan gembel) yang pas-pasan, bikin saya nggak lagi selera ke Batam. Ada sih pantai, tapi saya mempertimbangkannya cukup matang, mengingat Minggu ke Tiga di bulan Desember adalah libur panjang Natal dan Maulid Nabi yang kebetulan barengan. Bisa dipastikan Batam yang sudah terkenal, bakal dibanjiri lautan manusia yang ingin liburan. Dan… itu bukan momen yang saya idamkan!

Jauh-jauh dari Malang, saya hanya ingin menikmati pantai yang masih alami dan pastinya nggak terlalu ramai, syukur-syukur sepi. Karena itulah hakekat liburan, mencari ketenangan dan kembali menikmati alam. Daripada Batam, Bintan-lah yang menurut saya paling cocok dengan suguhan alam yang saya harapkan. Tapi, jika memang ada tawaran ke Batam, saya iyakan aja sih, asal destinasinya ke Batam Center dan Balerang Bridge. Dua ikon kondang  yang nggak kesampaian pas saya lagi di Batam sebelumnya dan ingin saya wujudkan mumpung ada di Bintan, misalnya.

I still don’t believe My Optional Dreams will Come True

Mungkin setelah saya bercerita panjang lebar ingin ke Balerang dan kebetulan teman saya yang di Bintan juga belum pernah ke sana, akhirnya kami benar-benar memutuskan ke Batam. Sambil cengar-cengir, saya masih nggak percaya mimpi yang tadinya hanya saya angankan sebentar lagi kenyataan. Whoa! Mengawali perjalanan, kami berangkat dari Busung menuju Tanjung Uban. Karena mengejar kapal Roll On Roll Off (RoRo) keberangkatan 6.30 pagi, kami sengaja berangkat pagi-pagi sekali. Dengan kecepatan 60-80 km/jam dalam kurun waktu 30 menit akhirnya tiba di Pelabuhan Tanjung Uban.

DSCN1734-001.JPG

Tanjung Uban baru kelihatan cantik saat dilihat dari kapal RoRo [Fotografer: Iwan Tantomi]

Sekadar info, Tanjung Uban atau masyarakat Bintan biasa menyebutnya Uban saja, merupakan Kota Kecamatan di wilayah Bintan Utara. Bisa dibilang Tanjung Uban adalah pusat perekonomian masyarakat terbesar ke dua di Bintan setelah Tanjung Pinang. Di sana banyak dijumpai fasilitas publik yang cukup lengkap, seperti ATM, bank, toko pakaian, furnitur, otomotif, elektronik hingga kafe lumayan bertebaran. Meski landmark kotanya hanya berhiaskan ruko 2-3 lantai yang nggak begitu panjang layaknya di Kijang Kota apalagi Nagoya Hill Batam, tapi cukup mampu menjadi magnet perekonomian, khususnya di wilayah Bintan bagian Utara.

Selain karena infrastruktur yang memadai, Tanjung Uban cukup dikenal karena menjadi gerbang penyeberangan dari Bintan ke Batam, hingga ke mancanegara, seperti ke Malaysia dan Singapura. Tujuan kami ke Uban sebenarnya hanya lewat saja untuk menuju ke pelabuhan. Tapi, jujur, baru di Uban-lah saya menjumpai SPBU sungguhan – bukan SPBU mini ala pertamini yang kerap saya jumpai di Busung dan daerah lain di Bintan.

DSCN1680-001.JPG

Meski tampilannya nggak meyakinkan, Kapal RoRo ini sudah berjasa banget nganterin penumpang bolak-balik seliweran Bintan-Batam [Fotografer: Iwan Tantomi]

Sesampainya di pelabuhan, kami nggak langsung bisa naik kapal. Perlu beli karcis di loket yang sekilas saya lihat mirip pos ronda atau siskamling. Tiket atau karcis kapal RoRo dibedakan menjadi 2, yaitu tiket berdasarkan penumpang dan kendaraan. Penumpang dewasa ditarif Rp 20 ribu, sedangkan anak-anak Rp 15 ribu. Sementara tarif kendaraan dibuat seperti tarif tol dengan beberapa golongan. Paling murah golongan 1, mungkin untuk sepeda motor, dikenai Rp 16 ribu. Dan yang paling mahal golongan 8, mungkin untuk kendaraan barang ditarif hingga Rp 1 jutaan. Yang jelas nggak ada keterangan yang bisa menjelaskan masing-masing golongan tersebut.

Seriously, That Awkward Moment!

Setelah karcis didapat, kami pun langsung masuk kapal RoRo. Layaknya kapal feri, kapal RoRo dilengkapi pintu rampa yang berada di bagian haluan dan buritan kapal. Selama pelayaran, bunker kapal berubah jadi tempat parkir kendaraan, mulai motor hingga truk barang yang akan ke Batam. Tepat di atasnya terdapat anjungan yang difungsikan sebagai kabin baik untuk awak dan penumpang. Fasilitas di anjungan cukup lengkap, selain kafetaria, juga ada kamar mandi, WC, musala hingga barak untuk leyeh-leyeh juga ada. Setelah klakson kapal memekakkan telinga, perlahan kapal mulai berlayar menjauhi Tanjung Uban.

DSC03177

Suasana kabin penumpang: mulai bapak-ibu, kakek-nenek, muda-mudi hingga anak-anak kompak banget nyanyiin lagu Melayu! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Nggak kalah dengan pesiar, setelah (menemukan) tempat duduk dalam kabin, saya langsung duduk manis menikmati pemandangan plus membiarkan telinga saya dirasuki alunan musik yang kedengarannya nggak klop dengan masa sekarang. Boro-boro ada Taylor Swift, sekeren Raisa dan Isyana Sarasvati yang (kayak) dikenal manusia seantero Indonesia saja nggak ada yang keputer lagunya. Lha, terus? Tahu sendiri, mayoritas penduduk Provinsi Kepulauan Riau adalah suku Melayu, otomatis lagunya juga Melayu. Nah, lagu Melayu-nya juga bukan yang masa kini, tapi seperti Isabella-nya Ami Search, Sinaran-nya Sheila Majid, Cindai-nya Siti Nurhaliza, Kanton-nya Zee Avi, yang memang booming era 90-an.

DSC03172

Bahkan, mas pakai kaos AREMA sekalipun ikutan heboh nyanyi lagi Melayu. Alamak! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Ada sih band Indonesia, tapi, ya, yang diputar band-band yang sudah UZUR hingga nggak jelas keberadaannya, semacam Dadali Band, ST12, T2, dan Kangen Band. Yang terakhir saya sebutin, bikin saya keselek pas minum, kala VCD Player yang diputar menampilkan sosok vokalisnya dengan potongan rambut ikonis di layar TV yang kebetulan saya lihat! Mentok-mentok yang paling anyar adalah Selimut Tetangga miliknya Repvblik, itupun baru tahu setelah 3 kali diputar selama pelayaran!

Meski bagi saya dan mungkin kebanyakan kawula muda masa kini, lagu-lagu Melayu, selain Selimut Tetangga ini, sudah old-school banget, tapi bagi sebagian besar penumpang kapal RoRo adalah kekinian. Sebagai bukti, mulai nenek yang giginya tak lengkap, kakek-kakek yang gelundungan di barak, ibu menyusui, bapak tentara, bapak yang pakai kaus AREMA, mas-mas kasir kafetaria, segerombolan ABG alay, hingga anak-anak kecil usia SD, hafal total dan nyanyi bareng. Bener-bener, bikin saya tertawa garing melihat ke-absurd-an ini!

Demi mengalihkan perhatian saya dari awkward moment tersebut, saya memilih duduk di pinggiran kapal sambil menyaksikan dermaga, rumah apung dan kapal-kapal cantik sejak dari Tanjung Uban. Bahkan, dari atas kapal RoRo saya baru ngeh kenapa Tanjung Uban sering disebut kota pelabuhan. Karena ‘wajahnya’ memang baru tampak jika dilihat dari arah lautan, kota pelabuhan yang cantik dengan dermaga warna-warni. Dari semua kapal yang saya amati, ada satu kapal yang membuat nasionalisme saya serasa memuncak dan tersenyum bangga melihatnya. Kapal yang dinding lambungnya bertuliskan ‘WE LOVE INDONESIA’. Ah, cantiknya Indonesia-ku!

Setelah 55 menit berlalu kapal RoRo yang saya naiki mengarungi selat pemisah Pulau Bintan dan Batam, saya mulai melihat kapal-kapal besar, seperti kapal kargo, kontainer, tanker, tongkang hingga floating production bertebaran mendekati sebuah dermaga besar yang tampak modern. Whoa! There’s a Telaga Punggur’s harbour in front of me! Batam… Hello Again!


Bersambung ke Find Balerang, Help Me Google Maps!