Visit Tidore Island – Sebuah Kontribusi Kenalkan Tidore untuk Indonesia 

16789498_396756400684940_3054057927431159808_n

Pasiar Tidore, Pesona Pulau Rempah [Foto:  Instagram.com/visit.tidoreisland]

“Tom, kamu enggak mau ikutan lomba blog Visit Tidore Island?”

Salah seorang teman bertanya saat kami mengobrol santai di sebuah kafe di sudut kota Malang. Jujur, bukan saya tak mau berpartisipasi, tetapi saya selalu sangsi menulis cerita jika sekadar berdasarkan literasi, atau sebelum menyaksikan dan mengalaminya sendiri.

Sementara untuk lomba blog Visit Tidore Island, sebenarnya saya sudah tahu infonya sejak lama dari twitter mbak Katerina (@Travelerien). Kebetulan kami saling follow. Atau, lebih tepatnya saya beruntung di-follow dia. Rekam jejaknya sebagai penulis perjalanan (travel writer) sering saya jumpai. Bukan saja lewat blog pribadinya, melainkan pernah saya baca di majalah Colours edisi Desember 2016 dalam penerbangan Surabaya ke Makassar. Kalau tidak salah, tentang Lampung topiknya.

Mbak Katerina menulis keindahan alam Lampung secara detail dan hidup. Boleh dibilang, itu bisa terjadi karena ia sudah mengalami dan menyaksikannya sendiri. Dari tulisan mbak Katerina, lantas saya semakin meyakini bila cerita menarik lebih mudah terbentuk dari pengalaman yang pernah dilalui.

Ingin rasanya saya menulis Tidore untuk Indonesia secara mendalam dan hidup sebagaimana yang mbak Katerina lakukan. Apa daya, belum pernah sekalipun kaki saya menjejak di pulau yang tergambar di mata uang seribu Rupiah, bersama pulau Maitara ini.

Literasi tentang Tidore mungkin sudah mulai hadir di pelbagai buku, platform media, dan blog-blog para peserta kompetisi menulis Visit Tidore Island. Berkat tulisan mereka – yang mayoritas bersumber dari literasi serupa, saya jadi paham sejarah, wisata alam, budaya hingga kuliner Tidore.

Jika saya tulis kembali untuk bahan lomba blog, mungkin larinya tak jauh beda dengan yang sudah mereka tuliskan. Sekali lagi, saya tak kuasa jika sekadar menyadur literasi belaka untuk bercerita. Demi mematangkan pemahaman, saya lantas membaca juga blog pribadi milik Sofyan Daud. Dalam tulisan berjudul Tidore dan Khazanahnya, saya bisa membayangkan bagaimana indahnya Tidore.

Pak Sofyan yang tak lain Budayawan Maluku Utara, mendeskripsikan Tidore begitu detail. Entah berapa kali kata ‘indah’ disebutkannya. Bahkan ungkapan Tidore dan pulau lainnya di laut Halmahera bak jejumput tanah surga yang ditaburkan tangan-tangan malaikat, lugas ia sematkan dalam tulisan. Tidak berlebihan, karena saya yakin Pak Sofyan menuliskannya berdasarkan apa yang ia lihat, alami dan rasakan sendiri di Tidore.

Meski begitu, tidaklah mudah menulis cerita secara detail dan hidup layaknya Pak Sofyan dan Mbak Katarina, jika hanya mengandalkan literasi belaka. Padahal ada banyak pesona Tidore yang ingin saya tuliskan.

Mulai keindahan wisata alam Tidore yang dikelilingi beberapa gugus pulau yang laik dikunjungi, seperti Pulau Failonga, Mare dan Maitara. Kemudian keelokan wisata alam air terjun Luku Celeng, Teluk Guraping, desa wisata Gurabunga dan Wisata Alam Tayami. Tidak ketinggalan, pesona air terjun Sigela, pantai Rum, dataran tinggi dan ekowisata Kalaodi, hingga sekadar menikmati segarnya mandi di sumber air panas Akesahu.

Semua ingin saya ceritakan berdasarkan pengalaman. Bukan sekadar angan dari beberapa sumber bacaan. Khawatirnya jika hal tersebut nekad saya lakukan, ada ketidaksesuaian antara teori dengan fakta di lapangan.

Lebih dalam, saya juga ingin menulis Tidore dari sudut pandang sejarahnya. Lagi-lagi saya tak ingin menyuguhi pembaca picisan semata. Sebaliknya, saya ingin menulis indahnya wisata sejarah di Tidore lengkap dengan foto Monumen Tugu Pendaratan Spanyol, Benteng Tahula, dan Benteng Torre yang begitu masyhur.

Tak sampai di sana, saya juga ingin menulis kesultanan Tidore lengkap dengan bukti sejarahnya, seperti bangunan keraton Kadato Kie, masjid Kesultanan Sigi Kolano, sampai museum Sonyinge Malige dan Dermaga Kesultanan yang sarat histori.

Belum lagi ditambah wisata budaya Tidore yang begitu kaya. Begitu hambar menulisnya jika tidak pernah langsung menyaksikannya. Merasakan sendiri magisnya Baramasuwen atau atraksi Bambu Gila, mengamati gelak tawa dan keceriaan anak-anak Tidore saat menarikan Soya-Soya, atau meresapi hangatnya sambutan masyarakat Tidore kepada tamu lewat Tarian Barakati.

Itulah yang terbayang di benak. Namun, bagaimana lagi, untuk bisa memperoleh kesempatan ke Tidore, saya harus tetap menulis di blog tentang Visit Tidore Island, Tidore untuk Indonesia supaya bisa diseleksi. Lama saya berpikir, kira-kira apa yang sepatutnya saya tulis guna meyakinkan juri. Sampai akhirnya sebuah kata terlintas begitu saja: kontribusi.

Andai saya diberi kesempatan untuk pergi ke Tidore lewat lomba blog Visit Tidore Island – Tidore untuk Indonesia ini, berikut kontribusi yang akan saya berikan.

1) Menulis Cerita Menarik Lengkap Foto Berkualitas

Bukan hanya satu artikel, bahkan saya dengan suka rela akan membuat cerita yang menarik dan hidup seperti Mbak Katerina dan Pak Sofyan dengan beberapa topik berbeda, seperti wisata kuliner, wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, maupun acara menarik lainnya yang dihelat dalam Festival Tidore 909 sebagai bagian dari peringatan usia Kesultanan Tidore yang hampir memasuki satu milenium. Termasuk  Pelayaran Ritual Adat Lufu Kie yang kaya nilai sejarah.

A post shared by 5 mstf 🕷 (@dhe_gea) on

Supaya lebih hidup, foto-foto setiap momen acara hasil bidikan kamera sendiri, tak lagi menggunakan foto orang lain yang kadang tuai pro dan kontra, akan saya sematkan dalam tulisan. Beberapa kamera bakal saya bawa sebagai wujud keseriusan dan minat saya di bidang fotografi. Selain foto, saya juga akan mengabadikannya dalam bentuk video.

Guna mempertajam khazanah tulisan, setiap bertemu tokoh adat maupun pemerhati budaya Maluku Utara, seperti Pak Sofyan, tak luput akan saya tanya. Juga Kak Annie Nugraha sebagai pihak yang menurut saya kenal sekali dengan potensi pariwisata Tidore karena posisinya sebagai Tim Ngofa Tidore. Dan, tentu saja, saya akan berguru ke Mbak Katerina agar tulisan saya tak sekadar menarik, tetapi juga sarat informasi buat pembaca.

2) Membagikan Kemeriahan Jelajah Tidore Lewat Medsos

Sebagai generasi milenial melek teknologi, aktif di media sosial (medsos) adalah hal yang tak bisa dipungkiri. Beragam medsos yang saya miliki, seperti Instagram, Twitter dan Facebook, akan saya maksimalkan untuk membagikan kemeriahan jelajah Tidore. Baik rangkaian Festival Tidore 909 maupun setiap kunjungan ke berbagai destinasi di Tidore.

A post shared by 5 mstf 🕷 (@dhe_gea) on

Tagar #VisitTidoreIsland pun bakal aktif saya gunakan. Jika perlu saya akan mengajak pemenang lomba blog dan peserta jelajah Tidore lainnya untuk bersama-sama menjadikan tagar tersebut sebagai trending topic. Kebetulan kamera yang saya miliki dilengkapi WiFi, jadi dapat lebih cepat membagikan foto berkualitas ke medsos tanpa perlu ribet memindahkannya ke laptop.

Sementara untuk melancarkan proses upload, saya sampai bertanya ke teman asli Ternate yang sering main ke Tidore. Menurutnya, saya perlu memakai operator seluler yang tepat, jika ingin tetap aktif membagikan foto pesona Tidore di dunia maya.

Bukan sekadar pamer dengan selfie. Akan tetapi saya ingin menunjukkan ke masyarakat Indonesia, bila Tidore memang indah apa adanya. Tanpa editan foto ini-itu, akan saya unggah langsung foto terbaik dengan ilmu fotografi yang saya punya, lengkap dengan caption surga, sebagaimana yang Pak Sofyan ungkap dalam tulisannya.

3) Membagikan Buku Gratis

Kontribusi lain yang ingin saya lakukan adalah membagikan buku bacaan gratis ke anak-anak Tidore. Meski tak semenarik hadiah sepeda yang sering dibagikan presiden Jokowi, tetapi membawa buku bacaan setiap pergi ke daerah adalah kebiasaan yang sering saya lakukan.

Kebetulan, di Kota Malang, saya bergabung dengan komunitas sadar literasi. Kami secara rutin menggalang buku bacaan laik baca yang sudah jarang dibaca kembali pemiliknya. Daripada teronggok begitu saja, kami biasanya berswadaya membagikannya ke rumah baca, hingga ke panti asuhan.

Jika diberi kesempatan ke Tidore, tentu saya ingin berbagi buku bacaan gratis ke rumah baca atau anak-anak di sana. Walau konstribusi ini tak besar, tetapi saya ingin anak-anak Tidore kelak tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berwawasan. Generasi yang bisa membantu mengangkat dan memajukan potensi pariwisata Tidore. Bukan saja untuk Indonesia, tetapi ke mata dunia.

4) Berbagi Wawasan dan Budaya

Dalam beberapa forum diskusi, saya sering diundang untuk berbagi kisah tentang kearifan lokal, budaya hingga cara hidup masyarakat adat di daerah yang pernah saya kunjungi. Pada 2016 saya pernah pergi ke Sumenep untuk mempelajari kearifan lokal berupa budaya tidur di kasur pasir. Atau, pada tahun 2015 saya pernah meneliti kearifan budaya, potensi wisata hingga cara hidup penduduk di beberapa pulau terpencil, seperti Pulau Kelong, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

DSCN1953

Dokumentasi saat berkunjung ke Pulau Kelong

Semua saya lakukan karena ingin belajar dari pengalaman. Memahami satu per satu keanekaragaman budaya di Indonesia dengan datang langsung ke daerahnya. Dari sana, barulah saya punya ilmu hidup dan pengalaman yang selanjutnya saya bagikan. Memberi tahu bila Indonesia itu kaya, Indonesia itu beragam, dan kita harus bangga jadi orang Indonesia.

Wawasan itulah yang ingin saya bagikan ke anak-anak Tidore. Memberi mereka semangat belajar, menggapai impian setinggi mungkin, agar bisa menikmati Indahnya Indonesia langsung dengan panca indera. Sementara, budaya Tidore sendiri akan dengan sungguh-sungguh saya pahami, agar sekembalinya ke Malang, saya bisa ceritakan seraya berkata, “Kau tak akan pernah menyesal berkunjung ke Tidore.”

5) Membagikan Info Lomba Blog Visit Tidore Island

Dari semua gagasan, inilah kontribusi pertama yang bisa langsung saya berikan demi membantu mengenalkan Tidore untuk Indonesia. Lebih dari sekadar syarat lomba, kehadiran informasi ini akan mendorong banyak blogger untuk ikut menulis. Mengulas pesona Tidore. Hasilnya, tentu saja, siapa pun akan lebih mudah menemukan segenap informasi tentang Tidore lewat mesin pencarian Google.

Maka dari itu, mari ramaikan lomba blog Visit Tidore Island dengan tema Tidore untuk Indonesia ini dengan turut berpartisipasi. Ungkapkan segala ekspresi, ide dan gagasanmu untuk membantu mengenalkan pesona Tidore. Jangan lupa, cek informasinya di instagram Visit Tidore Island. Sementara untuk teknis lomba, bisa kunjungi blog Mbak Katerina. Sebagai penyempurna, sertakan pula tulisan lomba blogmu dengan banner di bawah ini.

Bagi yang beruntung didaulat jadi pemenang akan diajak trip ke Tidore selama 6 hari 5 malam untuk 5 pemenang. Sementara, jika ingin ikut trip ke Tidore bersama para pemenang lomba blog Visit Tidore Island, Tidore untuk Indonesia, bisa langsung daftar sesuai informasi berikut ini.

Sebagai paripurna, bukan maksud saya terlampau percaya diri menulis artikel ini. Namun beginilah isi pikiran, saya hanya menginterpretasikannya dengan hati. Perihal diberikan kesempatan bisa jelajah Tidore atau tidak, biarlah jadi kehendak Tuhan dan dewan juri.

Yang pasti, kontribusi tersebut bukan sekadar basa-basi untuk membuat tulisan menarik berdasarkan pengalaman semata. Lebih dari itu merupakan iktikad baik yang ingin saya wujudkan demi mengenali dan mengenalkan Tidore untuk Indonesia. Tentunya, terhitung sejak kaki saya menginjak kali pertama di Tidore, seraya berkata, “To Ado Re. Aku telah sampai ke Tidore…”

Advertisements

18 thoughts on “Visit Tidore Island – Sebuah Kontribusi Kenalkan Tidore untuk Indonesia 

  1. aku aja iku lomba ini dilanda gundah, apalagi setelah banyak membaca literatur jadi makin bingung mau ambil sisi mananya soalnya komplit banget sih Tidore ini Tom. akhirnya ya jadilah tulisan ala-ala itu setelah gonta-ganti draft

    Liked by 1 person

  2. sama mas tom, kalau belum mengalaminya sendiri saya rasa sulit untuk menuliskan tidore seperti apa yg saya harapkan. seorang teman juga mengajak saya untuk ikut lomba ini, tapi begitu membaca artikel2 yg diikutkan lomba ini, saya keder duluan wkwk

    Liked by 1 person

  3. Wah pengen sekali berkunjung ke Tidore. Penasaran dengan Kota yang kaya akan rempah rempah yang banyak diperebutkan bangsa bangsa Eropa karena karena nilai jualnya yang sangat tinggi. Selain itu juga banyak pantai pantainya yang keren sekali ^_^

    Liked by 1 person

  4. Menarik….menarik 🙂
    Baca postingan ini jadi ada satu sudut pandang baru terhadap satu kompetisi menulis. Kece!

    Semoga berhasil. Siapa tahu sama-sama berjaya, aku kan mau diajakin selpih hahaha

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s