Bertamu ke Omah Munir 2

2016_1112_21491500-01

Omah Munir masih menyilakan saya bertamu sejak pertama kali datang. Bulu kuduk saya masih meremang. Bukan karena angker, tetapi akibat membayangkan nasib para aktivis HAM di Indonesia yang lenyap secara kelam.

Geram masih terasa, terlebih setelah tahu ironi Munir dan KontraS yang terpampang nyata. Maret 1998, tanggal 20 tepatnya, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) didirikan. Munir menjadi salah seorang yang paling getol, lantaran ia merupakan komandan KontraS.

2016_1112_22033600-01

Mulanya KontraS hanya fokus pada kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Namun, maraknya kasus penculikan dan penghilangan paksa, akhirnya membuat KontraS beralih tupoksi menangani kasus orang hilang.

Nama Munir kian dikenal, ia pun akhirnya diminta pula menangani kasus kekerasan di beberapa daerah oleh masyarakat korban. Kasus kekerasan di Aceh mendapatkan ruang istimewa di Museum Omah Munir Batu  dengan tajuk Aceh Corner.

Di balik kesuksesan pemerintah meredam gejolak separatisme yang dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), terselip banyak kasus kekerasan dan pelangaran HAM yang ditinggalkan. Serpihan sejarah yang tak terjamah Wikipedia, diulas tuntas di sudut ini. Lengkap dengan fotonya.

Satu hal yang saya pelajari saat tergeragap di diorama ini. Munir hampir selalu hadir mendampingi. Mengadvokasi setiap masyarakat korban, tanpa pandang bulu mereka tetua adat atau rakyat melarat, mereka punya kuasa atau rakyat jelata. Munir mengupayakan membantu mereka bersama KontraS. Mengupas kebenaran sampai tuntas.

2016_1112_22290500-01

Meski tak bisa dipungkiri, masih banyak korban yang belum mampu Munir temukan, hingga status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh resmi ditanggalkan. Lagi-lagi saya tergagu seperintang waktu saat melihat foto korban. Mereka termasuk anak dan perempuan. Mereka yang hilang dan tak pernah pulang.

Sepintas geram yang membuncah, beralih  jadi rasa kagum yang menggugah. Sebuah gubahan. Pidato Munir ketika pengangkatan koordinator KontraS Aceh pada 2000 silam. Saya baca berulang. Telaah mendalam. Mungkin inilah alasan, Munir begitu istimewa di hati masyarakat Aceh kebanyakan.

2016_1112_22300300-01

Sayang, senyum mengembang tak lantas mampu saya pertahankan. Diorama berikutnya lebih memaksa saya diam. Memahami sejarah sang pejuang HAM, era demi era.

Salut melihat masa muda Munir yang begitu menggelora. Tak gentar bersuara. Yakin apa yang disuarakannya benar, walau mungkin dalam hatinya gemetar, bersiap menerima konsekuensi besar.

2016_1112_22314800-01.jpeg

Tak melulu memedulikan nasib orang dan HAM di Indonesia. Munir juga sosok Ayah yang peduli keluarga. Ia dikenal tegas dan penyayang. Sederhana dan taat beragama. Hidupnya didedikasikan penuh untuk menolong sesama.

Namun, senyum kian kecut, ketika tegap berdiri menatap diorama yang saya cari. Sepotong sejarah dari perjalanan hidup Munir yang mengundang keingintahuan banyak orang. Diorama utama Omah Munir, berisikan kronologi perjuangan terakhirnya di dunia.

2016_1112_22321600-01.jpeg

Entahlah, kenapa saya begitu sentimental. Geram yang sedari awal menyeruak, membuahkan panas di pelupuk mata. Memang banyak spekulasi bermunculan tentang tujuan Munir ke Amsterdam. Sejarah mencatat Munir hendak melanjutkan studi hukum ke Utrecht Universiteit.

Namun, kematiannya juga sempat dikaitkan dugaan Munir ‘menjual’ negara lewat data-data dalam studinya. Dugaan yang begitu mengusik intelejen negara di eranya. Tuduhan yang tak pernah terbuktikan faktanya.

Linang air mata akhirnya merembes di pipi, saat membaca pembunuhan Munir yang begitu keji. Dimatikan dengan Arsenik, racun pencabut nyawa yang tak kalah jitu dibandingkan Sianida.

Imbas Arsenik yang dituangkan di kopi, Munir harus mengerang kesakitan berjam-jam sebelum meninggal. Berulang kali mulas hebat dialaminya di tengah penerbangan ke Belanda. Munir hanya pasrah, tak menyangka dirinya mendadak sakit parah. Dalam derita yang dialaminya, Munir akhirnya terpejam dan tak lagi bangun untuk selamanya.

Advertisements

32 thoughts on “Bertamu ke Omah Munir 2

  1. Di Aceh pun kini ada masjid yang dinamakan Masjid Munir, jika saya tak salah ingat, hehe. Tapi bagaimanapun, berkunjung ke museum ini membuat saya sadar bahwa kita semua sebagai manusia punya derajat yang sama.
    Nggak bisalah kita dengan seenaknya menghilangkan nyawa manusia, meski cuma satu, dengan dalih melindungi manusia lain. Apalagi dengan dalih melindungi institusi bernama negara. Dengan alasan apa pun itu menurut saya tidak diperbolehkan.
    Mungkin karena suasananya membuat hati kelabu, saya nggak pernah berani lama-lama di ruang display utama. Mending ke perpustakaan sebelah dan baca-baca, haha.

    Liked by 1 person

  2. “…Untuk rakyat Aceh, percayalah, Cut Nyak tak akan membiarkan setetes pun darah tumpah di Tanah Rencong…” —Megawati.

    Kemudian… 🙂

    Anyway, saya beberapa kali ke Malang tapi belum pernah ke Omah Munir. Lengkap juga ya arsipnya. Walau umurnya udah lebih tua dari dokumen TPF Munir, tapi ga ilang. Hmm..

    Jangan lupa santap Indomie, Mas 😄

    Liked by 1 person

  3. berarti mas tom ini orangnya agak sensitif ya hehehe
    betul mas masih banyak sejarah yg tidak ditulis di buku-buku sejarah karena berbagai alasan. belajar sejarah sekarang semakin menyenangkan karena tak berkutat dengan buku-buku pelajaran sekolah. dan masih banyak yg terlupakan

    Liked by 1 person

    • Emm, sensitif dalam artian obsesif sih nggak, cuma cenderung peka lingkungan. Ya refleksi hidup aja, ditahan-tahan juga ngapain. Toh nggak sampai nangis histeris juga.

      Betul, aku kalau belajar sejarah dari buku malah mesti ngantuk mulu. 😅

      Like

  4. Halo Mas Iwan

    apa kabar dan salam kenal

    yuhuu..

    pas baca ini cukup puas… lagi lagi munir yang sampe sekarang belum bisa diuangkapkan kenapa bisa mati secara misterius.

    dan siapa dalangnya kita juga tidak tahu..

    tapi prestasinya beliau luar biasa untuk HAM..

    mau baca lain kali lagi mass..

    thank sharingnya..

    Mukhofas Al-Fikri | BauBlogging

    Liked by 1 person

  5. Kemarin belum sempat dibawa ke sini. Sedihhh hanya memuaskan perut saja, belum dikenalkan dengan sejarah dan tokoh penting asal Malang yang banyak menyita perhatian oleh kak Tom. Besok kalau Ngalam lagi, bawa daku ke sana ya, kak.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s