Imlek di Malang, Wayang Potehi Mampu Suguhkan Kesan

2017_0128_05512800-01

Lampion merah berlukis dua anak manis, menghiasi Kelenteng Eng An Kiong selama perayaan Imlek. Lampion digambarkan sebagai simbol kebahagiaan dan harapan. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Kota Malang memang bukan destinasi utama Imlek di Indonesia, sebagaimana Singkawang yang terkenal dengan atraksi Debusnya. Tidak juga mirip Grebek Sudiro yang begitu populer saat Imlek tiba di Solo. Kota Malang punya cara tersendiri dalam menyambut datangnya Imlek.

Selain mempercantik sudut-sudut kota dengan beragam lampion merah, masyarakat akan berbondong-bondong menuju Kelenteng Eng An Kiong Malang. Bukan untuk menyaksikan tradisi mandi bersama dari tujuh sumur seperti di Vihara Gayatri, Depok, melainkan untuk melihat pertunjukan Wayang Potehi.

Sejarah Singkat Wayang Potehi

2017_0128_04591700-01.jpeg

Wayang Potehi diperkirakan masuk melalui pedagang Tiongkok yang datang ke Indonesia pada abad ke-16. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Wayang Potehi sendiri merupakan wayang boneka tradisional yang berasal dari Tiongkok Selatan. Namanya diambil dari kata ‘pou’ yang berarti kain, ‘te’ yang bermakna kantong dan ‘hi’ yang artinya wayang. Sebagaimana makna namanya, boneka kain dimainkan dengan kelima jari. Tiga jari tengah mengendalikan kepala, sedangkan ibu jari dan kelingking mengendalikan tangan wayang.

Konon, seni tradisional ini telah berkembang selama hampir 3000 tahun. Wayang Potehi sendiri sempat dilarang pertunjukannya semasa Orde Baru. Namun, sejak Gus Dur memperbolehkan Imlek dirayakan terbuka pada 2001 silam, eksistensi Wayang Potehi bisa dinikmati kembali.

Nasib Wayang Potehi di Daerah Lain

2017_0128_04554900-01

Penonton Wayang Potehi di Kelenteng Eng An Kiong Malang. Di beberapa daerah, penonton Wayang Potehi belum tentu seramai ini. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Wayang Potehi saya ketahui keberadaannya pertama kali saat perayaan Imlek di Kelenteng Hong Tiek Hian Surabaya, dua tahun silam. Saya cukup prihatin, karena hampir sepi penonton. Padahal, pertunjukannya digelar setiap hari.

Ternyata nasib serupa juga terjadi di Kelenteng Hong San Kiong Jombang. Namun, saya begitu kagum ketika dalangnya bilang Wayang Potehi bukan semata untuk ditonton manusia, tetapi juga persembahan dan doa untuk para dewa.

Kehadiran Wayang Potehi di Kelenteng Eng An Kiong

2017_0128_05454000-01

Panggung Wayang Potehi setinggi meter berada di pelataran Kelenteng Eng An Kiong. Posisinya tepat menghadap kelenteng agar para dewa juga bisa menyaksikannya. Terlihat dua bule datang untuk melihat pertunjukan Wayang Potehi. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Sementara sejak 2012 pertunjukan Wayang Potehi sempat vakum di Kelenteng Eng An Kiong Malang. Ini karena dananya tersedot untuk renovasi kelenteng yang kini berusia 192 tahun tersebut.

Kelenteng Eng An Kiong sangatΒ  menjunjung tinggi pluralisme. Sebagai bukti, kelenteng ini merupakan rumah ibadat untuk tiga keyakinan sekaligus yang biasa dikenal sebagai keyakinan Tri Darma, yaitu Konghucu, Tao dan Buddha Mahayana. Jangan heran jika saat berkunjung ke sini bakal menjumpai beberapa altar dengan beragam patung Para Dewa yang berbeda.

befunky-collage

Beberapa altar berhiaskan patung para dewa yang berbeda. Kelenteng Eng An Kiong menjunjung tinggi pluralisme, sehingga tempat beribadat pemeluk keyakinan Tri Darma tak dipisahkan jauh atau disekat dinding tembok. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Meski begitu, semua pemeluknya saling menghormati satu sama lain. Mereka bisa berdoa berdampingan, sekalipun berbeda keyakinan. Indah bukan?

Pluralisme di Kelenteng Eng An Kiong Malang kian kentara saat Imlek tiba. Terlebih saat Imlek 2017 atau di Tahun Ayam Api ini. Sebab, Yayasan Kelenteng Eng An Kiong akhirnya menghadirkan kembali pertunjukan yang begitu dinanti-nanti, apalagi kalau bukan Wayang Potehi.

Media Pemersatu

2017_0128_05122600-01.jpeg

Selain gratis, penonton Wayang Potehi di Kelenteng Eng An Kiong Malang akan diberi Jeruk Mandarin yang tak luput dibagikan dalam tradisi Imlek. Dalam bahasa Mandarin disebut ‘Chi Zhe’. ‘Chi’ artinya rezeki dan ‘Zhe’ artinya buah. Jika digabungkan, jeruk memiliki arti buah pembawa rezeki. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Mendengar Wayang Potehi hadir di Malang, tentu saya langsung antusias menyambutnya. Kendati demikian, saya sempat khawatir bagaimana nanti jika tidak ada penontonnya seperti kelenteng di Jombang dan Surabaya? Apalagi kondisinya sedang musim hujan.

Tak disangka, dugaan saya ternyata salah. Kursi penonton hampir penuh. Tua muda semua ada. Saya yang menyangka bakal jadi orang Islam dari etnis Jawa satu-satunya di bangku penonton, juga sempat terkekeh sendiri.

wp-1485864959199.jpg

Sembari menunggu pertunjukan Wayang Potehi, seorang ibu dan keluarganya menyempatkan berkeliling Kelenteng Eng An Kiong Malang. Sejak ditetapkan sebagai cagar budaya, kelenteng berusia 192 tahun ini terbuka untuk umum. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Betapa tidak, ada banyak perempuan berjilbab di sini. Bahkan beberapa kursi penonton dipenuhi bule-bule muda yang saya tengarai sebagai mahasiswa asing yang sedang studi di Malang. Semua duduk berdampingan, membaur jadi satu. Begitu plural, tanpa pandang bulu: apa agamamu, apa etnismu, dan ujaran rasial lainnya. Sungguh, Wayang Potehi benar-benar bisa menjadi media pemersatu.

Akulturasi Dua Budaya

2017_0128_07250500-01

Karakter Sie Kong, tokoh utama dalam cerita Sie Kong Hwan Tong dalam pewayangan Potehi di Kelenteng Eng An Kiong Malang. Kisah Sie Kong ditampilkan secara bersambung selama dua bulan penuh, dengan durasi pertunjukan 2 jam, 2 kali sehari. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Wayang Potehi di Kelenteng Eng An Kiong Malang berkisah tentang Panglima bernama Sie Kong. Ia dikisahkan sebagai panglima dari kerajaan Tong. Kisah Sie Kong di sini spesifik tentang ‘tendangan sakti’, itulah sebabnya judul pewayangannya bernama Sie Kong Hwan Tong (Tendangan Sie Kong).

Diceritakan, Sie Kong ingin menghukum seorang menteri. Namun, ia datang dalam kondisi mabuk di sebuah pesta di Kota Raja. Nahas, tendangan Sie Kong justru mengenai dan menewaskan putera mahkota. Sie Kong akhirnya mendapat hukuman. Sialnya lagi, gara-gara perbuatan Sie Kong, sang raja murka dan memerintahkan untuk menghukum semua orang bermarga Sie.

Bukan saja pewayangannya yang menarik, tetapi dalangnya yang berasal dari Yayasan Po Tee Hie Fu He An di Kelenteng Hong San Kiong Jombang, ternyata orang Jawa tulen dan beragama Islam.

Pementasan Wayang Potehi di Kelenteng Eng An Kiong

Widodo Santoso, salah satu dalang utama di balik eksistensi pertunjukan Wayang Potehi di Indonesia. [Foto: merdeka.com]

Namanya Widodo Santoso, ia merupakan satu dari tujuh dalang Wayang Potehi yang masih eksis di Indonesia. Terhitung sejak 22 Januari 2017, pria berusia 45 tahun tersebut bersama empat rekannya bersempatan menggelar pertunjukan Wayang Potehi selama dua bulan di Kelenteng Eng An Kiong Malang.

Kendati bukan keturunan Tionghoa, Widodo mengaku mendalami Wayang Potehi sejak 1993 karena alasan hobi. Sementara menjadi dalang resmi dilakoninya sejak 2011. Di sela kesempatan berjumpa langsung dengannya, Widodo juga tak luput menceritakan keprihatinannya. Utamanya ketiadaan generasi penerus dalang Wayang Potehi. Berulangkali ia mencoba melakukan pengkaderan tetapi tak ada yang maksimal.

Sedih rasanya mendengar cerita tersebut. Apalagi Wayang Potehi ini sudah mampu menjadi jembatan pemersatu. Menegaskan bila masyarakat kota Malang memang begitu toleran. Tak bisa dibayangkan, apa jadinya bila Wayang Potehi ini harus hilang sungguhan. Semoga pemerintah sungguh-sungguh memberikan perhatian, demi kelestarian Wayang Potehi di masa depan.

2

Terlepas dari fakta yang ada, pertunjukan Wayang Potehi di Kelenteng Eng An Kiong Malang mendapatkan sambutan yang meriah. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Terlepas dari itu semua, Widodo cukup senang karena antusiasme penonton di Kelenteng Eng An Kiong Malang cukup tinggi. Euforianya begitu terasa. Baik pertunjukan yang digelar pada jam 3-5 sore maupun jam 7-9 malam sama-sama penuh penonton.

Wayang Potehi ini digelar setiap hari secara gratis. Jika ingin menonton, langsung datang saja ke Kelenteng Eng An Kiong yang beralamat di Jalan RE Martadinata no. 1 kota Malang. Meski tidak mewah, kehadiran Wayang Potehi nyatanya mampu menjadi simbol pemersatu Imlek di Malang. Warna baru Imlek di Indonesia.

Sebagai pungkasan, saya sampaikan: Gong xi fat chai. Kiong hi huat cai.

 

 

Advertisements

80 thoughts on “Imlek di Malang, Wayang Potehi Mampu Suguhkan Kesan

  1. Loh ada pak Widodo di situ, aku pernah ketemu dan ngobrol sama beliau serta pak Toni ketua yayasan potehi di kelenteng Hong San Kiong di Gudo. Banyak cerita suka dukanya mengenalkan dan membangkitkan potehi yang sempat mati suri di Indonesia.

    Liked by 1 person

  2. Sejuknya. Kesenian memang tidak pernah memandang agama seseorang. Selama bisa dinikmati maka seni menurut saya sudah mencapai tujuannya. Sejuk banget baca postingannya. Kehidupan yang rukun dan guyub antarumat beragama itu lho, ternyata bukan hal yang mustahil. Mungkin saya terlalu banyak membaca berita hoax dan kisruh intoleransi makanya jadi rindu banget dengan damainya keberagaman seperti terangkum di sini, hehe.

    Semoga sukses dengan kompetisinya, ya.

    Liked by 1 person

  3. ah imlek tahun ini sedikit tercoreng dg isu2 yg marak belakangan ini. tp syukurlah, tidak terjadi sesuatu hal yg tidak di inginkan. adem bacanya. imlek tak hanya dirayakan oleh sodara2 tionghoa, namun, seluruh masyarakay juga ikut dalam kemeriahannya πŸ˜€

    Liked by 1 person

  4. Pernah bertemu dengan Pak Widodo di klenteng Jombang. Pengetahuannya tentang wayang potehi dan keahliannya bermain wayang potehi patut diacungi jempol. Bersama Pak Tony pernah mementaskan pertunjukan wayang potehi sampai luar negeri juga. Semoga tulisan ini menang. Good luck, bro. πŸ˜‰

    Liked by 1 person

  5. Menarik banget, bro. Indah sekali saat melihat keberagaman penonton di bangku, melihat ibu-ibu berjilbab datang antusias mengeksplor klenteng dan menyaksikan Wayang Potehi.

    Semoga menang ya, dan semoga orang-orang radikal yang fanatik dengan SARA segera mendapat hidayah.

    Liked by 1 person

  6. Wayang potehi ini selalu jadi tontonan yang menarik ya. πŸ™‚
    Peminatnya biasanya banyak ketika perayaan imlek saja. Tapi di luar imlek, hanya yg terntentu yg mau menyaksikan. Ragam budaya kewayangan kita memang banyak ya. Belum lagi kalau di Jogja, wah, wayang itu kalau didata. ya cukup banyak

    Liked by 1 person

  7. Pertama kali menyaksikan pertunjukan ini sewaktu di Yogyakarta, kira-kira 6 tahun silam. Saya ke sana pas banget H-1 Imlek. Diajak melihat perayaannya, dan ada pertunjukkan ini. Yang nonton cukup ramai, dan anak-anak pun antusias menyaksikannya. Sayang saya tidak bisa menyaksikan sampai habis, dan lagipula saya tidak mengikutinya dari awal.

    Hal seperti ini bisa bertahan atau tidak tergantung kerjakeras orang-orang seperti Pak Widodo. Bagaimana dia mengemasnya sehingga orang tertarik untuk duduk dan menyaksikannya

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s