Demi Idul Adha di Masjid Agung Jawa Tengah

2016_0910_17195500-01-02

Demi Idul Adha di Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah dikenal sebagai salah satu masjid megah yang punya arsitektur mengagumkan. Demi melihat langsung keindahannya, saya pun menentukan momen yang pas agar perjalanan lebih berkesan. Terpilihlah tanggal merah Idul Adha. Sepertinya salat Id di sana bakal jadi kesan ke Jawa Tengah yang lebih berbeda. Demikian batin saya.

Namun proses nggak seindah rencana

Rencana awal, saya berangkat ke Semarang dari Malang menggunakan kereta. Dari Stasiun Tawang perjalanan lantas mau saya sambung dengan Trans Semarang. Namun, kesialan mendadak datang ketika saya terjebak macet dalam angkot menuju stasiun Malang.

stasiun-malang

Stasiun Malang di malam hari

Mau turun ganti naik GoJek nggak ada pengemudi yang menerima pesanan saya. Ada taksi, tapi sama saja bohong kalau macet begini. Walhasil, saya yang awalnya penuh semangat, mendadak waswas nggak keruan. Bak orang ketemu penampakan tetapi mau kabur nggak kunjung jalan.

Akhirnya, saya tiba di stasiun Malang lebih 5 menit dari waktu keberangkatan yang sudah tertulis di tiket kereta. Padahal, saya sudah pegang boarding pass sejak pagi. Naas, kereta berangkat tepat waktu. Meninggalkan saya teronggok nggak berdaya dengan deru lokomotif yang makin menjauh. Merana. Itulah rasanya ketinggalan kereta.

Lantas, apa yang harus saya lakukan sekarang?

Pertanyaan itulah yang sejenak terngiang. Nggak lama kemudian, jiwa pengelana saya mendadak menyeruak. Pokoknya saya harus tetap pergi apa pun yang terjadi. Bukan tanpa sebab. Saya sudah terlanjur memesan hotel. Jika saya batalkan pergi ke Jawa Tengah, maka kerugian yang saya dapat justru semakin berlipat.

Sudah rugi tiket kereta, harus bayar biaya pembatalan hotel pula. Apalagi perjalanan saya kali ini maraton. Dari Semarang saya berencana pergi ke Palembang. Itupun tiket pesawatnya sudah dipesan, termasuk hotelnya juga. Bayangkan berapa banyak tabungan yang harus hilang tanpa meninggalkan kenangan?

2016_1029_21105100-01

Boarding pass yang nggak lagi berguna

Nggak pakai lama, saya langsung menuju terminal Arjosari, Malang. Bus adalah moda transportasi satu-satunya yang bisa lalu-lalang dinaiki lintas kota 24 jam. Namun, tahukah kamu kenyataan apa yang saya terima? Bus Malang-Semarang habis tak tersisa. Sambil menarik napas panjang, saya meyakinkan diri untuk tetap tenang. Ini bukanlah kali pertama saya traveling seorang diri. Beragam pengalaman membuat otak saya berpikir cepat. Menggali solusi. Seketika terlintas sebuah nama. Surabaya! 

Musim mudik Idul Adha memang sedari awal saya hindari bepergian naik bus. Itulah kenapa saya memilih kereta. Selain lebih tertib, harapannya saya bisa tidur nyenyak sepanjang perjalanan. Nggak perlu gonta-ganti kendaraan. Kendati kelas ekonomi, setidaknya besok paginya bisa bugar untuk menjalankan salat Idul Adha di Masjid Agung Jawa Tengah. Namun, kesialan hari itu, membuat saya akhirnya tahu rasanya berdiri 2,5 jam di dalam bus ekonomi dari Malang ke Surabaya.

Saya pikir kesialan telah berakhir

Nggak tahunya, hal lebih gila telah menanti di depan mata. Terminal Purabaya dipenuhi lautan manusia. Jangankan bus kelas ekonomi, bus patas pun diantre ratusan orang. Dari kejauhan, saya menyaksikan betapa pemandangan yang selama ini hanya teramati di media massa, kini harus bersiap saya lakoni.

20130806_berebut-naik-bis-mudik-lebaran-2013_4067

Ilustrasi desa-desakan masuk bus saat mudik lebaran [foto: Tribunnews.com]

Jujur ini adalah kali pertama saya harus kuat-kuatan tenaga sekadar ingin naik bus patas yang harusnya nggak begini. Sempat saya mengalah karena ada seorang kakek yang menatap mata saya penuh iba, serta banyak perempuan yang ternyata ikut ‘bersaing’ pula. Tapi, setelah menunggu lama dan waktu kian mendekati dini hari, saya akhirnya nggak tahan berdiam diri menanti.

Di bus patas entah yang keberapa, saya memantapkan hati. Bismillah! Saya akhirnya bisa naik bus patas juga. Namun, lagi-lagi saya harus mengelus dada. Melihat semua kursi penuh penumpang. Bersiap menguatkan kaki, demi berdiri penuh dari Surabaya ke Semarang. Apa boleh buat ketika hal tersebut benar-benar kejadian. Menumbangkan rekor saya berdiri dalam bus Malang-Surabaya sebelumnya. Dalam kurun waktu tak lebih dari 2 jam saja.

Kejutan pun mulai berdatangan

Lelah bergonta-ganti kendaraan membuat saya memaksa diri tidur sambil berdiri. Menjaga posisi agar nggak sampai ambruk ke penumpang lain yang bernasib sama. Di sisi lain, saya begitu iri melihat penumpang yang begitu beruntung dapat duduk dan tidur sepulas-pulasnya. Hingga membuat siapa pun yang melihatnya ingin bertanya. Tidakkah ada yang mau berganti tempat duduk dengan yang berdiri ini?

Perjalanan malam itu pun mulai menciptakan drama ketika kondektur menarik ongkos bus dengan harga normal. Nggak ada potongan bagi penumpang yang berdiri, karena bagaimana pun ini bus patas bukan ekonomi. Meski sadar sebagai konsekuensi, nggak sedikit penumpang yang melempar gerutu. Sementara, kondektur seolah menulikan telinga sambil berdalih, “Saya hanya menunaikan pekerjaan.”

Tanpa diduga, komat-kamit penumpang yang berdiri, rupanya membangunkan penumpang yang duduk. Bukannya merasa nggak enak hati, penumpang yang duduk justru semakin menunjukkan gelagat ‘nikmatnya duduk di kursi’. Nggak ayal dalam perjalanan malam itu, tercipta dua kubu berbeda. Antara penumpang yang beruntung duduk di kursi dengan penumpang yang sial berdiri dalam satu bus patas lintas provinsi.

suarapemred-01.jpeg

Ilustrasi naik bus berdesak-desakan [foto: travelingyuk.com]

Puncak drama terjadi saat bus tiba-tiba melambat di Pati. Bukan dua kubu saling adu jotos karena nggak sanggup menahan diri. Melainkan kecelakaan bus terjadi. Bukan pula bus yang saya tumpangi, melainkan bus patas yang gagal saya naiki pertama kali. Hal itu saya ketahui setelah mata saya menangkap seorang kakek yang sebelumnya ‘mengalahkan’ saya dalam kompetisi berebut masuk bus di Terminal Purabaya, Surabaya.

Buluh kuduk saya mendadak merinding saat melihat kakek tersebut. Mukanya lebih pucat. Dingin. Apalagi ketika saya menatapnya, dia juga sedang menatap saya. Lekat. Seolah waktu berjalan melambat. Memberi kami kesempatan berinteraksi, walau sekelabat. Tentu bukan kata-kata atau teriakan, karena posisi saya dalam bus yang sedang berjalan. Hanya senyum ringan diiringi sedikit anggukan, dengan air muka yang tampak menyiratkan kebahagiaan. Belakangan sempat saya ceritakan ke salah satu teman indigo. Menurutnya itu adalah tatapan perpisahan (kematian). Sementara anggukan menandakan terimakasih. Tapi untuk apa? Apa karena saya mengalah darinya saat naik bus itu? Entahlah.

Perjalanan berlanjut menuju Kudus. Di daerah ini, penumpang mulai banyak yang turun. Namun, saya baru mendapatkan tempat duduk saat memasuki Demak. Imbas lelah berdiri saya tertidur setelah menyandarkan kepala di kursi. Sadar-sadar saya terbangun karena mendengar teriakan kondektur. “Semarang, terakhir, terakhir.” Begitu kagetnya saat saya berdiri mengambil tas di bagasi kabin bus. Ke mana semua penumpangnya?

Belum juga terjawab kapan penumpang terakhir turun, hingga menobatkan saya jadi penumpang tunggal di bus ini. Saya pun dibuat bingung sejenak dengan titik di mana saya diturunkan. Bukan terminal, melainkan pertigaan jalan yang dipenuhi air menggenang. Sepertinya imbas rob yang melanda Semarang. Nggak ada orang yang bisa ditanyai, karena saya tiba di Semarang tepat jam 3 pagi.

Sambil mencari tempat yang kering, karena sedari tadi kaki saya terendam, saya membuka Google Maps. Memastikan lokasi diri, sembari iseng memesan GoJek. Terdeteksi di peta jika saya di Jalan Kaligawe Raya. Sementara, pertigaan tadi adalah jalan menuju Terminal Terboyo. Dari titik saya berdiri di depan Rumah Sakit Islam Sultan Agung, saya coba melihat rute menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Tanpa macet, harusnya bisa ditempuh selama 30 menit. Tapi sayang, GoJek belum beroperasi, apalagi Trans Semarang.

Lima menit saya pasrah dalam keheningan, hingga tahu-tahu ada taksi yang menghampiri. Karena nggak ada pilihan lain, saya akhirnya naik taksi menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Seperti biasa, saya mengaktifkan GPS untuk memastikan rute sekaligus menghindari jebakan argo. Sesuai rute yang ditampilkan Google Maps, taksi mengambil jalur terdekat dengan lewat di jalan tol.

Baik kondisi jalan maupun antara saya dan supir, sama-sama dibungkus kesunyian. Sampai akhirnya kami tiba di terowongan setelah lingkar tol Tanjungmas-Srondol menuju Jalan Majapahit. Supir taksi yang sedari diam, tiba-tiba membuka pembicaraan. “Katanya di sini sering terlihat penampakan.”

“Oya?” Saya hanya menanggapi ringan. Nggak ada sama sekali firasat misteri yang menghampiri.

“Konon ada seorang gadis yang dibunuh di sekitar terowongan ini. Arwahnya tak tenang, sehingga kerap menghantui setiap pengendara yang lewat di sini. Paling sering jam segini.”

Sampai di situ, supir taksi bersuara parau tersebut nggak melanjutkan ceritanya lagi. Mungkin karena tahu saya lelah, sehingga dia merasa nggak enak hati. Supir taksi balik fokus menyetir, saya kembali fokus menyimak GPS Google Maps. Setelah menyusuri jalan Gajah Raya, taksi akhirnya tiba di gerbang Masjid Agung Jawa Tengah. Di sinilah saya baru menjumpai kejanggalan.

Tanpa memalingkan wajah, supir taksi hanya menjulurkan tangan kirinya untuk menerima ongkos saya. Walau membuat penasaran, tetapi saya malas menanyakan. Lagi-lagi alasannya karena lelah. Saya pun memilih segera turun, menyilakan taksi ungu itu kembali melayani penumpang lainnya.

Akhirnya, tiba di Masjid Agung Jawa Tengah

Dari gerbang Masjid Agung Jawa Tengah, saya langsung menuju ke pelataran masjid. Nggak tampak petugas yang berjaga. Saya hanya berjalan, menyusuri jalan setapak, meniti anak tangga, hingga kaki saya tepat di bagian serambi. Memandangi enam menara besar. Pemantik semangat datang ke sini. Menara yang bila mengembang jadi payung raksasa, mirip di Masjid Nabawi. Itu juga yang membuat saya ingin salat Id di Masjid Agung Jawa Tengah, karena suasananya menyiratkan kedamaian kota Madinah.

2016_0910_17074200-01-01.jpeg

Menara berteknologi canggih di serambi Masjid Agung Jawa Tengah

Nggak ada hal lain yang refleks terjadi pada diri saya selain terpana. Diiringi hamdalah yang entah sudah ke berapa kalinya. Betapa hal yang selama ini saya mimpikan akhirnya dikabulkan Tuhan dengan cara nggak biasa. Perjalanan berbeda yang sempat saya kira sebagai kesialan, ternyata adalah keberuntungan yang tersamarkan. Mungkin beginilah cara Tuhan memberi saya pengalaman yang berbeda.

Gema takbir yang berkumandang, lantas membuat saya bergegas pergi ke kamar mandi. Berwudu. Menunaikan salat sunah sejenak, sebagai bentuk syukur kepada Tuhan. Zat yang masih memberikan saya kesempatan hidup. Menjauhkan saya dari mara bahaya. Menyadarkan saya lewat beragam peristiwa, bila hidup ini hanyalah sementara. Berlama-lama saya menenangkan diri. Mendamaikan hati, sembari menikmati kemegahan Masjid Agung Jawa Tengah dari beragam sisi.

2016_0910_16591600-01-01

Bagian depan ruangan utama Masjid Agung Jawa Tengah

2016_0910_16583300-01-01.jpeg

Kubah dan langit-langit Masjid Agung Jawa Tengah

2016_0910_16575700-01-01.jpeg

Bagian belakang Masjid Agung Jawa Tengah

Interiornya begitu indah. Terlihat begitu jelas dari kubah besar dan lengkung di antara empat tiang penopangnya sebagai identitas arsitekur Islam. Sentuhan lampu gantung berdesain melingkar, mengingatkan akan indahnya Blue Mosque dan Hagia Sofia di Turki. Namun begitu, cita rasa arsitektur Jawa dalam masjid ini juga begitu padu melengkapi.

Dari salah satu takmir yang saya tanya, ruangan utama masjid mampu menampung 6.000 jemaah. Sementara serambinya berkapasitas 10.000 jemaah. Masjid ini menempati tanah wakaf milik Masjid Besar Kauman Semarang. Masjid ini juga punya Quran raksasa dengan diameter 145×95 cmΒ².

2016_0910_17011200-01-01.jpeg

Quran raksasa di ruangan utama Masjid Agung Jawa Tengah

Mumpung belum banyak jemaah salat Id datang, usai salat subuh saya melihat sisi luar masjid sejenak. Menurut beberapa referensi, bangunan melingkar yang ada di serambi Masjid Agung Jawa Tengah mengadopsi arsitektur koloseum Athena era Romawi. Dengan modifikasi berupa tambahan kaligrafi sebagai ciri utama arsitektur Islam. Adapun 25 pilarnya menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul dalam perspektif Islam.

2016_0910_17160300-01-01.jpeg

Serambi Masjid Agung Jawa Tengah dengan 25 tiangnya

2016_0910_17195500-01-01.jpeg

Gaya arsitektur Romawi turut mempercantik tampilan Masjid Agung Jawa Tengah

2016_0910_17412000-01-01.jpeg

Menara Al-Husna di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah juga dilengkapi satu menara utama setinggi 99 meter. Namanya menara Al-Husna. Dari menara tersebut, pengunjung bisa menikmati kemegahan Masjid Agung Jawa Tengah dari menara pandang di lantai 19.

Selain itu di lantai 18 ada resto yang bisa berputar 360 derajat layaknya di Menara Kuala Lumpur. Masih di menara Al-Husna, pengunjung juga bisa melihat Museum Perkembangan Islam di lantai 2 dan 3. Di samping menara utama, fasad masjid juga dilengkapi empat menara setinggi 62 meter yang mengelilingi kubah masjid.

2016_0910_17440500-01-01

Beruntung di sisi sini belum dipenuhi jemaah salat Idul Adha

2016_0910_17400000-01-01.jpeg

Prasasti peresmian Masjid Agung Jawa Tengah

Sejak diresmikan pada 14 November 2006, Masjid Agung Jawa Tengah memang sudah menjadi salah satu daya tarik wisata religi di Jawa Tengah. Bahkan, demi memfasilitasi wisatawan, masjid ini juga dilengkapi penginapan sebanyak 23 kamar. Nggak salah pokoknya, jika masjid provinsi yang berdiri di lahan seluas 10 hektare ini dimasukkan destinasi wajib kunjung saat ke Semarang.

Beruntungnya, saya bisa datang ke Masjid Agung Jawa Tengah bertepatan Idul Adha. Keindahannya benar-benar mampu menjadikan pelesiran saya ke Jawa Tengah kali ini begitu berbeda. Lebih bermakna, daripada ingatan horor berjumpa supir taksi. Sebab, belakangan saya baru tahu jika di Semarang nggak ada armada taksi berwarna ungu. :/ πŸ˜₯

Advertisements

72 thoughts on “Demi Idul Adha di Masjid Agung Jawa Tengah

  1. mukanya kucel banget wkwkwk (becanda mas, abaikan)

    pengalamannya seru yah, jadi inget waktu aku pulang dr malang mau ke solo ketinggalan kereta gara2 … nyalon, iyah… potong rambut dulu di tukang potong rambut (kenangan gokil di malang) 😦

    campur aduk yah, mistis banget di dalam busnya, aku jadi ikutan merinding baca soal penampakan hantu..

    Liked by 1 person

  2. Hmmm lebih horror dibandingkan film-film horror semi yang sering tak liat dulu..masih horroran deadline sales tapi huahahahahah…

    Berapa jam bediri di bis?? tapi luar biasa optimisnya yak, beda banget sm keluargaku hahahah, pernah udah planning nge trip ke surabaya tapi gara2 mecahin gelas dua kali tanpa sengaja langsung dicancel tripnya pas hari H
    -_________- *slowclaps

    Liked by 1 person

  3. Perjalanannya seru banget, bro! Gue bisa ikut meresapi apa yang sedang kamu alami saat itu.
    Soal si kakek, saat kalian bertemu pandang di jalan, posisi kakek seperti apa: lagi berdiri, atau terbaring?

    Masjid Agung Jawa Tengah memang sangat menarik! Paduan berbagai langgam arsitektur dilengkapi kecanggihan teknologi. Sayangnya pas gue ke sana, jam buka menara sudah berakhir. Oh ya, karena lokasinya di tepi dataran tinggi, pelataran masjid jadi tempat ciamik berburu foto sunrise dan sunset!

    Salam kenal dari Bandung

    Liked by 1 person

  4. Pertama nih mas, aku turut sedih akan ketertinggalan keretanya. Kedua miris juga baca pengalaman berdiri dari Surabaya-Semarang, padahal seingat aku dulu waktu pulang acara IKAHIMBI di Surabaya pas naik kereta cuma mas Iwan sama Nilam yang bisa duduk bahagia πŸ™‚ . Wah, terus Pak Taksi itu siapa mas? Nggak ada perasaan aneh kedianya?

    Liked by 1 person

  5. artadhitive says:

    wah bener2 penuh perjuangan ya mas… keren sekali ceritannya…
    saya jadi terbawa ikut merasakan kesel capeknya mas… tapi mudah2an semua bisa hilang setelah karya ini diapresiasi oleh pesona jawa tengah dengan keindahan masjid Agung Jawa Tengah……

    Keep writing and sukses selalalu yq mas ..

    Mantap

    Liked by 1 person

  6. aku rasa di balik semua drama perjalanan ini, sesungguhnya Tuhan punya rencana indah sehingga lahirlah tulisan perjalanan yang terasa unik dan hidup ini. aku pikir tuh sopir taksinya makhluk halus terus diturunkan di tengah2 kuburan (kebanyakan cerita orang2 lokal dan film), ternyata tidak, beneran manusia ya?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s