“Harusnya Kita Bersyukur”

DSCF1924.JPG

Harusnya Kita Bersyukur [Fotografer: Iwan Tantomi]

 What might be small for you, means a lot for them

Jika dipikir-pikir manusia seringnya memang selalu merasa kurang. Sudah punya ini masih ingin itu. Padahal, apa yang ada di dunia ini hanya bersifat sementara. Begitu kira-kira kata Pak Ustad.

Nah, bicara tentang Pak Ustad, salah satu undangan bukber yang saya terima pada Ramadan tahun ini juga ada yang bersama Pak Ustad. Jika sebelumnya saya dapat undangan bukber yang bikin mager di Hotel Santika, undangan bukber saya kali ini justru datang dari Gramedia. Iya, G-R-A-M-E-D-I-A.

Entah angin apa yang membuat WhatsApp akhirnya mengirimkan notifikasi yang isinya:

“Selamat sore Bapak Iwan. Dalam rangka menyambut Ramadan yang penuh magfirah, Kompas Gramedia berkehendak mengundang Bapak Iwan dalam acara Buka Puasa Bersama Anak Yatim pada 20 Juni 2016, pukul 16.00 WIB. Terimakasih perhatiannya.”

Mulanya saya pikir ini hoak, karena seingat saya hampir nggak pernah tebar nomor telepon ke kasir Toko Buku Gramedia. Lagian juga buat apa coba? Cuma, setelah saya iseng tanya-tanya bagaimana mimin tersebut bisa sampai tahu nomor saya, ternyata jawabannya karena blogger. Helah!

Masih kurang yakin, saya tanya lagi, dan si mimin sopan banget ngeladeninnya. Sampai-sampai saya nggak enak hati sendiri. Baru, setelah dapat konfirmasi jelas, alasan saya diundang bukber ini karena saya pernah menangin Gramedia Blogger Competition. Gara-gara itulah mereka akhirnya punya data saya, termasuk nomor telepon. Ok. Satu urusan fix, satu lagi yang jadi pertanyaan. Ini Gramedia mana dulu?

Setelah dapat jawaban, lokasi acaranya ternyata di Gramedia Basuki Rahmat Kota Malang. Namun, kalau boleh saya jujur, yang membuat saya tertarik untuk datang ke acara bukber ini justru karena ada embel-embel anak yatim-nya. Sebab, bagi saya pribadi jarang-jarang bisa bukber  dengan mereka.

Tiba Hari H

DSCF1913

Pak Ustad menyemangati anak-anak agar terus belajar mewujudkan impian [Fotografer: Iwan Tantomi]

Pas hari H, usai kerja saya langsung cabut ke lokasi. Untuk memastikan, saya coba kirim pesan, namun nggak ada balasan. Saya jadi sangsi, tetapi tetap saya lanjutkan datang. Dan, benar, ternyata memang ada acara buka bersama anak yatim di pelataran Gramedia. Usai mengisi daftar hadir, saya pun langsung nimbrung.

Di sanalah saya akhirnya menjumpai Pak Ustad sedang memberikan tausiyah kepada sekumpulan anak-anak laki dan perempuan. Dari rautnya mereka tampak begitu ceria. Tak ada rupa apapun dari wajah riang mereka yang bisa diidentifikasikan sebagai tanda-tanda anak yatim. Ya, mereka seperti anak-anak kebanyakan pada umumnya.

DSCF1918

Anak-anak binaan semangat menjawab pertanyaan Pak Ustad [Fotografer: Iwan Tantomi]

Yang bikin saya kagum, mereka pintar-pintar. Mereka begitu tangkas dan semangat menjawab pertanyaan seputar nama-nama nabi maupun ensiklopedia Islam lainnya dari Pak Ustad secara tepat. Bagi mereka yang beruntung karena menjawab dengan benar dapat hadiah. Karena dibungkus dalam plastik isi hadiahnya pun kelihatan.

Saya begitu senang, apalagi mereka. Betapa tidak, bingkisan yang mereka dapat adalah buku dan perlengkapan tulis. Barang-barang yang menurut saya pemacu semangat belajar. Simbol untuk harapan hidup mereka di masa depan yang lebih baik. Hmm, nggak sia-sia deh, Gramedia jadi sponsornya.

Lalu, mereka ini anak yatim dari mana?

DSCF1908

Donatur dan relawan Rumah Zakat berkumpul bersama dalam acara bukber anak yatim di Gramedia Malang [Fotografer: Iwan Tantomi]

Itulah pertanyaan yang sedari awal memotret wajah-wajah anak yatim tersebut berputar-putar di kepala. Beruntung saya bertemu orang yang tepat untuk ditanyai. Dia adalah Pandu. Mentor sekaligus penanggung jawab anak binaan ini.

Menurut Pandu, anak-anak yatim ini merupakan anak binaan Yayasan Rumah Zakat Malang. Hampir 80% anak binaan ini merupakan anak yatim piatu yang tersebar di Kota Malang. Yayasan Rumah Zakat Malang sendiri menempatkan anak-anak binaannya di tiga lokasi, yaitu Sukun, Klojen dan Bandulan. Sementara, 20% sisanya masih punya orang tua namun kurang mampu untuk menghidupi mereka.

Lantas, siapa saja yang membina mereka? Pandu menjawab Yayasan Rumah Zakat Malang dibantu oleh relawan yang menyebut diri Komite Relawan Nusantara. Di Yayasan Rumah Zakat sendiri ada 63 relawan yang sebagian besar didominasi oleh mahasiswa yang berkuliah di Malang.

DSCF1936

Anak-anak putri binaan yayasan Rumah Zakat Malang terlihat gembira usai mendapatkan bingkisan dari Gramedia [Fotografer: Iwan Tantomi]

Karena anak-anak binaan ini butuh dana untuk hidup dan bersekolah, saya lalu menanyakan tentang sistem pembinaan di Yayasan Rumah Zakat Malang. Menurut Pandu, sama seperti Yayasan Rumah Zakat lain yang tersebar di Indonesia, sistem pembinaan anak yatim piatu ini adalah 1 anak 1 donatur.

Artinya, dengan bantuan seorang donatur yang difasilitasi tim Rumah Zakat, anak-anak binaan tersebut berkesempatan mendapatkan hak hidup dan mengenyam pendidikan secara layak. Adapun untuk level pendidikan, bergantung dari donatur yang menyumbang. Jika donatur bersedia memberikan beasiswa sekolah penuh, maka anak binaan tersebut dapat bersekolah dari SD sampai SMA, bahkan hingga perguruan tinggi secara gratis.

DSCF1934

Anak-anak putra binaan yayasan Rumah Zakat Malang mendengarkan petuah seru dari Pak Ustaz [Fotografer: Iwan Tantomi]

Namun, jika di tengah jalan donatur tersebut tak lagi mampu karena urusan keuangan personal, maka tim Rumah Zakat akan mencarikan donatur lain agar anak binaan tetap bisa merampungkan proses belajarnya. Hal yang menarik, para donatur bebas memilih siapa saja anak binaan yang ingin mereka danai sesuai rekomendasi tim Rumah Zakat.

Yang terpenting si donatur sungguh-sungguh mau membantu. Oya, kantor Yayasan Rumah Zakat Malang berlokasi di Ruko Istana Jalan WR Supratman C3 Kav. 19 Malang. Atau, lebih gampangnya depan Rumah Sakit Lavalette Malang. Misalnya, kawan-kawan ada yang tertarik untuk jadi donatur, langsung saja kunjungi alamat itu atau alamat ini.

Ada Sosok Lain

DSCF1928

Komite Relawan Rumah Zakat Malang [Fotografer: Iwan Tantomi]

Usai bincang-bincang sama Pandu, nggak sengaja saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu paruh baya atau lebih ke arah nenek muda lah. *galau* Rupanya ibu tersebut dari tadi mengamati saya saat ngobrol dengan Pandu. Saat saya tanya, “Ibu relawan Yayasan Rumah Zakat, juga?”

Si Ibu lantas mengenalkan diri sebagai Bu Liani. Sudah 3 tahun terakhir ini, rumah Mak Lik – sapaan Bu Liani, secara suka rela dijadikan posko bimbingan belajar anak binaan. Mendengar hal itu, tentu saya sangat takjub. Menurut Mak Lik, ia memang tidak mampu menjadi donatur, tapi setidaknya dengan cara sederhana ini ia ingin turut memberikan harapan hidup yang lebih baik kepada anak-anak binaan tersebut.

Suer, mendengarkan omongan Mak Lik saat itu saya langsung berkaca-kaca. Betapa sesuatu yang kadang terkesan sepele, ternyata bisa jauh bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan. Mak Lik pun menawarkan saya untuk berkunjung ke rumahnya yang beralamat di Bandulan Gg. V No. 714 Malang. “Siapa tahu mau jadi relawan bimbel anak-anak binaan juga?” katanya.

Mak Lik hanyalah satu dari ‘sosok lain’ di balik berjalannya Yayasan Rumah Zakat Malang dalam memperjuangkan nasib anak-anak binaannya. Selain Mak Lik, Pandu dan Komite Relawan Nusantara, kebaikan donatur Rumah Zakat tentu tak bisa dilupakan begitu saja. Berkat mereka anak-anak yang sering dianggap tak beruntung ini, bisa terus tersenyum, bahagia, dan bersemangat menggapai masa depan yang lebih cerah.

Pada akhirnya, sosialisasi dan interaksi langsung dengan anak yatim dalam acara bukber kali ini, membuat saya sebagai bagian dari manusia yang beruntung, jadi berpikir:”Harusnya Kita Bersyukur.”

*Nama Mak Lik jadi mengingatkan saya dengan juru masak di kantor, makanya saya jadi lebih sreg nulis ‘Mak Lik’ terus daripada ‘Bu Liani’. 😄

Advertisements

2 thoughts on ““Harusnya Kita Bersyukur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s