Sabang Berbinar, Pariwisata Aceh Berkibar

Sabang.jpg

Sabang Berbinar Pariwisata Aceh Berkibar [Hak Milik Foto: Oaktour.id

]

Siapa sih yang nggak kenal Sabang? Kota paling utara Indonesia ini cukup terkenal lantaran sering disenandungkan di lagu wajib nasional ‘Dari Sabang Sampai Merauke’.

Tapi bagaimana dengan Pulau Weh? Apakah semua orang Indonesia mengenalnya? Jika boleh menjawab, kemungkinan hanya traveler, diver, atau social-media junkie yang cukup mengenalnya.

Di jagat Instagram, foto-foto pesona Pulau Weh banyak ditampilkan oleh beberapa traveler. Dari beberapa foto yang tersebar viral tersebut, jelas sekali bila Pulau Weh menjadi salah satu surga bahari Indonesia.

Pulau Weh dan Kota Sabang itu jadi satu atau gimana sih?

Maklum saya jarang dapat nilai seratus saat mengikuti pelajaran Geografi. Jadinya, sempat mengira bila Pulau Weh dan Kota Sabang itu merupakan dua tempat yang berbeda.

Faktanya, bersama-sama dengan Pulau Klah, Pulau Rondo, Pulau Rubiah dan Pulau Seulako yang berada di Teluk Sabang, Pulau Weh merupakan bagian dari wilayah administrasi Kota Sabang, Provinsi Aceh.

Dari kelimanya, Pulau Weh merupakan yang paling besar. Di Pulau Weh jugalah pusat pemerintahan Kota Sabang berada. Bandara Kota Sabang juga ada di pulau ini, yaitu Bandara Maimun Saleh.

Kota Sabang dibagi menjadi dua wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Sukajaya dan Sukakaya. Pulau Weh yang merupakan daratan utama Kota Sabang dikelilingi Selat Malaka dan Samudera Hindia. Selain itu, posisinya yang berada di ujung utara plus barat Indonesia, membuat Kota Sabang berbatasan langsung dengan Malaysia, Thailand dan India. (Sumber: Wikipedia)

Benar nggak sih Pulau Weh itu berbentuk W?

Sebelum menjawabnya, mari bersama-sama kupas etimologi ‘Sabang’ terlebih dulu. Sayang kan, bila tahunya separuh-paruh. Karena bagaimanapun keduanya satu kesatuan.

#amazing #view of #sabang icon #ILOVESABANG #ILOVEINDONESIA #040216AP

A post shared by Albert Phinaldo (@albert_phinaldo) on

Ada banyak versi tentang asal-muasal kata ‘Sabang’:

  • Versi Masyarakat Lokal: Kata ‘Sabang’ berasal dari ‘Saban’, bahasa Aceh yang berarti sama rata. Ini sesuai karakter orang Sabang yang cenderung ramah saat menyambut pendatang. (Sumber: Kompas)
  • Versi Catatan Sejarah: Kata ‘Sabang’ berasal dari ‘Shabag’, bahasa Arab yang artinya gunung meletus. Sisa-sisa belerang di gunung Jaboi menguatkan bukti bila pernah ada gunung berapi di sana. (Sumber: Kompas)

Setelah tahu etimologi ‘Sabang’, mari berlanjut membahas asal-usul kata ‘Weh’. Ada beberapa versi juga.

  • Versi Catatan Sejarah: Kata ‘Weh’ diambil dari bahasa Aceh yang artinya pindah. Mulanya Pulau Weh dianggap bersatu dengan Sumatera. Namun, karena gempa akibat letusan gunung berapi terakhir di zaman Pleistosen, pulau tersebut akhirnya terpisah. (Sumber: Pemerintah Kota Sabang)
  • Versi Legenda Masyarakat Sabang: Konon, ada putri cantik menginginkan kesuburan di wilayah Aceh bagian utara. Sang Pencipta lalu menurunkan hujan deras dan terbentuklah danau Aneuk Laot. Namun, juga dibarengi gempa bumi yang akhirnya memisahkan daratan tersebut dari Aceh. Terbentuklah Pulau Weh. (Sumber: Kompas)
  • Versi Paling Umum: Jika diamati secara saksama di peta, Pulau Weh rupanya menyerupai huruf W. Inilah yang membuat kebanyakan orang akhirnya menyebut pulau ini sebagai Pulau We (tanpa H). (Sumber: Pemerintah Kota Sabang)

Coba amati baik-baik peta Pulau Weh di bawah ini.

Beneran mirip huruf W kan?

Terlepas dari mana yang fakta dan bukan, pamor Kota Sabang dan Pulau Weh ternyata sudah begitu melejit sejak zaman saudagar. Nggak percaya? Ini dia ringkasan sejarahnya.

  • Tahun 301 SM: Ptolomacus mengenalkan Pulau Weh dalam peta ekspedisi para pelaut.
  • Abad ke-12: Sinbad berlabuh di Pulau Weh.
  • Tahun 1869: Terusan Zues dibuka, Pulau Weh jadi persinggahan kapal para saudagar.

FYI: Diketahui sejarah tulisan yang otentik tentang Pulau Weh justru dimulai dari tahun 1881. (Sumber: Pemerintah Kota Sabang)

  • Tahun 1881: Belanda mendirikan Kolen Station di Teluk Sabang.
  • Tahun 1883: Atjeh Associate dibentuk oleh Belanda.
  • Tahun 1895: Kolen Station resmi beroperasi di bawah Atjeh Associate.
  • Tahun 1896: Vrij Haven di Sabang dibuka untuk perdagangan umum.
  • Tahun 1899: Sabang Maatschappij jadi pelabuhan internasional.
  • Tahun 1942: Imbas PD II, pelabuhan Sabang terpaksa ditutup.
  • Tahun 1945: Indonesia merdeka, tetapi Sabang masih dimiliki Belanda.
  • Tahun 1950: Hasil KMB, Sabang dikembalikan ke Indonesia.
  • Tahun 1959: Semua aset Sabang Maatschappij dibeli Pemerintah Indonesia.
  • Tahun 1963: Sabang jadi Pelabuhan Bebas.
  • Tahun 1964: Proyek Pelabuhan Bebas Sabang ditata ulang.
  • Tahun 1965: Kotapraja Sabang dibentuk.
  • Tahun 1970: Aturan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Sabang dibentuk.
  • Tahun 1985: Pelabuhan Sabang ditutup. Pelabuhan Batam dibuka.
  • Tahun 1993: Growth Triangle mendorong pembukaan ulang Pelabuhan Sabang.
  • Tahun 1997: Sabang dikembangkan lagi sesuai hasil Jambore IPTEK.
  • Tahun 1998: Kota Sabang jadi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu.
  • Tahun 2000: Sabang jadi Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas.

Nah, sampai tahun 2002 geliat perdagangan bebas di Sabang terus tumbuh. Barang-barang dari luar negeri pun tak sedikit yang membanjiri pelabuhan Sabang.

Oya, tahun 2004 Aceh sempat diterjang gempa dan tsunami, apakah Sabang ikut terkena dampaknya?

Eksistensi Sabang sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas sempat terhenti, karena aksi kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bahkan pemberontakan ini membuat Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer. Kondisi ini diperparah dengan bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004.

Namun, keberadaan palung yang sangat dalam di Teluk Sabang, membuat Sabang terhindar dari tsunami yang meluluhlantakkan Aceh daratan. Karena tidak terdampak tsunami, Sabang justru dijadikan tempat transit udara dan laut untuk bantuan korban tsunami Aceh. (Sumber: Wikipedia)

Emm, pasca tsunami Aceh 2004 silam, bagaimana keadaan Kota Sabang sekarang?

Bak peribahasa Habis Gelap Terbitlah Terang, kekelaman akibat gempa dan tsunami Aceh 2004, tak lantas meninggalkan keterpurukan. Sebaliknya, perekonomian Kota Sabang kembali bergairah. Bukan lagi karena statusnya sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas layaknya di zaman saudagar, melainkan karena sektor pariwisatanya.

Sebagai bukti, pada 2013, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Sabang mencapai Rp 36 miliar dan 70 persennya berasal dari sektor pariwisata. Bahkan, merujuk dari Badan Pusat Statistik Aceh 2013, sekitar 500 ribu sampai 1 juta wisatawan berkunjung ke Kota Sabang setiap tahunnya. Ini berarti hampir separuh wisatawan yang plesir ke Provinsi Aceh, memilih Kota Sabang sebagai destinasi utamanya. (Sumber: Kompas)

Lalu, potensi pariwisata apa saja yang bisa dinikmati di Kota Sabang?

Sekalipun pariwisata tidak pernah masuk ringkasan sejarah Sabang, namun dalam catatan sejarah nggak sedikit para saudagar yang mengakui keindahan alam Pulau Weh. Mulai pantai berpasir putih, danau yang cantik, gunung, spot diving super menawan, peninggalan sejarah hingga beragam monumen dapat dijumpai semuanya di Kota Sabang. Berikut beragam aktivitas favorit traveler saat plesiran ke beberapa destinasi keren Kota Sabang yang banyak diunggah di jagad Instagram.

Leyeh-Leyeh di Iboih Inn Resort and Restaurant

Menjelang sunset 🌴island life πŸ’•

A post shared by Astrid Caesaria (@tid_c) on

Senyum-Senyum Takjub Melihat Sunset di Pantai Iboih

πŸŒ… . . #timetadventures #wonderfulindonesia #pulauweh #sunrise #Jalan2Men #travel #projectvacation

A post shared by Amer Mohamad (@remamd) on

Pengin Snorkeling atau diving di Pulau Rubiah? Bisa Banget!

Friday #mermaid mode πŸ¬πŸ’• #wildwildweh 🐠🐠🐠

A post shared by Astrid Caesaria (@tid_c) on

Ini Yang Wajib: Eksis di Tugu Nol Kilometer

Kilometer Nol Indonesia! #tengoksabang

A post shared by Esvy | Octaviniant Aspary (@aspary) on

Pantai Kasih – Enaknya Bareng Kekasih

Nice place, nice weather, and nice people. #PantaiKasih #KotaSabang #GampongTanyoe #KutaAteuh #KKNUNS2016 #MengabdiTanpaBatas

A post shared by Muhaimin Anashir Nasuha (@muhaimin_anashir) on

Main Air Bareng Kawan di Gua Sarang

Ngadem di Air Terjun Pria Laot

Uji Adrenalin di Gunung Jaboi, Berani?

Apa hanya itu? Eits, itu hanya sebagian kecil saja. Ada banyak tempat-tempat menarik yang nggak kalah cantiknya untuk dijelajahi di Kota Sabang. Seperti yang bisa disimak pada peta wisata Kota Sabang di bawah ini nih.

peta-pulau-weh-sabang

Peta Pariwisata Sabang [Sumber gambar: spotwisata.com

]

Di Iboih yang tak lain nama sebuah desa ini saja ada dua pantai, yaitu Pantai Teupin Layeu (berpasir putih) dan Teupin Sirkui (berkarang). Ada lagi Pantai Gapang yang dekat dengan spot pemancingan di Pulau Rondo. Ada Pantai Anok Itam yang dekat dengan benteng Jepang dan berpasir hitam.

Terus ada Pantai Sumur Tiga yang bersih dan terdapat tiga sumur sumber air tawar di sepanjang pantainya. Ada Pantai Tapak Gajah, Ujung Kareung dan masih banyak lainnya. Oya, pas mau ke Tugu Nol Kilometer juga bakal melewati monkey road – semacam etape yang bisa menjumpai monyet liar di sepanjang jalan. Nah, yang nggak kalah asyik dikunjungi juga ada Danau Aneuk Laot yang tak lain dan tak bukan adalah sumber air tawar utama di Pulau Weh.

Kalau ngomongin instagram nih, sekarang kan lagi zamannya spot instagramable. Apa Kota Sabang punya juga?

Spot instagramable yang biasanya diidentikkan dengan tugu ataupun ‘tulisan’ – yang dijadikan latar berfoto sekaligus penanda seseorang pernah ke tempat tersebut, malah berhamburan di Kota Sabang. Nah, selain tulisan ‘Kilometer 0 Indonesia’, ‘I Love Sabang’ dan ‘Pulau Weh’, ada spot lain yang nggak kalah instagramable di Kota Sabang.

#AneukLaot #Lake #Sabang #PulauWeh #Aceh #West Part of #Indonesia

A post shared by Ricky Ananta Kusuma (@ricky_kwee) on

#selamatpagindonesia#weekend#kotasabang#pulauweh#ace#Indonesia

A post shared by @aldy_khalil on

Bagaimana dengan wisata kuliner dan belanja di Kota Sabang?

Pengin beli oleh-oleh khas Kota Sabang? Nggak usah khawatir. Sebab, para traveler yang sudah lebih dulu ke sana, nggak lupa membagikan pusat belanja oleh-oleh super kece di Kota Sabang. Misalnya di Piyoh! dan Pondok Belanga. Sedangkan soal kuliner, bisa langsung mengunjungi Taman Wisata Kuliner Kota Sabang.

Wiih, komplit ya. Emm, ada nggak waktu terbaik yang pas gitu untuk plesir ke Kota Sabang?

Karena Kota Sabang memiliki pesona wisata yang indah, maka kapanpun sebenarnya OK-OK saja berkunjung ke sana. Cuma, jika dilihat dari kondisi cuaca, curah hujan tertinggi di Pulau Weh dan sekitarnya terjadi pada bulan September hingga memasuki Oktober. (Sumber: Wikipedia)

Sebaliknya, waktu terbaik ke Kota Sabang antara bulan Maret-Agustus. Pada bulan-bulan tersebut Kota Sabang cenderung cerah lantaran sudah memasuki kemarau. Kebetulan juga pada 26-30 April 2016 akan digelar Sabang Marine Festival (SMF).

Ibarat pepatah Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui, sekali datang ke Kota Sabang pas SMF sama artinya dapat momen liburan berlipat. Pasalnya, saat SMF 2015 saja banyak sekali atraksi yang disuguhkan.

Mulai pagelaran seni budaya, seperti pertunjukan Tari Saman dan Tarek Pukat; Karnaval Budaya Aceh dan lomba memancing tradisional. Ada pula pertunjukan barongsai dan cerita anak bangsa. Dan pastinya, ada Tour Peserta Layar yang juga dimeriahkan oleh peserta baik dari penjuru nusantara maupun mancanegara.

Bagaimana dengan SMF 2016 nanti, ya? Emm, yang jelas nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata, bakal super duper amazing pokoknya. Dan, yang pasti bakal dobel-dobel keseruannya. Kapanlagi coba datang ke Kota Sabang bisa disambut Tarian Saman dan Pagelaran Budaya Aceh secara cuma-cuma? Kapanlagi juga bisa melihat pelayar-pelayar handal mengarungi lautan Sabang selain pas SMF?

Mari-Rayakan-Sabang-Marine-Festival-2016-Lewat-Tulisan

Sabang Marine Festival 2016 [Sumber foto: www.disbudpar.acehprov.go.id

]

Itulah spesialnya SMF. Kabar baiknya, guna meramaikan event yang sudah menjadi bagian agenda tahunan pariwisata Indonesia ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh menggelar ‘Sabang Marine Blogging Competition’. Yang menarik, pemenang kompetisi blog ini bakal diundang langsung saat pembukaan SMF 2016 lho. Cek tata caranya di sini!

Intinya berkunjung ke Kota Sabang tahun 2016 ini nggak bakal ada ruginya. Sebab, selain adanya SMF 2016, bulan Mei nanti ada Festival Sabang Fair 2016. Apalagi menurut Kemenpar sepanjang tahun 2016 Kota Sabang bakal dikunjungi 15 kapal pesiar. Pastinya, bikin momen berlibur ke sana kian asyik dan semakin berkesan (Sumber: Kompas)

Ok, dari pelajaran geografi, sejarah hingga pariwisata sudah dibahas gamblang. Menuju ke Kota Sabang sendiri sulit nggak sih?

Aha! Pertanyaan bagus. Anggaplah starting point-nya dari Jakarta, bisa ambil penerbangan Jakarta-Sabang yang (hanya) dilayani maskapai plat merah (baca: GIA). Pesawat akan transit di Bandara Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Baru nanti penerbangan dilanjutkan ke Bandara Maimun Saleh, Kota Sabang.

Yang perlu dicatat, pesawat menuju Kota Sabang ini berjenis ATR 72-600 yang mengangkut 70 orang saja. Selain itu, penerbangan ke sana hanya 3 kali dalam seminggu, yaitu pada hari Rabu, Jumat dan Minggu. Sementara, jika ambil penerbangan Jakarta-Banda Aceh, sesampainya di Bandara Sultan Iskandarmuda, lanjutkan perjalanan via jalur darat ke Pelabuhan Ulee Lheue.

Dari Ulee Lheue perjalanan berlanjut dengan berlayar menuju Pelabuhan Balohan, Kota Sabang. Nah, bagian yang perlu dicatat: pelayaran Banda Aceh-Sabang hanya 4 kali pulang-pergi sehari, yaitu kapal cepat 2 kali dan kapal lambat 2 kali. Jadi, bikin itinerary plus jadwal yang tepat dulu ya biar sampai Kota Sabang dengan selamat.

Terakhir nih, Aceh kan dikenal dengan aturan syariat Islamnya yang masih lekat, apakah ada pantangan tertentu mungkin yang sebaiknya tidak dilakukan saat ke Kota Sabang. Ya, agar sama-sama nyaman baik wisatawan maupun masyarakat lokalnya.

Secara umum, nggak ada peraturan yang terlalu mengekang traveler yang ingin plesiran ke Pulau Weh atau Kota Sabang secara keseluruhan. Hanya memang karena masyarakat Kota Sabang mayoritas muslim, paling tidak, tampil dengan pakaian yang ‘terlalu vulgar’ bisa diminimalkan. Ingat, keindahan alam Sabang boleh menyamai atau bahkan melebihi Bali, tapi bagaimanapun Sabang tetaplah bagian dari Aceh. Jadi, kudu saling bertoleransi, ya.

Selain itu, demi saling menjaga kenyamanan, berikut beberapa tips tepat yang sebaiknya diterapkan saat traveling ke Kota Sabang:

  1. Jangan mengenakan bikini atau pakaian renang yang terlalu vulgar. Sepantasnya lah, nggak melanggar norma-norma yang ditegakkan masyarakat setempat. Misalnya saat di Iboih yang penduduknya dikenal sebagai muslim yang taat.
  2. Beberapa daerah di Sabang ada yang menerapkan larangan melaut pada kamis dan jumat. Hal ini mengingat hari kamis dan jumat dianggap hari terbaik untuk bertobat dan mendekatkan diri kepada Tuhan bagi sebagian besar umat muslim, khususnya muslim di Sabang yang taat.
  3. Jika memang waktu plesiran cukup singkat dan kebetulan hari kamis dan jumat misalnya, cobalah untuk berembuk dengan penduduk sekitar. Sekiranya tetap bisa plesir, namun tak sampai mengganggu norma sekitar. Nggak usah khawatir, masyarakat Sabang dikenal hangat dan ramah dengan wisatawan.
  4. Jaga sikap dan perilaku. Sebagai orang Indonesia yang dikenal berbudi luhur, tak sulit kan berperilaku sopan dan bersikap santun saat menjadi wisatawan?
  5. Jika muslim, jangan lupa tetap salat lima waktu dan salat jumat. Sempatkan juga berkunjung ke Masjid Agung Babussalam Sabang yang punya asitektur megah dan indah.
  6. Jika menyelam tak perlu memegang apalagi merusak biota laut seperti karang. Karena sekali dirusak, butuh berpuluh-puluh tahun sebuah karang bisa kembali utuh dan indah menawan.
  7. Jangan mengambil karang, pun menangkap ikan. Jangan pula mencemari lautan.
  8. Ikuti petunjuk dive master agar tak sampai menginjak maupun merusak biota laut.
  9. Jaga kebersihan. Baik di gunung, danau, hutan, pantai hingga lautan. Jika tak menemukan tempat sampah, simpan dalam satu wadah dan buang di tempat sampah sekitar penginapan.
  10. Jauhi vandalisme. Jangan mencoret-coret spot wisata, seperti di Tugu Nol Kilometer dan lainnya. Mari bangun kesadaran diri untuk menjaga keindahan pariwisata Sabang, pariwisata Indonesia secara bersama-sama.
  11. Siapkan segalanya secara matang: a) bikin itinerary yang tepat; b) atur biaya yang dibutuhkan; c) hindari bawa barang berlebihan; d) bawa uang secukupnya; e) tentukan mau pilih plesiran ala backpacker atau via travel agent; f) rencanakan jauh-jauh hari, terlebih yang perlu menempuh perjalanan jauh menuju Sabang.
  12. Jangan lupa berdoa, agar selamat pulang-pergi, dan bisa kembali berjumpa dengan keluarga di rumah.

Wah-wah, nggak terasa sudah sepanjang ini tulisannya. Semoga dari yang nggak mengerti sama sekali tentang Sabang dan Pulau Weh jadi mengerti, yang sudah mengerti semoga tambah jatuh cinta lagi dengan Sabang, usai membaca ulasan informasi ini. Nggak salah memang jika Sabang disebut sebagai kiblat pariwisata Aceh. Semakin Sabang berbinar, semakin berkibar pariwisata Aceh, pariwisata Indonesia.

Sampai ketemu di Sabang Marine Festival 2016, sampai berjumpa di Kota Sabang tercinta.

Advertisements

18 thoughts on “Sabang Berbinar, Pariwisata Aceh Berkibar

  1. Penuh dan berisi. Saya suka plot dalam tulisan ini. Bukan sekedar memberi informasi, tapi juga turut menghadirkan inspirasi. Porsi gambar dan tulisannya uga seimbang. Jadi nggak bikin pembaca bosan. Semangat! πŸ˜€

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s