Dusel-Duselan di Museum MTD

DSCN2778

Tjieee… yang mendadak malu-malu saat dijepret πŸ™‚ [Fotografer: Iwan Tantomi]

Pernah dengar tentang Museum Malang Tempo Doeloe kan? Atau, pernah tahu ada festival unik bertajuk Malang Tempo Doeloe? Hmm, baiklah jika memang belum pernah dengar dua-duanya. Masih dalam rangkaian acara Ultah Blogger Ngalam ke-8. Selain ngajak peserta kopdar spesial di Resto Inggil nan unik plus talkshow bareng narsum kece, panitia juga mengajak jelajah lintas waktu di Museum Malang Tempo Doeloe (MTD).

Museum yang diresmikan 22 Oktober 2012 oleh Ketua Dewan Kesenian Malang sekaligus pemilik museum, Dwi Cahyono ini, berlokasi sekitar 50 meter jalan kaki dari Balai Kota Malang. Lokasinya berdempetan dengan Resto Inggil yang sama-sama berlokasi di Jalan Gajahmada Malang. Atau, dari stasiun kota Malang menyusuri trotoar Jalan Kertanegara sampai gedung DPRD belok kiri. Di situlah Jalan Gajahmada berada.

Sekalipun bernama MTD, bangunan depannya tampak modern. Tapi, akan ada banyak kejutan saat masuk ke dalamnya. Mula-mula bayar tiket dulu. Sekadar info: pelajar ditarif Rp 10ribu, warga Malang Rp 15ribu dan wisatawan dari luar Malang Rp 25ribu. Karena kunjungan kali ini bonus acara kopdar, saya langsung dapat tiket dan masuk ke museum yang buka setiap hari dari jam 8 pagi hingga 5 sore ini.

Namanya juga kopdar, gratisan lagi, otomatis yang ikut berjibun. Sementara hanya ada satu museum guide, jadi tampak nggak berimbang. Imbasnya yang nggak denger, sibuk ngobrol sendiri, sampai-sampai suaranya mengalahkan penjelasan Pak Akbar, pemandu museum. Untungnya, saya masih sempet dusel-dusel di sekitar bapake, jadi masih nangkep penjelasannya sambil serentak bilang ‘Ooooow’ dan manggut-manggut bareng peserta lain!

This slideshow requires JavaScript.

Menurut Pak Akbar, 1,5 juta tahun yang lalu Malang merupakan sebuah danau purba yang di kelilingi pegunungan, seperti Bromo Tengger, Semeru, Arjuno, Kelud dan Kawi. Perlahan air danau menyusut membentuk daratan, hingga ditemukan oleh orang-orang kuno yang kebetulan pas menyusurinya banyak pohon yang malang-malang (Bahasa Jawa; menghalangi). Karena alasan itulah, kata ‘malang’ akhirnya dijadikan nama daerah baru bernama Malang.

Ilmu paleontologi yang disampaikan Pak Akbar nggak sebatas menjelaskan asal-asul kota Malang, tetapi juga temuan fosil zaman pra sejarah hingga beragam Arca dan pecah belah dari masa sejarah kerajaan Majapahit. Menyusuri hutan kerajaan Kanjuruhan dari 750 M, kami tiba di masa sejarah kerajaan Majapahit Singasari.

This slideshow requires JavaScript.

Tampak patung Ken Arok yang merupakan salah satu pemimpin paling ikonik sekaligus kontroversial dalam sejarah kerajaan Singasari sedang bertapa. Sementara Pak Akbar kembali mengisi wawasan sejarah kami dengan penjelasan silsilah kerajaan Singasari dan Majapahit secara detail. Berpindah waktu ke ruangan selanjutnya, kami bisa melihat temuan-temuan arkeologi, berupa arca dan prasasti peninggalan era sejarah di Malang.

This slideshow requires JavaScript.

Masuk era kolonial, diorama berganti dengan rempah-rempah dalam toples yang tak lain buruan negara asing di zaman penjajahan. Sementara dari kalangan masyarakat lokal, dapat dijumpai beragam alat tradisional zaman dulu, seperti pembuat tembikar, lesung padi plus penumbuknya. Bahkan, ada diorama pawon atau dapur tradisional seperti di rumah nenek!

This slideshow requires JavaScript.

Memasuki Malang pada tahun 1767, kami dibawa ke dalam area benteng masa serikat dagang VOC. Beragam surat penting pun masih sangat jelas dan terawat dalam bingkaian pigura. Perjalanan terus membawa kami ke masa terakhir kolonialisme. Pada diorama kali ini, mulai ada banyak teknologi yang mewarnai kemodernan Malang, seperti kamera untuk surat kabar, sepeda kumbang, mata uang hingga logo Malang yang sekilas mirip logonya Chelsea FC!

This slideshow requires JavaScript.

Menuju era kemerdekaan, banyak diorama dan set ruangan yang cukup instagramable. Mulai set cermin tanpa batas, diorama penjara di masa pendudukan Jepang lengkap tahun 1943, diorama proklamasi kemerdekaan, diorama peresmian Alun-Alun Tugu oleh Bung Karno tahun 1945, hingga ragam bukti benda-benda yang pernah populer di Malang era 80-90an, seperti alat musik, jajanan tradisional, permainan hingga pakaian yang seluruhnya menjadi identitas Malang Tempo Doeloe.

This slideshow requires JavaScript.

Tampaknya, Pak Dwi paham banget, cara untuk memikat pengunjung khususnya kawula muda agar bergairah masuk museum. Meski sebenarnya diorama yang dibikin nggak lebih dari sebuah ruangan yang diset dengan beberapa lorong yang menyerupai labirin, tapi penataan yang apik dengan konsep timeline sejarah Malang yang pas, mampu memberikan penyegaran untuk sebuah konsep museum yang berbeda. Tambahan wallpaper yang tak biasa, akhirnya bisa menghidupkan keadaan Malang di segala masa yang berbeda.

DSCN2776

Terus, paijo dan painem kesenengan saat tahu yang blur bukan mereka tapi tiket masuk museumnya. Errr, kudunya kan sebaliknya! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Well, untuk ukuran sebuah wisata sejarah, Museum Malang Tempo Doeloe ini benar-benar pas untuk dikunjungi segala macam usia. Selain bisa memperbarui wawasan sejarah Malang, juga menjadi alternatif liburan tak biasa di akhir pekan. Bahkan, bagi kamu-kamu yang instagrammer banget, beragam spot menarik di museum ini, layak untuk dijadikan tambahan koleksi unggahan foto di Instagram. Di mana lagi coba, bisa nemuin spot sejarah di museum yang instagramable banget dengan harga mulai cebanan?

Nah, wabil khusus, buat Blogger Ngalam matur suwun banget sudah bikin kopdar spesial rasa penuh kenangan. Terimakasih sudah diundang. Terimakasih sudah diberi tiket masuk museum gratisan. Terimakasih sudah diberi makan enak di Restoran Inggil. Dan, terimakasih telah membuat akhir pekan saya di Malang waktu itu penuh kesan dan tambahan wawasan. Terus berkarya dan ditunggu kopdar-kopdar ajib berikutnya. πŸ™‚

Advertisements

13 thoughts on “Dusel-Duselan di Museum MTD

  1. Entah gimana caranya aku tiap kali muter di daerah sana, nyari lokasi museum itu gak pernah ketemu. Jadilah sampe sekarang blm sempet nyicip ke sana, padahal udah gatel banget pengen maen ke museum MTD. -_-

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s