Breathtaking Views of Senggiling

DSCN2293-001.JPG

Breathtaking views of Senggiling [Fotografer: Uswatun Hasanah]

Satu demi satu perjalanan saya ke Bintan coba saya nikmati. Membaurkan diri dengan masyarakat lokal, memberanikan diri bertanya hal-hal unik di sekitar, juga sekadar ndusel-ndusel agar bisa dikasih info seputar tempat menarik yang layak dikunjungi. Frasa terakhir itulah yang membuat saya selalu beringas setiap kali melakukan perjalanan ke tempat baru. Bagi saya, nggak mungkin nggak ada tempat menarik yang minimal bikin senyum sendiri saat melihatnya. Bahkan, sambil menghibur diri, segersang-gersangnya Bintan, saya yakin ada tempat indah yang tersembunyi di baliknya.

Bukan tanpa alasan, selama enam hari berlalu, saya selalu dibikin takjub dengan tempat-tempat epik yang nggak dinyana-nyana. Bayangkan saja, di balik semak belukar dengan tanah pasir tandus terdapat ceruk besar serupa danau bernama Gongseng. Siapa yang sangka, ada bangunan serupa igloo atau gumuk pasir seperti gurun di tengah desa yang adem ayem bernama Busung? Siapa juga yang mengira di sebuah pulau isolatif bernama Kelong yang tampak gersang dengan selusin anjing liar menyimpan keindahan panorama bak daratan Afrika?

Semuanya bisa saya jumpai langsung berkat adanya kemauan untuk mengenal warga lokal. Andai saja saya acuh dan memilih ikut paket wisata misalnya, yang saya dapat mungkin hanya wisata populer saja, tanpa pernah tahu keindahan Bintan dari sisi lainnya. Begitu halnya dengan destinasi yang akan saya datangi kali ini. Masih di Bintan tepatnya di hari terakhir perjalanan, saya memilih menepati janji saya untuk mengunjungi salah seorang teman SM-3T yang mengabdi di pedesaan bernama Senggiling.

Padahal, dalam itinerary saya masih tersisa Kota Tanjung Pinang yang belum sepenuhnya saya ubek-ubek. Tapi, karena cerita teman saya, bila Senggiling menyimpan pesona alam yang indah dan belum terjamah, saya jadi tertarik untuk melihatnya. Bagi saya, menemukan hal baru selama perjalanan jauh lebih berkesan daripada sebatas mengunjungi wisata populer.

Daydreaming in the Classroom

DSCN2035

Salah satu sisi bangunan SDN 001 Teluk Sebong [Fotografer: Iwan Tantomi]

Perjalanan menuju Senggiling dimulai dari Busung, karena kebetulan homestay saya di sana. Lokasi yang dituju adalah SDN 001 Teluk Sebong. Dari Busung ke SD ini dapat ditempuh sekitar 43 menit. Alasannya menuju ke sekolah, bukan karena ingin mengajar, tapi teman SM-3T yang saya kenal tinggal di sekolah. Masih ingat cerita tentang teman saya yang juga SM-3T di Pulau Kelong? Kondisinya kurang lebih sama dengan teman saya yang ada di Senggiling. Sama-sama tidur di sekolah, bedanya kalau yang Pulau Kelong tidurnya di UKS, yang di Senggiling tidurnya di perpustakaan.

Bisa dibayangkan betapa gigihnya perjuangan mereka untuk mengajar di daerah terluar, tertinggal atau terdepan dari batas NKRI. Tapi, dengan melihat mereka langsung, saya justru tak iba dengan keadaan mereka. Sebaliknya, saya salut, takjub dan bangga sekali karena masih ada guru-guru muda yang masih peduli dan bahu-membahu mencerdaskan generasi bangsa Indonesia. Soal kondisi, saya yakin mereka adalah orang-orang yang tangguh dan nggak bakal menyerah hanya karena fasilitas pendidikan yang kurang memadai.

IMG_8934

Jika di sekolah umumnya makan diperpustakaan di larang, di Senggiling dilegalkan, bahkan dijadikan kandang, eh, kosan teman-teman SM3T. Bukan karena nggak kuat ngekos atau ngontrak, tapi karena nggak ada bangunan lain di sekitar yang bisa disewa untuk tempat tinggal. Semangat man teman! [Fotografer: Widyuta]

Oya, bicara tentang fasilitas, bangunan sekolah dasar di Senggiling ini sudah jauh lebih baik. Artinya sudah berbentuk gedung dengan dinding dan atap kokoh yang layak huni. Namun, ketika saya tengok ruang kelasnya yang bisa terlihat dari kaca luar jendela, sedikit terenyuh lantaran dari deretan bangku yang ada bisa ditebak nggak banyak murid yang sekolah di sini. Kebetulan ada ruang kelas yang terbuka, saya masuk dan perhatikan dengan saksama. Satu ruangan yang disekat menjadi dua kelas, berdindingkan kayu. Ruangan sebelah kiri hanya dihiasi tiga bangku, ruangan sebelahnya berisikan lima buah bangku yang berbaris  tiga di kiri dan dua di kanan.

DSCN2023

Bersyukurlah pernah bersekolah dengan banyak teman. Meski kelasnya di sekat 2, semoga murid-muridnya kelak jadi orang besar semua. Amiin! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Masing-masing juga dilengkapi papan tulis, satu meja guru dan yang nggak ketinggalan foto simbol negara, yaitu presiden dan wakil presiden. Di situlah saya mulai diam sejenak, membiarkan pikiran saya dijejali bayangan gelak tawa murid-murid yang sedang antusias masuk kelas. Saya tersenyum, melihat mereka begitu semangat belajar. Satu-satu mengungkapkan cita-citanya di depan kelas. Ada yang mau jadi presiden, dokter, polisi, tentara hingga nelayan seperti orangtuanya.

Namun, senyum saya perlahan memudar, tatkala melihat keriangan semu murid-murid yang harus sabar menunggu untuk diajar karena terbatasnya jumlah guru. Saya pun langsung merasa tak tega, saat menatap kepolosan mereka kala menerima fasilitas pendidikan yang – semestinya bisa mereka terima jauh lebih baik dari – ala kadarnya. Terlebih saat tahu kenyataan murid di sini rajin bersekolah, walau hanya berjumlah total 32-an anak dalam satu sekolahan. Semoga nasib mereka bisa lebih baik dari Laskar Pelangi atau bisa seberuntung Lintang yang akhirnya bisa dapat beasiswa kuliah di luar negeri.

“Ayo, terbangkan!”, seketika pikiran saya kembali tersadar saat terhentak suara teriakan. Ketika saya toleh, spesies aneh sedang lari-lari main layang-layang dengan kostum kaus bersepeda bahan lateks warna royal blue, stocking putih, celana kargo selutut warna sea green, flat cap hitam plus sport sunglasses sekonyong-konyong membuyarkan pujian guru muda yang mulia pada teman saya yang mengabdi di Senggiling. Entah sedang pura-pura stres atau gila beneran, yang jelas saya nggak habis pikir dengan ulah konyol makhluk satu ini. Memang sih, sekolah sedang liburan, nggak ada murid pun guru-guru lain, tapi, ya, nggak gitu juga kali mengungkapkan kegembiraan!

Ancene Cah gemblung! (dasar bocah edan!)”, celetuk teman saya yang lain. Tampaknya beberapa pasang mata yang melihat saat itu sepakat memberikan dia gelar ‘edan’! Anyway, sadar sudah ditunggu dari tadi, akhirnya teman saya yang edan itu sudah insaf dan sadar diri bila dari tadi ditunggu untuk menunjukkan tempat yang dielu-elukannya surga dunia itu. Setelah semua kembali normal, eh, sudah siap, kami langsung berangkat ke sebuah pantai bernama Pantai Pasir Panjang.

Breathtaking in Pasir Panjang’s (Long-Sands’s) Beach Senggiling

Seperti beberapa lokasi tersembunyi yang pernah saya jumpai di Bintan, perjalanan menuju pantai di Senggiling ini saya pasrahkan pada si empunya jalan. Sebagai lokasi yang belum saya kenal, apalagi belum terjamah, saya nggak berekspektasi berlebihan. Bahkan, googling pun sengaja nggak saya lakukan biar saya benar-benar mendapatkan kejutan. Malahan, saya dapat SMS roaming dari operator seluler karena sudah masuk wilayah Malaysia. Helloooo.. sejak kapan saya terbang ke Malaysia?

Sepanjang perjalanan, jalur perlintasan berubah dari aspal, makadam ke tanah berpasir. Medannya pun demikian. Dari naik-turun perbukitan, membelah sabana hingga menerobos hutan. Semua perlu dilalui dengan sabar, walau sesekali bikin misuh-misuh lantaran terjerembap di jalan yang rusak. Awalnya, nggak ada yang bikin spesial. Sejauh mata memandang hanya kegersangan yang melintang. Namun, saat memasuki sabana, senyum ringan terbentuk dengan sendirinya. Betapa terpananya kala mata disuguhi perbukitan hijau yang mengitari sabana luas dengan batuan granit dari kecil ke besar yang menyembul di antara padang ilalang.

“Gila!”, hanya itu kata yang bisa saya ucapkan. Tapi, saya masih belum menganggap ini WOW karena pemandangan serupa juga pernah saya jumpai saat menyusuri Pantai Banyu Anjlok di Malang. Aha! Mungkin sebentar lagi pantai yang indah benar-benar terlihat jelas di depan mata. Sebelum itu, rupanya harus menerobos hutan yang sunyi-sunyi angker sekitar 10 menit. Barulah setelah muncul dari hutan, mulut saya nggak bisa berkata apapun dan napas saya seolah berhenti sejenak. Gila! Saya baru merasakan breathtaking, Men!

Sebuah kombinasi panorama yang sempurna, langit yang menjulang tinggi dengan warna biru cerah dan sedikit gumpalan awan putih yang mirip kapas-lembut-yang-melayang. Di bawahnya, pasir pantai yang memanjang berwarna keemasan berpadu dengan batuan granit yang berceceran layaknya pantai di Pulau Belitung. Lautan luas yang bergradasi dari biru, ke biru muda, hingga tosca saat mencium bibir pantai semakin mempercantik tampilannya. Pemandangan kian sempurna dengan ilalang hijau yang menari-nari karena dibelai angin laut, di perbukitan tempat saya berdiri tercengang yang langsung menghadap lautan. Sungguh, inikah surga dunia?

DSCN2256.JPG

Hanya di sini aja, sabana bercampur pasir pantai dan lautan biru bebas kerumunan manusia [Fotografer: Iwan Tantomi]

DSCN2285.JPG

Langit biru, pepohonan rindang, bebatuan granit, pasir keemasan, lautan bersih dan ombak yang beriak pelan. Ah, damainya! [Fotografer: Iwan Tantomi]

DSCN2338.JPG

Sore hari yang tenang, lengang dan menyejukkan, Pantai Pasir Panjang memang jempolan! [Fotografer: Iwan Tantomi]

Nggak saya sia-siakan, sisa sehari di Bintan saya nikmati dengan berlama-lama di pantai yang jika ditag di Instagram bernama Pantai Segala Sri Bintan, Teluk Sebong, Kabupaten Riau, Kepulauan Riau ini. Nyemplung di laut dan guling-guling di pasir pantai pun jadi kegiatan yang nggak terlewatkan. Sejenak pula saya sunbathing, hingga tertidur dan tahu-tahu kulit saya jadi gosong. Lalu, bangun lagi untuk island-hopping dan melihat batu yang katanya berlafaskan Allah, menjumpai batu granit raksasa seperti pantai di Belitung, hingga kaki saya terkena benda hitam yang lengket di kulit.

Mulanya, saya pikir sejenis alga atau Echinodermata yang bisa mengeluarkan tinta lengket sebagai pertahanan diri. Tapi, setelah saya pegang kok berminyak. Alamak! Kaki saya ketempelan tumpahan minyak mentah. Yup, keindahan pantai ini memang sedikit ternoda dengan ceceran minyak mentah dari kapal di lepas pantai. Karena sedang musim angin utara, gelombang besar akhirnya membawa ceceran minyak mentah tersebut hingga ke pantai. Untung, warga sekitar menyarankan saya membersihkannya dengan minyak goreng dan sabun cair, jadinya saya dan sebagian teman-teman yang juga kena jebakan batman ini, bisa bersih kembali dari noda minyak mentah.

DSCN2341-001.JPG

Baru di sini, perbukitan dengan sabana luas menghadap langsung ke lautan lepas. [Fotografer: Iwan Tantomi]

Namun, secara keseluruhan keindahan alami dan keasrian pantai-yang-apapun-namanya di Senggiling ini, bikin liburan ke Bintan berhasil dipungkasi dengan penuh kesan. Satu lagi keindahan Indonesia berhasil saya renggut dalam memori di Bintan.

Advertisements

10 thoughts on “Breathtaking Views of Senggiling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s