Supir Angkot Juga Manusia

Jangan menilai buruk satu kelompok, hanya gara-gara pernah melihat satu anggotanya berbuat buruk! Kata-kata itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran saya, setelah sempat mengalami pagi yang cukup memalukan, tapi memberikan saya banyak pelajaran.

Suatu ketika, saya mau berangkat kerja dengan menaiki angkot. Karena buru-buru, saya jadi nggak terlalu intens memeriksa isi tas. Saya lihat sekilas barang-barang penting kayaknya sudah masuk semua, termasuk dompet dan handphone. Beberapa meter sebelum turun dari angkot, saya segera menyiapkan ongkosnya. Tapi, saat saya rogoh saku baju, nggak ada duit sama sekali, pun saat merogoh saku celana. Nggak ambil pusing, tas segera saya buka dan periksa dompet. Whaaaat?! Dompet kosong nggak ada uang sama sekali. Ada kartu ATM, tapi mana mungkin bayar angkot bisa pakai debit! Andai ada EDC atau mesin geseknya, memang bisa transfer duit 4 ribu aja?

Saya coba untuk menenangkan diri sambil ingat-ingat, kemana uang sisa beli makan kemarin malam, seingat saya masih ada di kantong celana. Perasaan masih ada beberapa duit, kok sekarang nggak ada. Saya pandangi warna celana saya, kok abu-abu. Lha kemarin warna cokelat. Astaga! Ternyata celana yang saya pakai hari ini beda dengan yang kemarin. Dengan kata lain, duit saya ternyata tertinggal di kosan. Errr!

Beragam rencana mulai saya pikirkan. Saya kepikiran untuk pinjam penumpang yang lain, terus saya minta nomor rekening atau nomor HP-nya agar lebih mudah dikembalikan. Masalahnya, penumpangnya hanya dua selain saya. Dua-duanya adalah anak sekolah. Mau pinjam, uang saku mereka pasti nggak banyak, apalagi mereka masih SMP, mana mungkin punya kartu ATM!

Rencana pertama, saya anggap tak mungkin. Rencana kedua sekaligus yang paling nekad adalah bicara jujur pada supirnya, jika uang saya ketinggalan. Ini adalah pengalaman pertama saya nggak bawa uang saat naik angkot, tapi saya pernah melihat ada penumpang yang nggak bawa uang dengan beragam alasan, ujung-ujungnya didamprat dengan suara lantang sampai penumpangnya malu. Waduh, bagaimana nanti kalau saya sampai dicekik. Bisa masuk koran dah!

Pikiran mendadak kalut dan seolah heboh sendiri di angkot. Tempat berhenti saya rupanya mau sampai, dengan memberanikan diri dan membulatkan tekad, saya pun bilang, “Pak, maaf, uang saya ketinggalan, bisakah ditunggu sebentar, saya akan ambil uang di ATM dulu?”. Dengan detak jantung yang rasanya sudah jedag-jedug dari tadi. Apalagi, sejak saat saya naik angkot, belum ada satu pun penumpang yang bertambah. Hadoh!

Saya berpikir pagi itu akan menjadi pagi terburuk saya. Namun, apa yang saya pikirkan tampaknya terlalu lebay. Benar saja, dengan ringan, bapaknya justru membalas, “Bawa saja, Mas!”. Maksudnya saya nggak perlu bayar gitu. Sambil menarik tuas gigi si angkot, si bapak meninggalkan saya yang meringis keheranan. “Owh, terimakasih, Pak. Maaf, pak, ya!”, sahut saya.

Dari situ saya langsung berpikir telah membuat banyak kesalahan di pagi hari. Kesalahan pertama sudah jelas, akibat keteledoran saya yang langsung ngacir ke kantor tanpa periksa isi tas, supir angkot harus menanggung rugi. Mungkin uang 4 ribu itu nggak banyak, tapi bagi supir angkot bisa saja 4 ribu itu adalah penentu makan tidaknya keluarga pak supir di rumah. Kesalahan kedua, saya sudah berburuk sangka ke supir angkot. Hanya karena pernah melihat satu supir angkot yang kurang pengertian pada kondisi penumpangnya, terus menuduh semua supir punya kelakuan yang sama.

Padahal, supir angkot juga manusia, punya rasa punya hati, nggak bisa dicap semuanya sadis bak pisau belati. *Jadi ingat lagu ‘Rocker Juga Manusia’ miliknya Seurieus* Tidak semua supir angkot itu semena-mena pada penumpang. Ada pula yang bermurah hati – walau mungkin beberapa supir angkot ada yang harus berat hati, tidak menerima ongkos penumpang. Tapi, saya sangat menghargai dan terbantu atas kemurahan hati supir angkot tersebut. Karena bantuannya, saya jadi bisa sampai di kantor tepat waktu, sudah gitu gratis lagi.

Semoga bapak supir angkot tersebut mendapatkan kebaikan yang sesuai dengan apa yang sudah dia berikan. 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Supir Angkot Juga Manusia

  1. keinget jaman SD, SMP aku selalu naek angkot karena letak sekolahku jauh sama rumah. sekolah di daerah UM dan rumahku di Kebonagung kab malang
    pulang sekolah, kehabisan duit transpot tetep nekat naik angkot, haha dari pada gak pulang.
    dengan segenap akal dan fikiran anak smp, setelah sampai di tujuan, “pak, dibayarin sama orang yang dibelakang ya..” hihihihi
    aku asuu poll ..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s