Karena Pertemuan Tak Sengaja Bisa Berbuah Cinta

cinta sejati

Karena Pertemuan Tak Sengaja Bisa Berbuah Cinta [Hak Milik Foto: Behance]

Tsaah… kata-katanya gambarin banget kalau saya masih muda, heee. Cinta yang menggelora memang identik sama kaum muda. Selain karena masanya, juga karena usia muda sering dianggap awal manis dari momen sebuah percintaan. Yang semula biasa saja, lama-lama menumbuhkan rasa karena sering berjumpa. Begitulah cinta, berjuta rasanya. *puter lagu eyang Titiek Puspa*

Bukan hanya saya, mungkin Anda juga pernah mengalami yang namanya cinta. Terlebih cinta pada pandangan pertama. Begitu bahagianya, karena hati sepanjang hari jadi berbunga-bunga. Ups, jadi baper! Mungkin menjadi hal biasa bila lelaki tertarik pada wanita hingga berbuah cinta. Namun, menjadi hal yang istimewa bila cinta berkembang dari ketertarikan sebuah benda.

Benar sekali, selain manusiawi sebagai seorang lelaki yang jatuh hati kepada wanita, perasaan cinta juga tumbuh dari dalam diri saya pada kartu perdana. Bermula dari ketidakberuntungan tinggal di desa yang hampir nggak kebagian sinyal. Padahal, zaman sudah beralih dari telepon rumahan ke telepon genggam. Tapi, masih saja sinyal jadi barang langka yang selalu jadi buruan.

Tahun 2007 adalah kali pertama saya kenal telepon genggam. Jangan bayangkan, waktu itu hape nggak secanggih sekarang, yang bisa disentuh-sentuh. Jangankan begitu, muter musik aja belum bisa, paling banter dengerin poliponik. Itu tuh nada dering abadi hape monokrom jaman dulu yang bunyinya mirip kotak suara berbentuk dua patung ciuman. Meski begitu, saya sudah senang banget memilikinya. Hasil nabung berbulan-bulan, akhirnya (baru) punya hape sendiri pas SMA.

Waktu itu, urgensi fungsi hape masih sebatas telepon dan SMS. Paling tidak, berkat kehadiran telepon genggam yang lebih praktis, kebiasaan telepon-teleponan di wartel mulai sedikit terkurangi. Saya pun bisa lebih santai tanya kabar si doi tanpa harus antre panjang di kotak wartel yang lebih mirip bilik pemilu. Duh, jadi berasa lawas banget! Namun, kendala pakek HP adalah kudu punya kartu perdana.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, di kampung halaman saya waktu itu belum ada sinyal yang berlimpah. Jadinya saya harus tanya sana-sini, kira-kira operator seluler apa yang sinyalnya paling berkah. Muncullah jawaban XL. Oke deh, tanpa pikir panjang langsung saja saya beli kartu perdana XL: Jangkauan Luas dengan nomor 081945332xxx. Saya sih nggak ngarep fitur muluk-muluk waktu itu, yang terpenting jangkauan sinyalnya luas seperti tagline yang tertera di bungkus kartu perdana.

Hal yang paling saya ingat, di desa tempat saya tinggal, penjual pulsa dianggap yang paling pinter teknologi, hanya karena mereka sendiri yang bisa mendaftarkan kartu perdana. Saya yang melihat muka tukang konter yang serius sambil pencet-pencet hape dan lihat nomor KTP seakan takjub melihat kejeniusannya. Padahal, setelah tahu, registrasi kartu perdana ternyata nggak butuh otak yang jenius-jenius amat seperti yang saya kira. 😛

Setelah registrasi beres, mulailah saya coba dan sinyalnya benar-benar kenceng. Nggak ada yang paling bikin senang waktu itu selain hape saya akhirnya bisa digunakan untuk teleponan dan SMS-an. Norak banget ya! Hal lain yang juga nggak bisa saya lupakan adalah perilaku masyarakat saat mencari kartu perdana. Bukan fitur unggulan dan banyak bonus yang ditawarkan oleh operator seluler, tetapi justru nomor cantik.

Mungkin Anda pernah mengalami masa di mana nomor cantik jadi primadona layaknya bidadari yang turun dari surga. Dan, itu pernah saya alami. Nggak peduli apa merek hapenya, berapa banyak jumlah pulsanya, atau bonus apa saja yang akan diterima, yang paling ngetren saat itu adalah nomor cantik. Bahkan, teman-teman sejawat saya bilang, “Anak gaol masa kini itu yang nomornya cantik“. Beruntungnya nomor saya dianggap cantik.

Nggak jelas apa yang membuat nomor cantik begitu membuat orang jadi tergila-gila. Yang jelas, mereka yang punya nomor cantik dianggap kaum berduit, populer dan kekinian. Sungguh tren pergaulan yang aneh, jika diingat-ingat lagi. Hee. Padahal, nomor saya yang dianggap cantik cuma saya beli 10rb waktu itu. Mungkin karena nomor cantik lebih mudah diingat kali ya. Saya sih nggak ambil pusing, malah setelah tahu lebih banyak, saya justru mulai tertarik dengan fitur yang ditawarkan XL dari sebatas memuja-muja nomor cantik.

Setahun berlalu menggunakan XL, saya baru tahu bila operator seluler yang saya pilih ini ternyata menawarkan banyak fitur dan bonusan. Ngapain aja coba? Iya jika dipikir-pikir awal-awal pegang hape, memang saya katrok banget, sampai pulsa yang nggak habis-habis untuk telepon dan SMS selama ini baru saya sadari karena bonusan yang saya dapat dari XL. Kirim 2 SMS, langsung dapat bonusan 24 jam. Telepon beberapa menit, bonusannya juga berjam-jam.

Lucunya, saya baru sadar bila bonusan itu saya dapat karena lawan main saya sama-sama pakek XL. Fitur unggulan ini lama-lama jadi dambaan, bahkan temen-temen SMA yang notabene doyan gratisan, mulai melirik XL. Menariknya lagi, XL termasuk operator yang terbilang murah meriah, makin bertambahlah ketertarikan untuk menggunakan XL hingga akhirnya berbuah cinta. Ciyee!

Terpaksa Berpisah

Bukan migrasi permanen, tapi sementara alias merantau. Selepas SMA, seperti beberapa kawula muda yang beruntung lainnya, saya berkesempatan untuk kuliah. Pendidikan tertinggi ini saya lanjutkan di kota Malang. Kawasan yang banyak dikenal sebagai kota pendidikan. Terbukti memang, bukan sebatas julukan, karena faktanya banyak perguruan tinggi favorit bertetanggaan.

Sebagai kota, sinyal di Malang tentu sudah melimpah. Apalagi XL di kawasan ini sudah mendukung koneksi 3G. Mestinya saya bisa gembira sambil jumpalitan, karena dapat koneksi kelas dewa. Tapi, apalah arti sebuah koneksi jika hape saya begitu-begitu saja. Iya, hingga merantau saya masih pakek hape monokrom hasil tabungan saya waktu SMA. Beberapa tahun lalu, mungkin hape poliponik bisa bikin pemiliknya jemawa. Tapi, ini jaman udah berubah Cin. Hape pencet-pencet malah sering dibilang lebih cocok buat dilemparin, maaf, ke anjing. Tetot!

Saya mulanya nggak ambil pusing, meski hanya menggenggam hape butut yang sewaktu-waktu bisa dilemparin ke anjing, paling tidak masih bisa berkomunikasi via telepon atau SMS ke teman. Tapi, lama-lama hape yang bisa disentuh-sentuh sudah jadi kebutuhan. Iya, kebutuhan buat ngirim email, googling referensi dan akhirnya lebih banyak dibutuhkan untuk sosial media. Lagian, sayang juga kan koneksi 3G dibiarin mubazir begitu saja.

Setelah menabung dari kiriman bulanan, akhirnya punya hape layar sentuh. Hape boleh ganti rupa, tapi kartunya masih setia sama yang lama, XL punyalah. Alasannya beragam, pertama nomor sudah terlanjur cantik – meski sudah nggak penting lagi di era saat ini, banyak kontak yang tersimpan serta bonusan yang sulit bikin saya berpindah ke lain hati. Kesetiaan ini sebenarnya sempat diuji ketika sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saya pikir, saya yang orang desa bakal biasa dengan lokasi KKN yang (katanya) back to village itu. Nggak tahunya, lebih nggak biasa. Karena lokasi KKN bukan desa lagi, tapi pedalaman, yang pastinya miskin sinyal.

Untungnya, XL benar-benar jadi pasangan paling setia. Di kala operator yang katanya punya akses super cepat hingga ke pelosok desa saja keok, XL yang paketan data dan pulsanya lebih murah justru punya sinyal melimpah di sana. Sontak deh bikin saya ngakak sambil guling-guling kegirangan. Sementara, temen-temen saya pada ngedumel dan bete seharian. Iseng-iseng saya komporin agar mereka pakek XL yang sinyalnya kuat. Padahal, tujuannya agar saya lebih sering dapat bonusan, bila teleponan atau SMS-an dengan operator seluler yang sama.

Tapi, kegirangan itu akhirnya nggak bertahan lama. Hape semata wayang sekaligus yang paling canggih yang saya miliki, terjun bebas di sungai. Kok bisa? Ceritanya sungainya jernih dan bersih, masyarakat masih memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari. Jadilah saya diminta temen-temen cewek untuk ambil air di sungai. Sebelumnya, saya sempat teleponan, terus saya masukin hapenya ke saku depan baju. Karena males diomelin dan perut keburu laper, saya langsung ambil timba dan ambil air ke sungai untuk keperluan memasak.

“Cem… pluuk…”, semacam suara benda yang kayak jatuh ke dalam air. Tiba-tiba perasaan saya nggak enak, sambil pelan-pelan lihat ke kaki yang terendam dalam air sungai dangkal nan jernih. Kaki saya kayak kejatuhan sesuatu. Huwaaaaa! Hape saya diving. Karena panik, timba air langsung saya lempar dan buru-buru ambil hape. Dinginnya air sungai ternyata bukan saja membuat kaki saya kaku, tapi bikin hape saya pingsan dalam waktu lama.

Karena sedang berada di lokasi KKN, saya nggak bisa mendapatkan ganti hape lain. Sementara hape jadul saya ada di kosan yang jaraknya berpuluh-kilometer dari lokasi KKN. Mau nggak mau, kartu sim saya mangkrak, karena nggak ada hape buat mengaktifkannya. Apesnya, sebulan nggak kepakek, ternyata kartu sim saya sudah lewat masa tenggang. Alamak! Makin rungyam rasanya.

Selepas pulang dari KKN, hape saya bisa diperbaiki, tapi kartu sim saya nggak terselamatkan. Lima tahun menjalin cinta bersama XL, akhirnya harus terhenti hanya karena doi terlalu semangat nyemplung di kali. Ibarat saya yang selalu terkagum-kagum dengan muslimah, cinta saya pada XL tetaplah membara. Meski dengan berat hati harus memilih yang baru, tapi saya nggak beralih ke lain operator. Harapan untuk menjadi lebih baik membuat saya menjatuhkan pilihan kartu perdana XL: XLangkah Lebih Maju! untuk dijadikan tambatan hati yang kedua.

Hal yang membuat saya langsung jatuh hati kepadanya adalah paketan internet yang lebih lengkap dan pastinya cepat. Soal nomor, memang nggak secantik yang pertama. Hanya 087859420xxx, cenderung rumit kan? Sejak awal memang saya nggak tergila-gila dengan nomor cantik, tapi karena fitur yang menarik. Toh setelah di save, nomor yang muncul di kontak akan berganti menjadi nama, bukan lagi nomor rumit yang bikin orang tulalit.

Filosofi kartu perdana ini nggak hanya bikin saya memiliki cerita yang menyulut tawa, tapi Life with XL juga memberikan pemahaman bila cinta sejati hati bukan sebatas cantik semata. Dikatakan cinta sejati bila sejak awal datangnya dari hati ke hati. Karena dengan hati, pertemuan yang tak sengaja bisa membuahkan rasa yang dinamakan cinta. *plok, plok – tepuk tangan sambil bersiul*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s