Air Jakarta Bukanlah Bencana

jakarta

Minimnya lubang resapan biopori membuat Jakarta sering tergenang saat musim hujan [Hak Milik Foto: Nurcholis / Rex Features/Telegraph]

Tingginya arus urbanisasi, membuat segala kebutuhan hidup di Jakarta membumbung tinggi. Mereka yang memiliki bekal memadai dapat memenuhi kebutuhan hidup, seperti sandang, pangan dan papan secara layak. Sebaliknya, bagi yang pergi ke Jakarta hanya bermodalkan nekat, akan merasakan kerasnya hidup di ibukota. Hal inilah yang kemudian menjadi cikal bakal timbulnya ketimpangan sosial.

Yang satu bisa tidur di kasur empuk, sementara yang lain hanya beralasakan kardus lapuk. Yang satu kalau makan sering sisa dan dibuang, sementara lainnya harus menderita karena kelaparan. Yang satu bisa berenang dengan air melimpah, sementara yang lain harus berebutan air untuk mengobati dahaga.

Dua hal berbeda tersebut tanpa disadari telah menjadi cermin dua sisi Jakarta. Soal lapar mungkin masih bisa ditahan, tetapi soal haus bisa membuat setiap orang yang berada di Jakarta lemas nggak karuan – akibat dehidrasi. Banyaknya pendatang yang hijrah ke Jakarta, tidak saja membuat ibukota semakin penuh sesak. Lebih dari itu, kebutuhan air bersih juga semakin meningkat. Belum lagi kehadiran kolam renang di setiap hotel, apartemen dan rumah-rumah mewah, kian menguras debit air tanah Jakarta secara besar-besaran.

Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta

Kondisi Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta yang kian memprihatinkan [Hak Milik Foto: Kementrian ESDM]

Penggunaan air tanah Jakarta yang kurang tepat ini, akhirnya menimbulkan dampak yang memprihatinkan. Dilansir dari laman Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dijelaskan jika kondisi Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta saat ini sudah memasuki zona kritis sampai rusak. Hal ini karena eksploitasi air tanah yang sudah di atas ambang batas normal dari yang direkomendasikan. Mantan Kepala Badan Geologi, Kementrian ESDM, R. Sukhyar, menjelaskan seharusnya batas maksimum eksplotasi air tanah hanya sampai 20%, sementara di Jakarta air tanah terkuras hingga 40%.

Lebih lanjut, berdasarkan data Badan Geologi, Kementrian ESDM, neraca air tanah Jakarta saat ini berupa air tanah (dalam) 52 juta m3 per tahun. Sedangkan pengambilan air tanah (dalam) 21 juta m3 per tahun atau sebanyak 40%. Padahal, eksploitasi air tanah harus memperhatikan ketersediaan air tanah dalam lapisan batuan dan CAT. Jika tidak, akan menimbulkan perubahan pada CAT hingga kerusakan lingkungan, seperti tanah ambles (land subsidence) dan intrusi air laut.

Sebelum dampak negatif tersebut terjadi, Menteri ESDM pernah memberikan solusi pencegahan yang tak lain hasil dari lokakarya ‘Pendayagunaan Air Tanah Jakarta Berbasis Cekungan Air Tanah’ di Gedung Prof Sudarto, Undip Semarang pada tanggal 27 Juni 2009. Solusi pencegahan tersebut terulas dalam laman Kementrian ESDM yang antara lain berisikan:

  • Untuk mencegah terjadinya penurunan pembentukan air tanah, maka perlu melindungi daerah imbuhan air tanah.
  • Pengambilan air tanah di daerah lepasan (groundwater discharge area) perlu dikendalikan agar bisa mencegah penurunan ketersediaan air. Di samping itu, penggunaan air tanah juga perlu dilakukan seefektif mungkin, termasuk prioritas penggunaan air tanah untuk kebutuhan pokok sehari-hari secara lebih efisien.
  • Kualitas air perlu dikelola dengan baik serta diperlukan pengelolaan pencemaran air secara terpadu.
  • Diperlukan sosialisasi intensif tentang pentingnya pengelolaan air tanah yang berorientasi pada kelestarian lingkungan.

Adanya solusi pencegahan ini semestinya bisa menjadi langkah positif untuk mulai menjaga dan menyelamatkan air tanah Jakarta. Hanya, langkah positif ini tak akan bisa berjalan efektif dan maksimal jika dilakukan oleh satu orang. Perlu kesadaran bersama baik dari instansi pemerintah maupun masyarakat untuk mewujudkannya. Tak bisa dipungkiri air bersih menjadi kebutuhan bersama, maka sudah sepantasnya bila semua kelompok dan golongan bisa saling bahu-membahu untuk menyelamatkan air tanah jakarta.

Solusi Lebih Mudah Melalui Teknologi Sederhana

Selain mengaplikasikan paket solusi pencegahan yang disampaikan oleh Menteri ESDM, masing-masing personal juga bisa berkontribusi menyelamatkan air tanah Jakarta dengan cara yang lebih mudah. Belakangan metode ini mulai banyak diterapkan, terlebih saat banyak kalangan baik pejabat publik maupun praktisi lingkungan menyuarakannya untuk mengatasi masalah banjir Jakarta. Apalagi kalau bukan, Lubang Resapan Biopori (LRB).

Istilah Biopori ini pertama kali mencuat, setelah dicetuskan oleh Dr Kamir R Brata. Peneliti dari IPB ini mencetuskan LRB sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah (sumber: Tim Biopori IPB). Sementara nama ‘biopori’ sendiri digunakan, karena teknologi ini memanfaatkan aktivitas fauna tanah atau akar tanaman (bio) yang membentuk lubang-lubang serupa terowongan kecil (pore) di dalam tanah. Sedangkan istilah ‘Lubang Resapan Biopori’ merujuk pada lubang silindris yang dibuat vertikal ke dalam tanah.

Lubang Resapan Biopori

Lubang Resapan Biopori [Hak Milik Foto: Alamendah]

Siapapun dapat membuat LRB ini secara mandiri. Caranya dengan membuat lubang silindris berdiameter 10 cm dan kedalaman 100 cm – bisa kurang 100 cm jika air tanahnya dangkal. Jika ingin membuat LRB dalam jumlah banyak, bisa diatur dengan jarak 50-100 cm. Agar mulut LRB tidak mudah runtuh, maka dapat diperkuat dengan semen selebar 2-3 cm di sekeliling mulut lubang. Selanjutnya, isi dengan sampah organik seperti sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan atau pangkasan rumput. Jika isinya berkurang akibat proses pelapukan, tambahkan sampah organik baru ke dalam lubang. Kompos yang sudah jadi, bisa diambil di setiap akhir musim kemarau sekaligus untuk menjaga fungsi LRB (sumber: Cara Membuat Biopori).

Berkat teknologi sederhana sekaligus multiguna ini, LRB mampu mengurangi genangan akibat banjir yang sering jadi langganan Jakarta, mencegah erosi dan longsor, serta meningkatkan cadangan air bersih dan kesuburan tanah. Selain itu, sampah organik yang sedianya tak terurus, juga akan menjadi kompos. Itu artinya akan mengurangi emisi gas metan yang tak lain salah satu penyumbang pemanasan global (sumber: Keunggulan Biopori). Beragam manfaat tersebut telah teruji secara ilmiah di lahan percobaan sejak tahun 1993, hingga pemanfaatan secara empiris di berbagai tempat. Demi membuktikan hasil temuan ini benar-benar bermanfaat, Dr Kamir menerapkan LRB di sekitar rumah dan kantornya, dan terbukti bermanfaat (sumber: Kamir R Brata: Penemu Lubang Resapan Biopori).

Pemanfaatan LRB dalam Skala Besar

Karena memiliki manfaat besar secara ekologi maupun lingkungan, teknologi biopori ini perlahan sudah mulai banyak diterapkan di sejumlah daerah. Di Jakarta, gerakan satu juta biopori atau sumur resapan pernah dicanangkan oleh Indonesia Global Compact Network (IGCN), yang bertujuan untuk meningkatkan debit air tanah sebanyak 700 juta liter (sumber: beritasatu). Hal serupa, juga pernah diterapkan oleh pemerintah kota Malang, agar bisa mengatasi banjir saat musim hujan tiba (sumber: Antara). Bahkan, gerakan 15.000 lubang resapan biopori di Probolinggo mampu memecahkan rekor MURI saat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2011 (sumber: Sindo News). Gerakan yang paling baru penerapan LRB ini dilakukan oleh pemerintah Bogor. Menurut Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, pihaknya menargetkan lima juta LRB sepanjang tahun 2015. Jika dapat terealisasi dengan baik, LRB dapat membantu mengurangi banjir di wilayah DKI Jakarta (sumber: Republika).

LRB

Lubang Resapan Biopori (LRB) sebagai langkah mudah untuk menyelamatkan air tanah Jakarta sekaligus solusi bagi banjir di ibukota [Hak Milik Foto: Radio DFM]

‘Orang Bogor’ saja sudah berusaha membantu mengurangi banjir Jakarta, masa yang tinggal di Jakarta diam saja. Padahal, manfaatnya juga akan kembali dirasakan oleh warga Ibukota. Jika Jakarta bebas banjir, tinggal di Jakarta juga akan nyaman dan tidak perlu repot-repot (langganan) mengungsi karena banjir. Begitu juga soal kebutuhan air bersih. Jika air tanah Jakarta bisa diselamatkan, lingkungan tetap lestari dan ekologi terjaga dengan baik, maka ancaman krisis air dan kerusakan cekungan air tanah tak akan pernah terjadi.

Langkah ini seyogyanya bisa disadari dan diterapkan secara bersama-sama oleh semua penghuni Jakarta. Hal ini mengingat air sungai Jakarta tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari lantaran berpolusi dan berbahaya untuk dikonsumsi maupun sekadar untuk mandi. Sebaliknya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penduduk Jakarta menggunakan air bersih perpipaan, seperti yang dikelola oleh Aetra. Air bersih perpipaan tersebut juga bersumber dari air tanah Jakarta. Apabila suatu saat air tanah Jakarta habis atau mungkin tak lagi layak konsumsi karena intrusi air laut, maka mau tak mau air perpipaan pun akan terkena imbasnya. Kelangkaan air bersih yang selama ini dikhawatirkan pun bukan tak mungkin akan benar-benar melanda ibukota.

Mumpung masih bisa dilakukan pencegahan, mari lubangi Jakarta demi selamatkan air tanahnya dari sekarang.

———————————————————-

banner aetra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s