Kado Singkat dari Madinah

IJAZ TRDG TR-28

Kado Singkat dari Madinah [Hak Milik Foto: Firefly Daily]

Berbicara tentang #LebihBaik, semua orang pasti berharap ingin mengalaminya. Kebetulan, salah satu hal yang membuat momen lebaran saya tahun ini #LebihBaik dari sebelumnya adalah perjumpaan dengan sahabat lama. Sebut saja Ammar. Dia adalah salah satu sahabat terbaik saya saat SMA. Sudah hampir 3 tahun terakhir saya tidak berjumpa dengannya. Bukan tanpa alasan, keberuntungan mendapatkan beasiswa membuat sahabat satu ini akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Tanah Arabia.

Sejak 2011 Ammar mendapatkan beasiswa S1 di salah satu perguruan tinggi di Madinah. Kecerdasannya di bidang sastra Arab, mengantarkannya untuk bisa belajar di sana. Semasa SMA, dia memang sering mengungkapkan keinginannya untuk bisa menimba ilmu di luar negeri. Apalagi, sekolah kami punya relasi yang cukup baik dengan perguruan tinggi di Timur Tengah. Tak heran, bila siswanya banyak yang bermimpi ingin menuntut ilmu ke sana.

Dari waktu ke waktu, Ammar kian menggebu-gebu untuk berburu beasiswa. Terlebih setelah beberapa senior kami yang sudah lebih dulu sukses sekaligus alumni kampus-kampus tersohor Timur Tengah, datang ke acara workshop yang diadakan sekolah. Sontak, membuat banyak siswa berapi-api, termasuk sahabat saya ini. Pasca lulus, saya memang sempat berpisah dengannya. Namun, saya masih bisa berkunjung ke rumahnya saat sedang liburan kuliah.

Tidak seperti saya, yang langsung melanjutkan kuliah setelah lulus sekolah, Ammar justru memilih untuk bekerja. Keterbatasan dana membuatnya harus banting tulang demi mencukupi perekonomian keluarga. Sejauh yang saya ketahui, keluarganya memang sangat sederhana. Namun, mereka dianugerahi pemikiran dan akal yang luar biasa. Kelebihan ini membuat Ammar, kakak dan adiknya bisa memperoleh pendidikan dengan baik melalui jalur beasiswa. Hebatnya lagi, rata-rata bisa masuk sekolah favorit dan berkualitas secara gratis.

Keberuntungan itu sebenarnya cukup meringankan beban keluarga, karena orangtua hanya perlu memberikan dukungan dan doa maksimal kepada anak-anaknya. Apalagi sekarang, kakaknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Sementara adiknya tinggal di asrama, usai berhasil mendapatkan beasiswa di salah satu sekolah internasional di Malang. Beban perekonomian yang ditanggung Ammar sebenarnya tidak begitu berat. Dia pun bisa memberikan hasil kerjanya secara maksimal untuk membantu orangtuanya. Namun, sebagaimana lulusan SMA pada umumnya, tak banyak perusahaan yang bisa menempatkannya pada posisi yang menguntungkan. Walhasil, dia pun harus berpindah-pindah pekerjaan.

Sampai akhirnya, Ammar memutuskan untuk merantau ke Madura. Di sana, dia ikut dengan kerabat orangtuanya. Insentif yang lebih besar membuat tekadnya bulat untuk banting tulang di Pulau Garam. Di satu sisi, jauhnya jarak dan padatnya aktivitas kuliah membuat saya hanya bisa bertanya tentang kabarnya di perantauan lewat SMS. Seolah berjodoh, perantauannya ke Madura ternyata berbuah hasil. Pelan-pelan dia mulai bisa mengumpulkan pundi-pundi penghasilan dan mampu membahagiakan orangtuanya.

Saya pun sempat iri ketika dia menceritakan kesuksesannya. Meski begitu, saya tidak sampai hati mengucapkannya, karena baginya bekerja bukanlah pilihan yang membahagiakan. Ammar masih ingin lanjut sekolah, mewujudkan mimpinya belajar ke Timur Tengah. Sebagai hiburan, saya juga tak pernah bosan memberikan informasi beasiswa. Harapan saya, dia bisa mendapatkan beasiswa layaknya yang saya terima dan melanjutnya S1-nya di Indonesia. Sambil berproses, barulah melanjutkan S2 ke sekolah impiannya.

Mungkin Inilah yang disebut mimpi sejati, meski sudah sempat tertunda beberapa tahun, tapi asanya untuk bisa belajar di luar negeri tetaplah berapi-api. Beruntungnya, Ammar memiliki orangtua yang cerdas dan mengerti betapa pentingnya sebuah ilmu. Memahami mimpi anaknya yang begitu membara, orangtua Ammar akhirnya memintanya untuk berhenti bekerja. Sebagai gantinya, Ammar diminta fokus belajar agar bisa ‘terbang’ lebih cepat. Sementara urusan informasi dan relasi perihal beasiswa, berusaha dibantu oleh orangtuanya.

Bagi saya, usaha yang dilakukan orangtuanya Ammar itu bukanlah sesuatu yang mengherankan. Semasa muda, kedua orangtuanya pernah tinggal dan bekerja di Madinah, sehingga memiliki pengalaman dan relasi yang cukup luas agar bisa ke sana dengan mudah. Itulah alasannya, kenapa tempat lahir Ammar bertuliskan Madinah di KTP-nya. Walau akhirnya melanjutkan SD di Indonesia, namun kenangan masa kecil di Madinah tak pernah memadamkan bara semangatnya untuk bisa balik lagi ke sana.

Pada akhirnya mimpi itu terwujud juga. Kabar baik darinya akhirnya menghampiri saya. Lama tidak berkomunikasi, tahu-tahu sudah kirim email bila dia sekarang sekolah di Madinah. Tentu saja saya senang mendengarnya, walau agak sedikit kecewa karena tidak sempat mengantar kepergiannya. Tiga tahun berselang, tiga tahun pula saya tidak berjumpa dengannya. Komunikasi lewat email mulai jarang, apalagi via SMS yang mustahil dilakukan.

Kesibukan masing-masing rasanya membuat hubungan kami agak jauh. Oleh karena saya lebih dulu lulus kuliah, maka lebih cepat pula masuk dunia kerja. Sama halnya dengan pekerja lain, momen lebaran juga saya manfaatkan untuk mudik ke kampung halaman. Namun, tiba-tiba saja sehari sebelum mudik, ada SMS bertuliskan,

“Aku lagi ada di rumah. Nggak ada niatan mampir nih? Ammar.”

Sontak agak sedikit membuat saya tertegun. Bukan karena nomornya yang ‘cantik’ melainkan nama ‘Ammar’ yang ada di akhir pesan.

Tak berselang lama, langsung saya balas, “Serius ini Ammar?”. Ketika dibalas, “Iya!”, langsung saya putuskan untuk mampir dulu ke rumahnya. Kota tempat tinggal Ammar berada di Pasuruan. Karena masuk jalur utama mudik di Jawa Tmur, setiap mau mudik dari Malang menuju Surabaya, bakal melintasi kota ini dulu. Faktor ‘sejalur’ inilah yang membuat saya tak perlu lama mengambil keputusan untuk mampir. Selain tidak perlu memutar arah untuk mudik, rumahnya juga dekat jalan raya, jadi cukup mudah menemukannya usai turun dari bus antar kota.

Awalnya agak ragu, karena rumahnya sepi. Namun, ketika mau balik, dari belakang terdengar suara seruan ‘Assalamualaikum’. Suara yang sangat tidak asing, tapi lama sudah tidak mendengarnya. Kami pun berpelukan sesaat. Sekilas ada yang berbeda dengan tampilannya, karena dia sudah menumbuhkan janggut. Hee. Karena masih puasa Ramadan, kami hanya berbincang, berbagi cerita satu sama lain. Saya pun memutuskan bermalam sehari, setelah diminta keluarganya.

Masjid Jami' Kota Pasuruan

Pertemuan singkat itu, juga kami manfaatkan untuk ziarah ke Makam KH Abdul Hamid Pasuruan

Dari hasil perbincangan saat siang hari, kami sempat mengagendakan berziarah ke salah satu makam ulama tersohor yang ada di Pasuruan, yaitu KH. Abdul Hamid atau yang akrab dipanggil Mbah Hamid. Meski tujuan awalnya untuk mewarnai akhir Ramadan dengan zikir, iktikaf dan tadarus, yang sekaligus mencari berkah Malam al-Qodar, bagi saya agenda ini menjadi perjumpaan yang sangat bermakna. Bukan hanya bisa berbagi cerita sembari menyeruput kopi di Alun-Alun Pasuruan – yang kebetulan letaknya berdekatan dengan tempat ziarah, saya juga banyak belajar tentang wawasan keagamaan yang lebih universal darinya.

Tak salah memang jika saya menganggap Ammar menjadi salah satu sahabat terbaik. Bukan sekadar menjadi teman belajar, tapi juga sosok terbaik yang bisa diajak saling mengingatkan ketika satu sama lain melakukan kesalahan. Lewat perjumpaan singkat ini pula, saya merasa bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan di penghujung Ramadan. Andai saja Ammar tidak pulang, mungkin tak ada rencana ziarah, zikir dan belajar agama bersama yang membuat Ramadan lebih penuh pahala. Mungkin yang ada, saya langsung pulang dan membiarkan Ramadan berakhir begitu saja.

Sungguh, Ammar sudah menjadi hadiah berharga yang didatangkan Tuhan langsung dari Madinah. Kehadirannya, telah membuat lebaran saya tahun ini menjadi buah Ramadan yang #LebihBaik dari sebelumnya.

Advertisements

4 thoughts on “Kado Singkat dari Madinah

      • aku jaraaaang juara satu lo mas. Sampeyan hebat! Apalagi yg ikut kontes ini blogger2 langganan juara loh 🙂 Rejekiii yaaa 🙂 AKupun tahun lalu ikutan sun life blog contest juga kandassss hahahahah *curcol*

        Like

      • ‘blogger langganan juara’ —> nyindir nih, hahahaha, masih toddler saya mbak infant malah, baru 2 tahun berjalan jadi blogger, setelah sekian lama vakum. Kalau juara berkali-kali, total hadiahnya juga bakal melebihi juara satu, Ahahaha

        Justru saya banyak belajar dari mbak @bukanbocahbiasa. Baru aja lahir, udah sok berani ikutan lomba, hasilnya cuma ngaploo karena belasan artikel terkirim nggak satupun juara, heee. Tapi, saya niatin untuk belajar nulis memang awalnya, karena bagi saya blogging itu saat dimana segala yg kita tulis bisa mulus terbit tanpa diobok-obok editor. Soal prestasi biarlah sebagai bonus dan evaluasi diri saja. Jiaaah, jadi sok bijak. 😀

        Hatur nuwun sudah sering banget nget nget mengunjungi blog saya, jadi motivasi itu, dikunjungi blogger hebat 🙂

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s