Traveling Ngejoss Demi Secangkir Kopi Joss Jogja

kopi-joss-yogyakarta-8-740x493

Traveling Ngejoss Demi Secangkir Kopi Joss Jogja [Foto: sprudge.com]

Segar, nikmat dan membuat tubuh kembali bergairah, mungkin itulah yang saya rasakan setelah minum kopi.

Minuman yang satu ini bukan hal yang asing bagi saya. Sejak kecil, saya sudah dikenalkan dengan kopi. Terlebih saat berkunjung ke rumah nenek. Eyang buyut saya termasuk maniak kopi kelas berat. Bahkan saking gandrungnya, nenek bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya apabila tidak minum kopi sehari saja. Kebiasaan unik ini akhirnya menular juga ke saya. Bedanya, saya nggak sampai sakau bila nggak minum kopi. Namun, tetap saja, minum kopi sudah menjadi tradisi unik yang bagi saya sangat berarti.

Setiap tegukan kopi yang saya minum selalu bisa mengingatkan kenangan bersama nenek. Bagaimana nenek mengajari tentang kerja keras, nggak mudah menyerah dan piawai bersyukur, semua terbalut dalam momen minum kopi. Itulah kenapa minum kopi, tradisi yang patut saya lestarikan, terlebih saat saya sudah tidak bersama lagi dengan nenek. Ke manapun saya pergi, selalu saya sempatkan untuk minum kopi.

Beragam kopi sudah saya coba setiap kali singgah di suatu daerah. Walau begitu banyak pilihan kafe yang menyajikan kopi istimewa, entah kenapa kopi lokal menjadi pilihan yang utama. Mungkin dari tegukan kopi lokal itulah saya bisa lebih mengingat kenangan bersama nenek. Akhir tahun 2014, saya berkesempatan berkunjung ke Yogyakarta untuk ketiga kalinya. Kali ini saya memutuskan backpacker dengan beberapa teman. Fokus tujuannya, saya arahkan untuk wisata budaya dan kuliner, khususnya hal-hal unik yang belum pernah saya nikmati saat kunjungan ke Jogja sebelum-sebelumnya.

Selama ini angkringan menjadi salah satu ikon kuliner di Yogyakarta. Namun, bukan sembarang angkringan yang ingin saya datangi. Dari beberapa informasi yang saya peroleh, juga dari beberapa teman, di daerah yang nggak jauh dari Malioboro ada Angkringan Lik Man. Nah, yang membuat saya penasaran bukan sego kucing maupun jajanan ndeso seperti yang sering dijajakan. Namun, minuman khas yang banyak menjadi jujukan para traveler saat berkunjung ke Kota Gudeg.

Angkringan Lik Man memiliki menu kopi yang menjadi favorit – atau lebih tepatnya membuat penasaran banyak orang. Apalagi kalau bukan Kopi Joss khas Angkringan Lik Man. Kopi yang disajikan dengan arang panas ini memang membuat saya begitu antusias untuk mencicipinya. Seringkali saya berpikir, apa nggak nyonyor meminum kopi yang sudah panas ditambah dengan arang panas yang membara? Tapi, justru karena rasa kepo itulah, saya jadi berambisi untuk menjajaki wisata kuliner Yogyakarta.

Sekilas memang nggak ada yang berbeda dengan penyajian Kopi Joss ini. Nggak ubahnya penyajian kopi tradisional yang sering dicontohkan nenek, kopi bubuk dan gula pasir langsung diseduh dengan air panas. Barulah setelah ditambahkan arang panas, terdengar bunyi ‘joss’ yang merupakan asal-muasal munculnya nama kopi tersebut. Tambahan arang itulah, yang menurut saya, membuat rasa Kopi Joss memiliki keunikan tersendiri.

Kopinya memang tidak terlalu kental. Rasa pahit kopinya juga bisa membaur dengan rasa manis gula secara pas. Kesederhanaannya memang begitu terasa di balik aroma khasnya yang seketika bisa menghangatkan badan. Terlebih Kopi Joss hanya tersedia di malam hari, sehingga benar-benar mantap dinikmati di tengah dinginnya semilir malam Kota Yogyakarta. Jujur saja, saya memang bukan Ahli Kopi, tapi kebiasaan meminum kopi sejak kecil membuat lidah saya begitu jeli menilai keunikan setiap kopi, siapa lagi kalau bukan karena nenek. 😀

Keunikan lainnya yang saya dengar dari beberapa pelanggan, ternyata Kopi Joss sudah menjadi minuman khas Angkringan Lik Man sejak tahun 1960-an. Pantas saja bila akhirnya menjadi kepingan sejarah Kota Jogja yang hingga hari ini masih ramai diperbincangkan. Hebatnya lagi, sebagian orang mengaku menggemari Kopi Joss karena bisa menangkal sakit perut. Widih! Sudah melegenda, bermanfaat lagi. Hmm, benar-benar nggak salah saya belain jauh-jauh dari Malang hanya untuk mencicipinya.

Selain rasanya yang unik, Kopi Joss patut direkomendasikan bagi para backpacker yang notabene traveling dengan modal cekak, seperti yang sudah saya lakukan. Hehehe! Sebab, harga Kopi Joss dijamin nggak bakal menguras kantong deh. Bermodalkan 10 ribu hingga 20 ribu saja, kita sudah bisa menikmati kopi yang melegenda ini – sudah termasuk pula makanan angkringan yang begitu lezat disantap. Yumm!

Dari Yogyakarta, satu lagi keunikan kopi lokal sukses saya rasakan. #DibalikSecangkirKopi Joss, berbuah kenangan yang tak bakal saya lupakan.

Facebook: Iwan Tantomi | Twitter: @i_onetantomi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s