Perang Sambal

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pernah kah berpikir, kenapa satu warung ramai pembeli dan satu lagi begitu sepi?

Padahal yang dijual ya sama. Awalnya, saya nggak begitu ambil pusing, tapi kok lama-lama bikin kepo juga! Bagi saya, ramainya orang dagangan menjadi sebuah fenomena tersendiri. Ssst, bukan fenomena gaib lho ya! Walau sebenarnya, sebagian orang menganggap faktor laris itu datangnya dari keberuntungan. Sementara lainnya, masih menganggap dari dukun lha, penjaga ini itu dan lain sebagainya. Sungguh terlalu!

Berbeda dengan anggapan orang yang sudah ada, pandangan yang ingin saya bangun berdasarkan fakta. Mantan mahasiswa gitu lho! Segala yang ditemukan harus didasari dengan pemikiran empiris, minimal ada alasan kuat yang bisa mendasarinya. Untuk merealisasikannya, saya iseng-iseng melakukan pengamatan. Nggak ketinggalan, tanya alasan kenapa warung satu ramai sementara yang lainnya sepi kepada beberapa pembeli.

Memang, dikatakan riset, hal yang saya lakukan ini jauh dari kajian ilmiah. Boro-boro pakai angket, metode aja asal jeplak. Hihihihi! Paling nggak, apa yang sudah saya lakukan bisa memberikan jawaban dari beberapa hal yang sudah bikin saya kepo. Tentunya dengan alasan yang jelas, bukan argumen aneh-aneh yang bagi sebagian orang sudah nggak relevan di era vampir naik mobil mewah atau manusia serigala bawa motor ke mana-mana.

Sementara untuk variabel – biar agak ilmiah-ilmiah dikit gitu, saya batasi warung lalapan yang menurut saya idaman anak kosan. Apalagi kalau bukan harganya yang murah meriah. Tapi, bukan harga yang saya tekankan. Menurut saya, lalapan memiliki cara pengolahan yang sama, tinggal nyemplung dalam minyak dan digoreng sampai matang. Soal rasa, bagi saya nggak jauh-jauh beda. Asin dan gurih, terkadang ada sedikit pahit karena gosong atau minyaknya yang super duper KW. Alasan lainnya, sejauh mata memandang, warung lalapan inilah yang memang pembelinya kurang berimbang.

Nah, jika rasa lalapan sebenarnya sama saja, maka yang paling membedakan di sini tentu saja sambalnya. Lalapan nggak akan lezat disantap tanpa kehadiran sambal. Dari sini saya menduga, laris nggaknya warung lalapan bergantung racikan sambal yang disajikan. Ternyata, hasilnya sungguh mencengangkan. Hampir semua responden – padahal nggak ada kuesioner, anggap saja pembeli, menyebutkan ketertarikannya pada warung lalapan karena racikan sambal.

Menurut mereka, sambal adalah hal terpenting dari sebuah lalapan. Nggak ada yang bisa dinikmati dari makanan murah, selain sambal yang benar-benar bisa menggoyang lidah hingga keringat bercucuran bak kuli bangunan. Dengan sambal yang tepat pula, hidangan yang sebetulnya berasa biasa-biasa saja seperti lalapan, menjadi begitu nikmat disajikan. Uniknya beberapa orang menyebutkan sambal lalapan yang enak itu ada kriterianya.

Dari segi rasa, pas, baik asin, manis maupun asamnya – khususnya dari rasa asam jeruk nipis yang bikin ngiler. Ada lagi rasa gurih, walau mulanya saya agak bingung bagaimana bisa sambal berasa gurih. Namun, penjelasan mereka cukup masuk akal. Tambahan bawang putih, bawang merah dan beberapa rempah lainnya memang bisa membuat sambal menjadi sangat sedap. Barulah di tingkat terakhir, rasa pedas jadi prioritas. Saya juga heran sih kenapa rasa pedas yang identik dengan sambal justru berada di urutan terakhir. Namun, sekali lagi mereka meyakinkan bila sambal lezat itu adalah yang memiliki paduan rasa asin, manis, asam, gurih dan pedas yang tepat.

Mungkin celah inilah yang dilihat oleh para penjual. Nggak hanya sebatas menjual lalapan yang crispy, gurih maupun ukuran potongan ayam maupun bebek yang lebih besar. Para penjual lalapan juga berlomba menyajikan sambal terlezat dan terunik yang bisa mereka sajikan buat pembeli. Bahkan bisa dibilang perang sambal antar pedagang lalapan. Saya yang termasuk penggila sambal kelas berat, tertarik untuk mencobanya sendiri. WOW! Ternyata, para pedagang idaman anak kosan ini benar-benar menjual sambal.

Mereka yang sambalnya lezat tak terkira, bakal kualahan diberondong antrian pembeli. Sebaliknya, yang sambalnya di bawah standar, mesti nggak tega deh lihat tengah malam lalapan masih banyak karena sepi pembeli. Well, prinsip dagang ‘pembeli adalah raja’ sungguh berlaku dalam kompetisi ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s