UN, ih Sereum!

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Hati berdebar-debar, mondar-mondir nggak jelas, galau semalaman, dan yang nggak ketinggalan sungkem ke sana kemari kayak udah datang lebaran.

Hal-hal semacam ini bisa jadi hampir dialami oleh setiap siswa menjelang Ujian Nasional atau yang lebih kondang disingkat UN. Terlebih saat UN perdana di masa SD. Meski hasil keputusannya nggak ngaruh-ngaruh banget sama jenjang sekolah berikutnya (SMP), tapi anak-anak sudah main heboh sendiri. Memang sudah jadi ciri khas Indonesia kali ya.

Sebagian lagi, terutama anak-anak yang otaknya topcer, cenderung bersikap sebaliknya. Santai, penuh, percaya diri, bahkan nggak sedikit yang tebar pesona (baca: besar kepala). Yang jelas UN benar-benar menjadi momok pagi para pelajar Indonesia secara umum, baik yang masih bau kencur sampai yang udah bau asem – bau keringat, bau ketiak, macam anak kuliahan gitu. Untungnya, UN hanya mentok di SMA, sehingga anak kuliahan bisa bernapas lega (dikit) udah nggak ditakut-takutin sama kelulusan yang ditentukan dengan hitungan hari. Apesnya, justru kelulusan anak kuliahan ditentukan hanya hitungan jam. Apalagi kalau bukan ujian skripsi yang kata beberapa anak kuliahan penentu hidup dan mati. Weleh!

Disadari maupun tidak, ‘kengerian’ UN sebenarnya sudah bergema dari waktu ke waktu. Bahkan menurut saya dari tahun ke tahun ya sama aja kayak gitu. Pakai pensil 2B, penghapus 2B sampai bela-belain beli sepaket yang ada korotan dan penggaris bolong-bolong 2B. Alasannya masih sama, biar lebih jelas saat di screening dengan komputer. Hebatnya lagi, sampai ada try out khusus mengarsir bulatan LJK agar nggak njelembret ke mana-mana.

Lucunya, rasa parno saat menghitamkan bulatan LJK yang saya rasakan dari SD, SMP dan SMA sama. Ada pula teman saya yang gugup, gemetar, sampai tangannya keluar keringat berlebihan – ditambah mukanya yang mulai pucat, mirip banget kayak habis dikecengein mbak kunti. Entahlah apa yang membuat UN begitu menebar parno begitu.

Ironisnya, meski hampir digelar setiap tahun – dan tentunya dipublikasikan secara umum, hingga di dengar seluruh siswa seantero Indonesia. Jarang ada yang mulai mempersiapkan jauh-jauh hari, khususnya anak-anak SMA. Mereka yang menganggap SMA sebagai masa terindah, leha-leha sepanjang waktu. Bercanda sepanjang hari, nongkrong-nongkrong cantik, hingga dibela-belain bolos hanya untuk ngemall atau main futsal. Alamak! Itu yang baik, yang paling parah ya balapan motor sampai tawuran yang kadang nggak jelas sebab-musababnya. Duh!

Bagi anak yang rajin dan baik-baik, akan menghabiskan masa-masa sekolahnya lebih maksimal. Mereka sering dikelompokkan ke dalam anak-anak berotak encer. Selalu dipilih guru untuk maju ke depan, kalau istirahat ke perpustakaan, rajin menabung, tampilannya rapi, usai sekolah langsung ekskul. Pokoknya idaman sekolah banget deh. Belum lagi, jika prestasinya selangit, sudah barang tentu jadi idola yang selalu disebut saat upacara bendera. Hayhay!

Wajar saja bila saat UN mereka begitu tenang dan santai. Pergaulannya, juga asik – walau sebagian dari mereka sering dicap cupu. Nggak heran bila sering jadi korban bullying. Alih-alih ingin diperhatikan sekolah, eh nggak taunya semakin dibully oleh sekolah. Kok bisa? Coba deh, kalian pikir, ada suatu masa di mana saat UN anak-anak pinter sekolah disebar ke beberapa ruangan, dan diminta membagi jawabannya. Nah lho? Kesannya enak banget memang yang nerima, nggak perlu mikir tinggal nerima aba-aba sakti, mulai goyangan pensil, ketukan jari, sampai yang ekstrim langsung diseret LJK-nya.

Apa nggak kasihan mereka digituin? Meski umumnya mereka OK-OK aja sih. Herannya lagi, si pinter ini mendadak diakrabi banyak temen saat UN. Maklumlah, bagi mereka yang otaknya ngepres, pasti nggak bisa berharap banyak selain dapat kode-kode istimewa. Saya nggak bilang skandal – di samping kurang cocok untuk ukuran contek-mencontek, tapi UN selalu melahirkan insan-insan kreatif. Jiah!

Mereka-mereka yang nerima donor, tentu nggak mau juga kan ngaplo tanpa kepastian kapan bisa nerima jawaban. Dibuatlah koordinasi apik. Yups, otak boleh ngepres, tapi merekalah penggagas ‘strategi perang’ menghadapi UN. Saking jitunya, masing-masing menyerahkan kode berbeda, hingga bikin si pinter keukeuh transfer jawaban. Hal yang paling indah saat momen-momen ini, di mana kita begitu erat bersatu, menyingsingkan lengan demi lulus bersama. Oh, Indahnyaaa 🙂

Di sisi lain, si pinter yang pelitnya minta ampun bakal nerima kutukan UN – begitu yang sering saya dengar saat sekolah. Entah karena sumpah serapah siswa satu kelas, karena tak punya tenggang rasa sama sekali, membiarkan temannya kesulitan saat UN (walau lebih cocok, keselahan sendiri-sendiri sih). Siswa-siswa model begini sering berakhir tragis. Di kala yang lain pada ingar-bingar merayakan kelulusan, eh nggak taunya si pinter malah bersedu-sedan karena justru nggak lulus UN. Kasian banget ya?

Makanya, selama sekolah saya berusaha jadi anak pinter yang gaul. Tetep membaur meski hobinya baca-tulis. Doyan bercanda walau mendadak serius saat pelajaran kimia, fisika dan matematika (maklum otaknya standar). Juga tak lupa bersosialisasi dengan ekskul dan berorganisasi, walau hobi saya nerbitin karya ilmiah. Alhasil, masa-masa sekolah saya benar-benar indah, penuh kesan, banyak teman dan yang paling penting bebas dari kutukan UN yang super sereum itu. Ihhh!

Ingat, sekolah bukan saja mencari nilai tinggi dan bisa lulus dari UN, tapi juga perlu menimba ilmu dan pengalaman hidup yang berharga, untuk tahapan selanjutnya. So, jika ada pilihan bisa gaul namun tetap pinter, kenapa nggak mencobanya? Sukses dengan UN-nya ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s