Molukken: Lumbung Rempah Indonesia Yang Mendunia

Peta Kuno Molukken

Peta kuno Molukken atau Moluccas (Hak Milik Foto Antique Maps of Southeast Asia)

Saat enak-enak berjalan, tiba-tiba ada orang asing yang menanyakan tentang Moluccas atau Molukken. Sejenak Anda mungkin akan tertegun dan pasti menjawab, “Ha, Moluccas?”. Bisa juga menanyakan balik, “Molukken? Yakin ada di Indonesia?”. Ketidaktahuan Anda bukanlah hal yang salah, karena selama mempelajari Geografi atau peta Nusantara, hampir tidak menemukan daerah atau mungkin pulau dengan nama tersebut.

Sebaliknya, pertanyaan ini juga bukan salah dari Si Penanya. Pasalnya, mereka tak banyak yang paham bahwa orang Indonesia lebih mengenal Maluku daripada Molukken atau Moluccas. Nah lho, kok bisa sampai Maluku? Benar saja, dalam peta Internasional beberapa nama pulau di negara kita banyak mengalami perbedaan. Seperti biasanya, Bahasa Inggris tetap menjadi acuan penulisan dalam semua kajian Internasional. Tak terkecuali tentang kajian pemetaan dunia.

Karena alasan inilah, beberapa daerah dan pulau di Indonesia memiliki nama yang berbeda sebagaimana yang kita ketahui atau pelajari di sekolah. Moluccas atau Molukken, begitulah masyarakat Internasional menyebut Maluku. Berdasarkan catatan sejarahnya, Maluku merupakan provinsi tertua di Indonesia. Bahkan, jika dirunut dalam lintasan sejarah, popularitas Maluku sudah lama menggelora sejak era kerajaan besar di Timur Tengah.

Bukti sejarah ini didasarkan pada temuan tulisan tanah liat di Persia, Mesopotamia hingga negeri Firaun saat itu, Mesir. Tulisan yang terpampang dalam pahatan serupa tablet dari tanah liat ini, menceritakan bahwa ada negeri yang sangat kaya raya di belahan dunia bagian Timur. Orang Timur Tengah pada saat itu menyebut negeri ini adalah tanah surga dengan hasil bumi yang cukup melimpah. Di antara hasil alam yang termasyhur kala itu berupa cengkih, emas dan juga mutiara.

Pulau Banda

Bentang Alam Maluku di Kepulauan Banda (Hak Milik Foto Izzy Travel Notes)

Merujuk dari bukti tersebut, daerah timur yang banyak menghasilkan tiga komoditas utama ini tak lain adalah Maluku. Sampai detik ini, tanah Maluku memang terkenal sebagai penghasil utama cengkih, pala, fuli dan juga mutiara di Indonesia. Lebih dari itu, beberapa tanaman ini memang endemik atau asli tumbuh dari beberapa daratan yang ada di Provinsi Maluku. Sebut saja, Pala dan Fuli yang banyak tumbuh di Kepulauan Banda, Provinsi Maluku.

Pala sendiri merupakan tumbuhan berbentuk pohon dan banyak dimanfaatkan sebagai rempah-rempah. Bagian buah dan biji merupakan produk pala yang memiliki nilai jual tinggi. Bahkan dalam ensiklopedia karya Plinius “Si Tua”, buah dan biji pala telah dijadikan komoditas ekspor yang sangat penting sejak zaman Romawi.

Biji Pala

Buah Pala, Fuli dan Biji Pala (Hak Milik Foto Wikipedia)

Buah Pala memiliki bentuk serupa lemon, berwarna kuning serta daging buahnya beraroma khas yang mengandung minyak atsiri. Dalam satu buahnya, pala menghasilkan satu biji tunggal berwarna cokelat. Nah, biji pala ini terbungkus oleh selaput berwarna merah yang selanjutnya dikenal sebagai Fuli. Sebelum dipasarkan, fuli dipisahkan dari bijinya dan dijemur antara enam hingga delapan minggu. Setelah mengering, isi biji pala akan menyusut dan kulit biji akan pecah. Biji pala inilah yang akhirnya akan diperdagangkan.

Demikian pula dengan cengkih yang juga menjadi komoditas utama Maluku. Bedanya, cengkih lebih mudah ditemukan di Ambon dan Pulau Lease yang terdiri dari Pulau Saparua, Haruku dan Nusa Laut. Sebagian lagi dapat ditemukan di Pulau Nusa Ina. Bila pala banyak diperdagangkan dalam bentuk buah dan bijinya, maka cengkih lebih banyak diperdagangkan bunganya.

Cengkih.jpg

Bunga cengkih tumbuh di pucuk tangkai daun (atas) dan bunga cengkih kering siap jual (bawah) (Hak Milik Foto Panoramio dan Wikipedia)

Posisi bunga cengkih ada di pucuk tangkai daun. Bunga-bunga ini akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5 sampai 2 centimeter. Uniknya, aroma harum pada cengkih ditemukan pada tangkainya, terlebih usai dikeringkan. Rasanya yang pedas kerap menjadikan flora identitas Provinsi Maluku Utara ini sebagai bumbu pedas di Eropa. Sedangkan di negeri kita, cengkih telah lama digunakan untuk melengkapi bumbu rempah dalam kuliner khas Indonesia.

Tak berhenti dalam dunia kuliner saja. Seiring dengan perkembangannya rempah-rempah legendaris ini juga banyak digunakan dalam produk lain. Salah satunya adalah rokok. Sebagai salah satu produsen rokok kretek terbesar di dunia, Indonesia memiliki identitas tersendiri dalam setiap produknya. Mayoritas rokok kretek Indonesia selalu memiliki aroma rempah khas seperti cengkih. Benar saja, rempah yang satu ini memang sudah lama dikenal sebagai bahan baku utama rokok kretek Indonesia.

Monumen Christina Martha Tiahahu

Monumen Christina Martha Tiahahu menjadi landmark kota Ambon. Christina merupakan salah satu Pahlawan Nasional Wanita asal Ambon. (Hak Milik Foto Defence)

Perjalanan sejarah yang panjang telah membuktikan bahwa rempah-rempah Indonesia, khususnya Maluku, telah lama menjadi harta karun penting dunia. Manfaatnya yang banyak dan khasiatnya yang melimpah bahkan mampu membuat para petinggi kerajaan hingga penjelajah dunia berbondong-bondong untuk memilikinya. Berulang kali tanah Maluku dijajah, tak sedikit pula kekayaan alamnya dijajakan ke antar benua. Untungnya, setiap saat para Tokoh Daerah dan para Pejuang Bangsa selalu gigih mempertahankannya.

Tiba masa sekarang, giliran kita untuk mengenal dan melestarikan. Para pekebun saja rasanya belum cukup untuk merawatnya. Diperlukan kerjasama para pemangku kebijakan dan dukungan rakyat Indonesia pada umumnya, agar pahlawan rempah Maluku ini bisa senantiasa sejahtera. Sebab, dari tangan merekalah Pala dan Cengkih berkualitas asal Maluku bisa tetap ada. Sebuah Mahakarya Rempah yang selalu membanggakan Indonesia.

Hebat kan? Maka dari itu, jangan malu-malu untuk menceritakan Gemah Rempah Mahakarya Indonesia lewat tulisan di mata dunia. Selamat berkarya juga, ya.

Advertisements

2 thoughts on “Molukken: Lumbung Rempah Indonesia Yang Mendunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s