Riwayat Hari di Hutan Kalimantan

Hutan Kalimantan

Hutan Kalimantan [Hak Milik Foto hifatlobrain]

Di pedalam hutan Kalimantan yang lebat, hiduplah dua ekor harimau jantan dan betina. Si jantan bernama Hari dan si betina bernama Ima. Kedua harimau ini hidup makmur dan bahagia di dalam hutan. Mereka bisa menemukan makanan dengan mudah, sehingga mereka tidak pernah kelaparan walau tinggal di dalam hutan.

Harimau termasuk hewan karnivora atau hewan yang suka memakan daging. Setiap hari, Hari dan Ima berburu bersama untuk menangkap mangsanya. Banyak sekali hewan yang hidup di hutan Kalimantan. Ada rusa hutan, babi hutan sampai orang utan. Selain itu, hutan Kalimantan memiliki tanah yang subur, karena mengalami hujan sepanjang tahun. Hasilnya, pohon yang tumbuh di hutan Kalimantan sangat besar, tinggi dan juga lebat.

Hewan di hutan sangat bermacam-macam. Hari dan Ima sangat gemar memburu tikus, babi dan rusa untuk dijadikan makanan. Mereka bisa berlari sangat cepat, sehingga sangat mudah menangkap mangsanya. Walau suka berburu hewan lain, Hari dan Ima sangat rukun. Mereka tidak pernah berantem soal makanan. Malahan, Hari dan Ima sangat senang berbagi satu sama lain.

Hingga suatu ketika, terdengar suara mesin gergaji yang berbunyi sangat keras. Saking kerasnya, burung-burung yang ada dalam hutan terbang berhamburan. Dari kejauhan, Hari dan Ima melihat pohon-pohon roboh dan tumbang. Mereka pun segera mencari tempat persembunyian sambil melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Ternyata, ada beberapa manusia yang sedang menebang hutan. Mereka memotong pohon-pohon yang besar yang ada di hutan Kalimantan. Padahal, pohon besar itu merupakan rumah banyak hewan di hutan. Manusia menebang pohon besar untuk dijadikan rumah mereka. Sayangnya, manusia menebang sangat banyak dan tidak peduli dengan kelestarian hutan. Akibatnya, Hari, Ima dan hewan lainnya menjadi kehilangan tempat tinggal.

Di saat yang sama, salah satu penebang pohon tersebut menemukan Hari dan Ima yang sedang bersembunyi. Si Penebang Pohon itu rupanya membawa senapan. Dia terus mengarahkan senapan itu ke Ima. Melihat hal itu, Hari langsung mengaum dan berkata, “Jangan sakiti kami. Kami tidak punya orang tua. Kami hanya ingin hidup tenang di hutan Kalimantan ini.”

“Bohong, kalian pasti ingin menerkam kami”, ucap si Penebang Pohon.

“Tidak. Kami tidak memakan manusia. Kami hanya memakan babi, rusa dah hewan kecil lainnya”, sahut Ima.

“Benar. Kami tidak makan manusia. Jadi, jangan sakiti kami”, kata si Hari.

“Kalau begitu, pergilah!”, suruh si Penebang Pohon kepada Hari dan Ima untuk pergi dan menjauh dari mereka.

Namun, Hari yang merasa para penebang pohon itu merusak rumah mereka, bertanya terlebih dahulu kepada si Penebang Pohon. “Sebentar, saya ingin bertanya?”, kata si Hari kepada Penebang Pohon. Ima pun berhenti melangkah saat mengetahui Hari bertanya kepada si Penebang Pohon.

“Kenapa kalian merusak rumah kami?”, tanya si Hari.

“Kami membutuhkan kayu dari pohon ini untuk rumah kami”, jawab si Penebang Pohon.

“Kenapa harus semua pohon yang ditebang? Di Hutan Kalimantan, satu pohon bisa menjadi rumah bagi banyak hewan”, Hari bertanya kembali.

“Jumlah manusia sangat banyak, kami tidak bisa membangun rumah dengan satu pohon saja. Kami membutuhkan banyak pohon untuk hidup”, si Penebang Pohon menjawab Hari.

Hari pun mulai menundukkan kepala dan berkata untuk terakhir kalinya.

“Ketahuilah, hidup kami bergantung dari hutan Kalimantan ini. Sama seperti kalian yang membutuhkan kayu dari pohon untuk tempat tinggal, kami juga membutuhkan pohon untuk berteduh saat hujan dan istirahat saat malam hari. Kalian merusak hutan kami, tetapi tidak pernah mau menanam pohon kembali. Saat kalian bisa hidup dengan tenang di dalam rumah, di sini kami kehujanan dan kepanasan karena semua pohon banyak yang ditebang. Apa kalian pernah berpikir tentang kelangsungan hidup kami?”, kata si Hari dengan penuh kekecewaan.

Mendengar perkataan Hari, si Penebang Pohon tampak sedih. Ima pun sempat menangis saat melihat Hari bicara. Sementara, dari kejauhan penebang pohon lain melihat kawannya sedang berhadapan dengan harimau. Dia mengira si Penebang Pohon tersebut dalam bahaya dan langsung menembak Hari.

“Duarr!”, bunyi senapan penebang pohon tersebut. Hari pun langsung jatuh ke tanah.

“Hentikan!”, teriak si Penebang Pohon kepada temannya. “Kenapa kamu membunuh harimau tak berdosa ini?”, ucap si Penebang Pohon dengan penuh emosi.

Sementara, Hari yang akan mati menyuruh Ima lari. Sambil menangis, Ima akhirnya lari dan masuk ke dalam hutan yang lebih lebat. Si Penebang Pohon merasa sangat sedih karena dia telah merusak rumah tinggal Hari. Dia juga merasa bersalah, karena temannya telah membuat Hari akhirnya harus meninggal dunia.

Sejak saat itu, si Penebang Pohon akhirnya memutuskan untuk tidak menebang pohon. Dia pun berjanji tidak akan merusak hutan lagi. Dia juga terus menanam banyak pohon baru, agar hewan-hewan bisa terus hidup di dalam hutan Kalimantan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s