Bermula Dari Sebuah Banner

PIMNAS

Penulis (paling kanan), Dosen dan Tim PIMNAS

Mimpi adalah buah pengharapan dari setiap insan. Masing-masing orang selalu berharap impiannya bisa menjadi kenyataan. Di sisi lain, mereka juga sadar bahwa mimpi tak bisa terwujud secara instan. Butuh proses dan perjuangan agar apa yang diimpikan dapat terwujudkan. Tak jarang, beberapa orang tumbang di tengah jalan ketika mimpi idaman terasa mustahil untuk diwujudkan.

Sebaliknya, kesuksesan bisa diraih bilamana mereka sanggup untuk bertahan dan penuh kesabaran. Perjalanan meraih mimpi juga pernah saya rasakan. Sebuah keputusan terbaik yang justru tak pernah direspon oleh lingkungan sekitar. Meski proses tersebut amat panjang, tetapi semangat juang yang saya miliki justru tak pernah padam.

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional atau biasa dikenal dengan sebutan PIMNAS, bukanlah istilah asing bagi sebagian besar mahasiswa Indonesia. Setiap mahasiswa di seluruh nusantara pasti bermimpi untuk mencicipi salah satu ajang bergengsi level nasional negeri ini. Untuk bisa bergabung di sana, haruslah melalui tahapan yang dinamakan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Kompetisi ilmiah yang sarat gengsi ini selalu menarik minat mahasiswa untuk beradu kreativitas, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berawal dari ketidaktahuan dan membaca banner yang terpajang di area kampus. Spanduk yang berisikan ucapan selamat atas mahasiswa yang lolos ke PIMNAS memang sempat membuat saya tercengang. Seakan hati terdiam, perasaan takjub dan mata penuh binar, saya justru berharap agar kelak nama saya juga bisa tertulis dan terpajang dalam spanduk seperti itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, kesempatan pertama saya peroleh. Tahun 2009, pengumuman hibah PKM menyertakan nama tim yang saya ikuti. Ajang ini memang berbentuk kelompok penelitian dan tidak bisa diikuti oleh perseorangan. Walau posisi saya saat itu sebatas anggota, tetapi perasaan bangga begitu menggelora. Maklum saja, kesempatan seperti ini jarang dialami oleh mahasiswa baru seperti saya.

Bersama ketua tim, kami berproses semaksimal mungkin. Sayangnya, keberuntungan belum menyertai tim ini. Kami harus merasa puas mendapatkan hibah, setelah gagal di tahap monitoring dan evaluasi (MONEV), semacam tahap presentasi awal. Namun demikian, kegagalan tersebut tidak serta merta menjadi rintangan untuk merasakan euforia PIMNAS.

Mencoba mengambil keputusan terbaik, PKM baru mulai saya buat di tahun kedua kuliah. Tidak tanggung-tanggung, posisi ketua tim dengan berani saya pilih. Sebagai pengalaman perdana, tentu saya tidak gegabah dalam menjalaninya. Jika ada yang kurang saya pahami, tentu saja akan bertanya kepada dosen atau senior yang lebih berpengalaman. Belajar dan usaha keras pun terus saya lakukan agar bisa meraih impian.

Upaya dan perjuangan keras dengan mengirim PKM secara rutin terus saya lakukan. Tapi, apa daya ketika Tuhan belum memberikan kesempatan. Semenjak tahun kedua kuliah hingga tiga tahun berlalu, karya yang saya kirimkan belum pernah berbuah kegembiraan. Tak satupun yang mendapatkan hibah. Sontak, rasa putus asa sempat ada pada keputusan yang saya anggap baik pada mulanya.

Evaluasi pun coba saya jalani. Berpikir keras akan kesalahan apa yang membuat saya selalu gagal sembari terus menulis beragam karya dan kreativitas baru. Mengandalkan secuil harapan demi menikmati ajang kebanggaan mahasiswa ini, membuat PKM terus saya lalui hingga mendekati masa akhir kuliah. Bahkan, rasa pesimis kian membumbung tinggi dan berpikir Tuhan mungkin tidak menakdirkan PIMNAS bagi diri ini.

Bukan Tuhan jika tidak piawai memberikan kejutan. Pada tahun 2012, hibah PKM akhirnya bisa saya dapatkan. Bagi saya, ini adalah kesempatan akhir yang tidak boleh disia-siakan. Perjuangan pun kami mulai. Dengan belajar dari kegagalan sebelumnya, saya dan tim mencoba memberikan tampilan dan kreasi sebaik mungkin. Akhirnya, tiket PIMNAS 2013 pun sukses kami dapatkan. Bertabur haru dan kebanggaan, kemeriahan ajang bergengsi mahasiswa Indonesia ini bisa saya rasakan.

Dewan Juri

Penulis (paling kiri), Tim dan Dewan Juri PIMNAS

Setelah merasakan kegembiraan itu, rasanya kurang puas jika saya tidak menang. Sadar dari kampus kecil yang tidak diunggulkan, membuat saya dan tim anti gentar. Sebaliknya, kami mencoba berjuang hingga titik darah penghabisan melawan beragam kampus unggulan. Bermodalkan ‘bismillah’, kami tampil dengan penuh talenta. Menyihir setiap pasang mata yang ada, tak terkecuali para dewan juri. Kami memang tidak berharap yang berlebihan, mengingat para pesaing kami begitu tangguh. Rasa besar hati pun kami siapkan tatkala mendengar segala keputusan dari dewan juri.

Bisa mencapai PIMNAS 2013, bagi saya sudah lebih dari cukup. Namun, Tuhan ternyata memberikan lebih dari yang saya harapkan. Tiga tahun adalah waktu yang harus saya tempuh agar bisa mendapatkan janji Tuhan tersebut. Pantang menyerah dan berpikir positif terhadap segala kejadian yang ada adalah kuncinya. Perjuangan dan usaha keras yang saya lakukan diganjar Tuhan dengan juara favorit PIMNAS 2013. Sebuah hadiah melebihi apa yang saya impikan selama ini.

Dari sini, saya mulai paham bahwa sukses itu butuh proses.

Setiap proses butuh perjuangan dan setiap perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. Kegagalan yang kita terima bukan karena Tuhan tak suka pilihan kita. Tapi, Tuhan selalu berharap agar kita bisa mengusai dan bertanggungjawab atas segala mimpi yang kita pilih.

Nama saya pun akhirnya bisa terpampang pada banner PIMNAS dan lulus dengan gemilang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s